Peliknya Kemacetan Thailand
Kota besar selalu dikaitkan dengan kemacetan. Kemacetan menguras waktu, tenaga, dan biaya. Adanya hambatan di jalan membuat masyarakat tiba di waktu tujuan lebih lama. belum lagi, tenaga yang harus dikeluarkan karena jam mengendara yang lebih lama dan beban mental di tengah kemacetan yang sering kali melelahkan. Biaya tambahan juga harus dikeluarkan karena kendaraan dalam kondisi menyala di tengah kemacetan sehingga, biaya untuk bahan bakar meningkat. Waktu, tenaga, dan biaya yang dikuras karena kemacetan menjadi terbuang.
Mari samakan persepsi mengenai kemacetan. “Kemacetan adalah Jika arus lalu lintas mendekati kapasitas, kemacetan mulai terjadi. Kemacetan semakin meningkat apabila arus begitu besarnya sehingga kendaraan sangat berdekatan satu sama lain. Kemacetan total terjadi apabila kendaraan harus berhenti atau bergerak sangat lambat.“ ( Ofyar Z Tamin, 2000 ). Kemacetan seperti supply dan demand. Kemacetan terjadi apabila kapasitas jalan penuh (supply) dan arus kendaraan (demand) di jalan terus meningkat sehingga jalan tidak dapat memenuhi kebutuhan ruang untuk semua kendaraan maka terjadi kemacetan. Banyak negara berkemmbang bahkan negara maju yang belum dapat menyelesaikan masalah kemacetan. Salah satunya negara Thailand dengan tingkat kemacetan terparah dunia. rata-rata masyarakat Thailand menghabiskan 61 jam setahun dalam kemacetan sedangkan masyarakat Indonesia menghabiskan waktu 47 jam berada pada dengan tingkat kemacetan ke-3 di dunia. (Marketwatch.com, 2017).
Thailand adalah negara berkembang dengan masalah pelik yang beragam mulai dari housing problem, waste management problem, dll. Namun masalah kemacetan adalah masalah yang sudah lama terjadi di Thailand dan solusi pemecahan yang telah dilakukan masih belum dapat menyelamatkan negara Thailand dari masalah tersebut. Pada tahun 1990 Thailand memperbaiki sistem transportasi umumnya dengan menambahkan mass transit systems. Pada tahun 1999 Thailand menambahkan Sky Train ke dalam daftar mass transit systems negaranya. Namun, cakupan wilayah skytrain belum begitu luas dan pemerintah menjamin akan melanjutkan pembangunan 5 tahun kedepan sayangnya rencana tersebut haru tertunda dari yang direncanakan.
Lima tahun berikutnya, 2004, Thailand membuka sistem kereta bawah tanah (subway). Pada tahun pertama tarif kereta masih lebih murah daripada skytrain. Memasuki tahun kedua tarif kereta menjadi lebih mahal dari skytrain sehingga terjadi penurunan penumpang dari 240,000 menjadi 150,000 (Dailynews, 2004). Ditambah lagi rute subway sebagian besar menuju rute yang sama dengan skytrain. Masyarakat Thailand lebih memilih menggunakan skytrain ketimbang subway (TastyThailand.com).
Pemerintah Thailand mengira masalah kemacetan di negaranya dapat terselesaikan dengan kedua sistem transportasi yang sudah dibangun. Pemerintah Thailand memperparah keadaan dengan memotong uang transportasi publik pada tahun 2006 di bawah pimpinan perdana menteri saat itu, Mr. Thaksin Shinawatra. Hingga saat ini kemacetan di Thailand masih terus menjadi masalah dalam negeri yang belum dapat terselesaikan.
Pendapat solusi
Solusi yang saya paparkan disini merupakan solusi yang dapat dicoba untuk menangani masalah kemacetan bersifat universal. Mobil menjadi status sosial bagi masyarakat Thailand sama seperti di negara lainnya. Hal ini membuat konsumsi otomotif terus meningkat. Bayangkan apabila masyarakat tidak melihat status sosial dari berapa banyak kendaraan yang digunakan. Lalu, negara “memaksa” masyarakat untuk menggunakan transportasi publik. Konteks memaksa disini dapat berupa penggunaan metode ganjil genap sehingga kendaraan yang memasuki area sibuk atau padat dapat terkontrol. Selain itu, perbaikan dan perencanaan transportasi publik yang lebih baik lagi dan dorongan penggunaannya akan menjadi stimulan bagi masyarakat untuk memilih transportasi publik menjadi kendaraan sehari-hari. Negara sebagai aktor paling penting untuk menangani masalah ini harus dapat membuat atau mengembangkan kebijakan kepemilikan kendaraan dan pembatasan kepemilikan kendaraan. tentunya hal itu dimaksudkan untuk membatasi kendaraan dan mengontrol jumlah kendaraan agar tidak melewati kapasitas jalan yang tersedia. Selain itu juga ada aturan yang keras untuk kendaraan yang parkir ditempat yang salah dan menyebabkan kemacetan.
Menghilangkan lampu merah telah diuji di beberapa negara. Pengemudi di lampu merah membutuhkan waktu untuk mengerem dan berjalan setelah lampu berwarna hijau. Memang waktu yang dibutuhkan tidaklah banyak. Namun, kebanyakan pengemudi tidak fokus dan memperpanjang waktu berhenti kendaraan di lampu merah. Sehingga dampaknya adalah domino effect yang membuat banyak kendaraan di belakang juga harus megulu waktunya pada lampu merah. Negara lain sudah mencoba untuk mengganti lampu merah dengan roundabout atau putaran sehingga tidak ada lagi kendaraan yang terhambat karena putaran tersebut. namun, ada kelemahan pada solusi ini putaran tidak ramah bagi pejalan kaki dan penyandang difabel karena apabila setiap persimpangan tidak menyediakan waktu jalan dan berhenti bagi kendaraan maka tidak ada waktu jalan bagi pejalan kaki dan penyandang difabel. kelemahan tersebut dapat diatasi dengan pembangunan area pejalan kaki di bawah persimpangan untuk persimpangan yang sibuk dan padat atau menggunakan sistem penyeberangan dimana pejalan kaki harus menekan tombol sebelum menyebrang.
sumber bacaan :
Admin. 2004. Bangkok Subway News 2001-2004. http://2bangkok.com/2bangkok-subway-opening.html
Muliana, Vina. 2017. 10 Negara dengan Kemacetan Terparah, RI Nomor Berapa ?. https://www.liputan6.com/bisnis/read/2864484/10-negara-dengan-kemacetan-terparah-ri-nomor-berapa