Ignorance is a bliss. Or it isn’t?

Mungkin salah satu fitur tahun 2016 yang paling menakjubkan adalah bagaimana cara beliau membuat orang berpikir dua kali dalam segala sesuatu, atau tidak sama sekali.

Mungkin salah satu fitur tahun 2016 yang paling menakjubkan adalah bagaimana cara beliau membuat orang berpikir dua kali dalam segala sesuatu, atau tidak sama sekali.

Sekarang adalah zaman di mana informasi berseliweran di mana saja, kapan saja, sampai kita semua kewalahan. Tidak salah juga kamus setulen Oxford menyatakan Word of the Year 2016 adalah “post-truth”, yakni suatu keadaan di mana fakta objektif mempunyai peran lebih sedikit dalam membentuk opini publik dibandingkan ‘kepercayaan’ personal. Hal ini sangat memprihatinkan karena keadaan post-truth ini dapat berujung pada fitnah, kebohongan, dan ketidakbenaran.

Sehingga, salah satu cara kita untuk melarikan diri dari semua kungkungan abstraksi ini adalah dengan menutup mata, menutup telinga, dan menundukkan kepala — tidak acuh dengan segala hal yang terjadi. Ignorance is a bliss. Bahwa ketidaktahuan ini adalah sebuah berkah. Kalau kita tidak tahu tentang suatu hal, kita tidak perlu mengkhawatirkannya, begitu bukan? Tapi menurut saya pribadi, tentu ada posisi di mana kita tidak bisa menjadi seseorang yang tinggal diam dalam keramaian, membeku di tempat, dan tidak beranjak memilih pihak.

Keingintahuan sudah mendasari hakikat manusia sejak spesies ini hidup di muka bumi — segala hal yang berkaitan dengan bertahan hidup berasal dari rasa ingin tahu. Sesederhana nenek moyang terdahulu bertanya apakah suatu tumbuhan bisa dikonsumsi atau tidak, hingga mengapa suatu komet hanya muncul setiap 70 tahun sekali.

Keingintahuan yang proporsional dan pada tempatnya ini memiliki suatu implikasi, yakni tentu bertambahnya pengetahuan. Tetapi, salah satu yang perlu diperhatikan apakah kita mempunyai kebijaksanaan dalam mengelola pengetahuan tersebut. Di luar dari itu semua, alasan mengapa keingintahuan ini mempunyai peran esensial adalah untuk mencegah kejadian post-truth ini tidak terulang lagi.

Sebagai contoh, misal ada suatu school of thought yang dimiliki oleh suatu kepercayaan. Kelompok mayoritas dari kepercayaan tersebut secara umum berkata bahwa pemikiran tersebut bertentangan, dan menghakiminya secara sepihak secara ekstrem. Tetapi, kebanyakan dari kelompok mayoritas tidak tahu menahu tentang sejarah, detil, dan konsep dari school of thought tersebut. Sehingga, yang terjadi adalah bandwagon fallacy — yakni kesalahan berpikir di mana suatu argumen disebut valid hanya karena mayoritas orang-orang menyetujuinya.

Memang, urusan benar-salah adalah urusan yang sangat relatif dan abu-abu. Tetapi, hal tersebut bisa ditinggalkan sejenak karena yang lebih fundamental adalah bagaimana cara kita memandang kedua sisi tersebut secara simetris. Bagaimana cara kita mengkaji terlebih dahulu, entah dengan membaca atau bertanya kepada orang yang terpercaya. Setelah kita mendapatkan pandangan yang simetris, setelah itu baru kita boleh beranjak dalam menentukan sikap, pihak, atau pandangan.

Dari semua gagasan tersebut, memang tidak selamanya ketidaktahuan adalah sebuah berkah. Tujuan manusia berada di bumi adalah untuk menjadi pewaris, di mana kita semua mempunyai tanggung jawab untuk merawat dan menghindari kerusakan bumi dalam segala aspek. Semuanya harus dijaga dan diperhatikan dengan baik, sampai hal sekompleks pola pikir. Hal inilah yang senantiasa harus diingat, di mana keinginan untuk mencari kebenaran, hikmah, dan kebijaksanaan selalu dibangun.

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah atas segala yang terjadi.

2017

“Read! In the Name of your Lord, Who has created (all that exists).” 96:1