Tanpa Kata

Persepsi yang ditangkap oleh indera manusia berasal dari berbagai sumber, entah itu berupa rasa, imaji, suara, atau getar. Mungkin salah satu dominasi yang terjadi antara sumber-sumber tersebut dipegang oleh imaji, karena persepsi yang dapat diciptakan dari sumber tersebut tak terhingga jumlahnya.

Imaji yang diterima oleh mata kita sebenarnya adalah sekadar proyeksi cahaya yang dipantulkan oleh benda tersebut. Tidak nyata, dalam beberapa hal khusus. Hal ini mungkin agak berbeda dengan sumber persepsi lain, tetapi inilah yang membuat imaji menjadi hal yang menarik untuk dipelajari. Dari seberkas pantulan cahaya, seorang penulis bisa terinspirasi. Sebuah karya bisa diciptakan dari tangan pelukis. Ilmu bisa kembali diestafet kepada penerus generasi. Tapi, dari cahaya itu juga, sebuah pemberontakan bisa meletus. Keinginan berbuat buruk menyala.

Tetapi, cahaya tidak pernah salah. Persepsi yang disalahgunakan. Manusia-lah yang mempunyai kendali untuk menciptakan persepsi. Kuasa yang diberikan, tetapi sekarang banyak yang menggunakannya dengan semena-mena.

Pertanyaan yang menarik untuk diajukan adalah, bagaimana kita bersikap terhadap persepsi kita? Apakah persepsi tersebut muncul murni karena sumber tersebut? Atau dalam konteks ini, murni karena imaji tersebut? Di samping itu, apakah persepsi yang muncul dipengaruhi hal lain?

Penulis di sini tidak akan memakai argumen-argumen filosofi semacam epistemologi atau apapun (karena sesungguhnya tulisan ini tiba-tiba muncul saja) tapi akan lebih kepada beberapa kontemplasi yang akhir-akhir ini sering datang di waktu yang tak diduga-duga. Bahwa sesungguhnya persepsi yang dimiliki oleh setiap individu sangatlah bervariasi. Kita selalu melihat dalam lapisan dan kedalaman yang berbeda-beda. Mungkin seseorang melihat kejadian pengemis yang duduk di tepi jalan sebagai suatu pemandangan satu-dimensional — di mana pengamat hanya menempatkan dirinya di luar ‘kerangka referensi’. Tetapi, ada juga yang mungkin dapat mempersepsikan pemandangan tersebut ke dalam lapisan yang lebih dalam. Dari berbagai dimensi. Dari bermacam-macam sudut pandang.

Masalah yang sering muncul adalah ketika persepsi yang berbeda kedalaman tersebut berbenturan dan tumpang-tindih. Pengamat dapat membenarkan apapun dan menyalahkan apapun. Di sini sulit ditemukan titik temu yang sejajar, di mana persepsi yang muncul mendekati realita sebenarnya. Pada kejadian-kejadian seperti inilah sifat dialogis perlu untuk di asah. Bagaimana seseorang, yang mungkin memiliki persepsi yang lebih ‘dalam’, dapat membimbing orang lain yang mempunyai lapisan sudut pandang yang dangkal. Di sini juga perlu ditekankan, bahwa ketidaktahuan tersebut bukanlah suatu hal yang perlu dicemooh. Orang yang mempunyai pengalaman yang lebih tersebut yang seharusnya berkewajiban untuk membimbing. Sehingga, persepsi-persepsi dangkal yang ada di masyarakat bisa berkurang dan berimplikasi pada society yang dapat menyikapi segala hal dengan lebih baik.

Memang, untuk membangun persepsi yang mendekati realita, dibutuhkan pengalaman dan keterampilan khusus, keterbukaan, serta pemikiran yang kritis. Mau bagaimana lagi, imaji yang disajikan dunia tidaklah bertuliskan kata-kata. Semuanya harus berdasarkan bagaimana kita memaknainya.

2016