Yakin ‘benernya’ udah bener ? hihiw

Yaak, sudah sampai lah fasa hidup pada suatu periode yang bernama PERIODE KERJA PRAKTIK KULIAH. Suatu masa yang memberi vibe yang lain dibandingkan rutinitas biasanya. Keadaan pikiran yang hampa serta jiwa yang kosong seringkali menyergap selama periode hidup ini.. tapi jangan salah paham dulu nanti aku dikira jomblo ngenes lagi (well that’s fine), bayangkan aja ketika siang hari diri ini harus berpanas-panasan mengelilingi eks proyek kebanggaan Pak Harto dan Orde Baru nya lewat taring Sudono Salim (re : Pabrik Semen Tiga Roda yg sekarang jadi Indocement), belum lagi paru-paru ini harus jadi dust collector yang profitnya kebanyakan lari ke Jerman. Sorenya kami pulang bersama syahdu nya bus kota (di sini nyebutnya ‘elf’ / ‘elep’) 2 ribu-an, lalu bersama sohib KP terbaik bangsa si Stephen Ariel jajan streetfood Palimanan, menenggak kebahagiaan hakiki dalam segelas es kelapa 3ribu-an, terus pulang dalam damai bersama kumandang adzan maghrib. Hidup indah dan berwarna hingga titik ini.

Malam, sesampainya di kosan Stephen Ariel langsung asyik dengan youtube dan channel-channel sesembahan wibu nya, padahal di kosan kami tidak ada wifi gratis, tapi memang kebetulan sohib aku ini adalah wibu yang cukup royal dalam hal kuota internet. Di sebelah nengok kehidupan Tika dan Rinda yang udah tenggelam sama drakor dan berita Song Joong Ki yang mau nikah, nampaknya agak gimana gitu kalo sok asyik nimbrung ke kamarnya.

Ngga ada pilihan lain, daripada larut dalam kehampaan, nampaknya pilihan untuk memanggil ‘aku’ yang lain, alias bermonolog, merupakan pilihan yg bijak. Ya monolog, aku bertanya kepada ‘aku’, dan ‘aku’ pun menjawab, begitu pula sebaliknya. Kebetulan akhir-akhir ini aku dan ‘aku’ sedang asyik membahas tentang penyampaian sebuah kebenaran.

Menyampaikan kebenaran ini menurut ‘aku’ ternyata tidak bisa terlepas dari tingkat kebenaran dari ‘kebenaran’ yang kita yakini tadi. Waduh

(Tentunya sebelum kita buru-buru mikir tentang gimana caranya nyampaikan kebenaran, ada baiknya kita sudah memastikan bahwa kebenaran yang akan kita sampaikan itu benar-benar ‘benar’.)

Oke satu per satu ya. Siapa sih yang mau mendengarkan nasehat bijak yang bunyinya “kamu jadi orang jangan sombong, jangan menggurui ya im” yang disampaikan dengan nada menodong dan merendahkan serta mencemirkan seolah-olah kita adalah makhluk paling hina (sorry lebay)?

Jawaban ‘aku’ atas pertanyaanku “sudah yakinkah kamu kalau ini adalah hal yang benar” selalu “harus dibuktikan melalui pendekatan kebenaran ilmiah”. Kebenaran ilmiah baru terjadi ketika suatu kebenaran tersebut telah teruji secara logika dan empiris. Seringkali kita terlalu cepat menyimpulkan suatu kebenaran hanya dari sisi logika saja, namun lupa untuk mendekatinya secara empiris (empiris yang dimaksud di sini berarti pernah diterapkan dan ternyata kebenaran tersebut memang benar-benar ‘benar’ dalam penerapannya).

Seorang ‘pendakwah kebenaran’ #asek tentunya ngga boleh menyampaikan ‘kebenaran serampangan’ yang belum teruji secara ilmiah bukan ? Maka dari itu aspek pendekatan empiris ini ngga boleh lupa. Gimana caranya ? katanya si ‘aku’ sih tinggal terrapin aja kebenaran hasil sintesis logika kita pada lingkungan yang sedang ‘didakwahi’, karena hanya dengan seperti itu aspek empiris akan terpenuhi. Pembenaran bahwa ‘pendekatan empiris sudah pernah dilaksanakan oleh orang lain pada kesempatan lain di tempat lain’ tidak akan berlaku karena ‘faktor X’ yang bekerja pada lingkungan tersebut belum tentu sama dengan yang dihadapi di lingkungan ‘dakwah’. Hal-hal tadi biasanya oleh buku ‘1000 kata-kata bijak’ sering disimplifikasi menjadi kalimat ‘1 teladan lebih baik daripada 1000 nasehat’, ‘gajah di pelupuk mata tak tampak’, ‘perubahan dimulai dari diri sendiri’, dan berbagai kalimat lain yang lebih mengetuk hati tentang keteladanan hehehehe.

Jadi saya anggap bahwa melakukan keteladanan bukan bagian dari ‘menyampaikan kebenaran’, tapi justru masih menjadi bagian dari ‘mensintesis kebenaran’ tadi.

Dan saat melakukan pendekatan empiris ini, di sini lah letak untuk memasukkan ‘material mentah’ berupa perasaan dan baper-baperan lingkungan dalam mensintesis kebenaran ini.

Untuk pendekatan logika, pasti temen-temen udah jago sih. Di sini sejauh ‘aku’ mengetahui, yang terpenting dari pendekatan logika adalah kelengkapan informasi yang dimiliki serta kemampuan menentukan prioritas informasi yang digunakan apabila terjadi kontradiksi.

Dengan pemikiran ‘aku’ yang masih cetek, aku pun percaya pada ‘aku’ bahwa kebenaran akan benar-benar benar ketika sudah logis dan terbukti secara empiris. Jadi masalah sintesis kebenaran cukup sampai di sini.

Lalu soal ‘gimana menyampaikan kebenaran’, setelah aku membantai ‘aku’ untuk berpikir keras, ‘aku’ hanya bisa menjawab : Ketika Ia benar, maka Ia pasti diterima, Just do the right things and the world will adjust kalo kata Ridwan Kamil. “Ah masa si ku, sering kok waktu ngestate kebenaran tapi malah ditolak mentah-mentah sama lingkungan”, sanggahku kepada ‘aku’. Kemudian ‘aku’ pun menjawab “iya emang sering, sering kejadian kalo kita lupa melakukan pendekatan empiris sama si kebenaran lo itu tadi”. Hemmm, itu artinya ‘kebenaran’ yang aku sampaikan tadi belum benar ya ku ? “yoi”.

Oke-oke pasti saat ini kita akan diputar pada pertanyaan “jadi, tidak ada yang namanya kebenaran absolut ? kebenaran selalu bergantung pada kondisi lingkungan yang didekati secara empiris tadi ? “. Hemmmm saat ini ‘aku’ masih percaya bahwa tidak ada kebenaran absolut, yang ada adalah kebenaran pada situasi dan kondisi ideal yang mana pendekatan logika tidak tergoyangkan oleh pendekatan empiris saat mensintesis ‘kebenaran’.

Ketika kebenaran logika terus dijunjung, ketika kebenaran absolut terus ditekankan pada kondisi yang tidak ideal tanpa kompromi, maka ‘aku’ pun mengucapkan : selamat beronani pikiran, selamat menikmati kebenaran dalam dunia kita saja, benarmu hanya untuk diriumu dan berpuaslah pada benarmu yang tidak akan menolong orang itu, dan jangan lupa buat lambaikan tangan ketika mulai tenggelam !

Kya

NB : Tulisan ini murni dibuat sebagai ‘pengingat’ bagi penulis untuk menerapkan apa yang ada dipikirannya, sehingga antara pikiran-perkataan-dan perbuatan dapat selaras. Penulis takut kalau lupa akan pikirannya sehingga menurut penulis bagus apabila ditulis, sesuai pepatah ‘menulis untuk keabadian’ heheheh, atau kalo ga abadi ya seenggaknya bisa ‘lebih tahan lama’ lah heheh. Monggo kalo mau nyiyir, malah syukur dapet temen diskusi :D

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Muhammad Amin Zaim’s story.