Beberapa waktu lalu saya menghadiri “Single Shot for The Sherrif” semacam farewell party-nya abang saya, Agus Riyadi alias Pengky, seorang manusia yang kadar ndlogok-nya di atas rata-rata. Singkat cerita dalam semacam farewell party itu saya hanya menjadi bagian P3K sekaligus tukang bersih-bersih dan tukang angkut (manusia), dan sisanya menjadi pasien saya sekaligus tukang sembur. Tapi ternyata di akhir acara itu saya mendapat sebuah pelajaran yang menurut saya cukup mahal harganya. Tentang “Get A Life” dan “Game Over“.

Setelah semua sisa jackpot bersih, mas Galih, seorang teman yang saya anggap sebagai seorang yang tahu perihal tata cara bersenang-senang datang menghampiri saya. Saya kira hanya sekedar menyapa atau mengucapkan: “selamat tinggal, sampai jumpa party selanjutnya”. Teman, well, kenalan atau senior lebih tepatnya, saya satu ini juga adalah seorang drummer mumpuni. Saya dengan bangga bisa bilang kemampuan menggebuk drum-nya terbaik di antara drummer-drummer kenalan saya. Yang mengejutkan adalah , ternyata, sambil menyalami saya dan teman saya, mas Imam, dia bilang: “Man, makasih ya. Mungkin ini terakhir kalinya aku main di sini (bareng kamu semua).”

Sik.. sik.. (ntar dulu..) Apa-apaan ini? Saya mendapat kesan dia bakal hilang dan tidak akan muncul lagi dalam kehidupan kami. Seriously, kata-katanya membuat saya merinding.

“Maksudmu opo mas?”

“Yah, udah saatnya aku get a life?”

“Hah?”

“Ntar koe juga bakal sampe di suatu titik di mana kamu berpikir ‘udah saatnya aku punya kehidupan sendiri’. Kehidupan yang real.”

“…..”

Dan abang saya satu itu kemudian melenggang pergi, dengan sempoyongan karena efek alkohol.

***

Dari situ kemudian saya berpikir, apa itu hidup? Saya tidak mau terlalu jauh menafsirkan kata hidup sampai tataran religius spiritual. Maksud saya adalah hidup dalam artian praktis. Hidup yang real yang dimaksud abang saya tadi yang seperti apakah? Hidup yang isinya cuma mengikuti isi hati apa tidak bisa dibilang hidup? Apa maksudnya: hidup adalah yang serba serius dan monoton?

Di dalam perjalanan hidup pasti pernah terbersit, saya terlalu banyak senang-senang. Sudah saatnya saya memikirkan kehidupan ke depannya. Bekerja. Berkeluarga. Ber”manfaat”. Sebuah hidup yang menurut saya bakal monoton dan kering. Kehidupan yang berujung-pangkal pada manfaat praktis, uang-kesejahteraan-pangkat. Bahkan saya berpikir bahwa titik ini adalah ketika seseorang meninggalkan mimpinya dan meletakkan idealismenya. Saya jadi ingat Tan Malaka pernah bilang “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki seorang pemuda”. Jadi menurut paham saya dari kata-kata Tan: seiring dengan pendewasaan, karena saya mendefinisikan pemuda sebagai seorang yang belum sepenuhnya dewasa, maka kemewahan terakhir ini akan hilang. Suatu titik ketika seseorang menerima kenyataan dan dewasa.

Walaupun meninggalkan mimpi dan meletakkan idealisme tidak serta merta berarti membuang prinsip hidup, tapi kenyataan hidup terkadang membelokkan prinsip-prinsip itu. Dan saya tidak memungkiri bahwa seperti inilah yang ada dalam kepala orang tua saya, dan mungkin saya. Namun jika dewasa adalah meletakkan idealisme dan meninggalkan mimpi, maka saya sangat menolak dewasa. Entah sampai kapan dan sampai mana saya sanggup menolak. Saat idealisme sepenuhnya diletakkan dan mimpi ditinggalkan, saat inilah yang saya sebut sebagai titik “Game Over“.

Berbicara soal idealisme, idealisme adalah salah satu bentuk kesadaran, seberapa jauh kesadaran kita merefleksikan diri kita?

Ketika seseorang menyadari bahwa ia memahami bahwa dirinya berpikir dan mematok bentuk-bentuk ideal dari diri dan keadaan(realitas)nya. Maka kesadaran tadi membentuk sebuah idealisme. Namun begitu, kesadaran tadi bukanlah kesadaran yang sejati, sebab keadaan tadi yang membentuk kesadaran, bukan kesadaran yang menerjemahkan keadaan (realitas). Dengan kata lain kesadaran tadi telah mendistorsi keadaan (realitas). Maka idealisme adalah kesadaran palsu (false consciousness). Oke, terdengar familiar? Hahaha, itu teori Marx tentang Ideologi; tidak perlu saya jelaskan tentang beda ideologi dan idealisme kan? Saya meminjamnya untuk memperjelas fase “game over“. Maka bukan berarti “game over” berarti buruk. Sesuatu yang palsu bukankah memang lebih baik kita hindari? Lalu apakah saya nyaman-nyaman saja meninggalkan kesadaran palsu tadi? Entahlah, kesadaran untuk meninggalkan kesadaran palsu tadi belum datang pada saya. Dan saya dengar terkadang kesadaran ini datang seperti wahyu yang menghantam pikiran dengan tiba-tiba. Terkadang kesadaran ini datang dengan pematangan dan perhitungan seksama. Tapi yang jelas saya yakin-seyakin-yakinnya bahwa setiap manusia akan menemui kesadaran ini. Lalu siapkah kita menyambut itu? Mari kembalikan pada diri kita masing-masing. Get a life dab dan cepatlah game over!

*ndlogok = gila (in a good way. Uhmm, not that good though)