ALIH FUNGSI LAHAN DI BRASIL HARUS DIBAYAR MAHAL OLEH MASYARAKAT DUNIA
A. Alih Fungsi Lahan dan Perubahan Iklim
Dewasa ini, jumlah penduduk di dunia terus mengalami peningkatan. Data menunjukkan pertumbuhan tersebut berada pada angka 1,08% (Worldometers, 2019). Peningkatan ini terjadi pada tahun 2018 dengan jumlah penduduk 7,6 miliar menjadi 7.7 miliar pada tahun 2019. Peningkatan jumlah penduduk terjadi karena tidak adanya kontrol sosial dalam menekan laju tingkat pertumbuhan. Selain itu, jumlah angka kelahiran dengan jumlah angka kematian tidak seimbang atau mengalami ketimpangan. Ketidakseimbangan jumlah angka kelahiran dengan kematian tentunya menyebabkan permasalahan baru. Permasalahan tersebut merupakan permasalahan pemenuhan kebutuhan pangan.
Kebutuan pangan dunia akan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Peningkatan kebutuhan pangan ini tidak didampingi dengan peningkatan ketersediaan pangan. Perubahan iklim global menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi ketersediaan pangan. Kelangkaan pangan dunia (world food crisis) berkaitan erat dengan perubahan iklim global (global climate change) dan dinamika ekonomi global (Menteri Pertanian, 2012). Mengantisipasi adanya kelangkaan pangan akibat perubahan iklim global, negara-negara di dunia harus memiliki komitmen yang sama dalam menjaga agar tidak adanya perubahan yang signifikan.
Perubahan iklim merupakan hal yang pasti. Peran manusia dalam melakukan intervensi terhadap lingkungan, mempercepat terjadinya perubahan iklim dunia. Intervensi yang dilakukan oleh manusia bisa berupa perubahan penggunaan lahan. Perubahan penggunaan lahan merupakan perubahan yang dilakukan manusia terhadap sebuah lahan, seperti pembukaan hutan untuk digunakan lahan pertanian, pembangunan infrastruktur, panen kayu, dll (Mastel M., dkk. 2018) . Perubahan yang dilakukan tersebut tentunya memberikan dampak yang sangat besar terhadap berubahnya iklim dunia.
B. Deforestasi di Brasil
Perubahan penggunaan lahan merupakan hal yang tak dapat terelakkan lagi dalam pembangunan. Brasil merupakan salah satu negara dengan tingkat deforestasi yang tinggi. Pada tahun 2000 hingga 2009 laju tingkat deforestasi di Amazon rata-rata mencapai 17.486 km2 (The Instituto de Pesquisas Espaciais, 2010). Tidak hanya di Amazon, penggundulan hutan juga terjadi di negara bagian Brasil, Mato Grosso. Brazilian National Institute for Space Research (INPE) memperkirakan bahwa 38% dari deforestasi di seluruh dunia selama tahun 1999–2003 terjadi di Mato Grosso (INPE dalam Chomitz, 2007). Pada tahun 2015–2016, deforestasi di Amazon bertambah 29% atau sekitar 7.989 km2. Deforestasi tersebut masih terus terjadi hingga saat ini.
Deforestasi di Brasil telah menarik perhatian masyarakat dunia. Meskipun laju deforestasi di Brasil telah mengalami penurunan, tetap saja hal tersebut merupakan kenyataan yang cukup pahit. Amazon merupakan salah satu wilayah yang menjadi tapal batas agricultural paling aktif dalam hilangnya hutan dunia. Penebangan ini tidak jauh dari pengaruh faktor ekonomi. Hutan di kawasan pusat barat daerah Brasil telah diubah menjadi tempat penyokong hewan ternak dan kedelai. Perubahan tersebut membuktikan bahwa semua perubahan tersebut tidak dapat lepas dari pengaruh ekonomi, selain itu, kebijakan yang diberlakukan pemerintah juga tidak mencegah adanya pengalih fungsian lahan tersebut. Fakta menarik ditunjukkan oleh Greenpeace, bahwasanya perusakan hutan tidak jauh dari keterlibatan Restoran cepat saji, terutama Burger King (Greenpeace, 2019). Melihat deforestasi yang terjadi, semuanya tidakdapat lepas dari keterlibatan para pemiliki modal yang hanya ingin meningkatkan keuntungan pribadi.
Membahas mengenai faktor ekonomi dalam adanya deforestasi, terdapat fakta menarik yang menunjukkan adanya pemicu peningkatan deforestasi di Brasil. Pada tahun 1999 devaluasi mata uang Brazil yang jatuh hingga 50% atau lebih terhadap dolar Amerika membuat ekspor menjadi hal yang menarik. Kacang kedelai dan daging sapi yang dipasok dari cerrado di Mato Grosso mengelami kenaikan. Harga kacang kedelai yang semula $185 menjadi $277 di tahun 2004 (USDA, 2006). dalam upaya pengendalian penyakit kuku dan mulut meningkatkan harga ekspor daging sapi (Kaimowit dkk, 2004). Akibat dari peningkatan harga tersebut, ketika hutan ditebang seolah-olah yang muncul adalah uang. Harga lahan mengalami peningkatan dratis pada tahun 1999 dan akhir tahun 2004. Hingga pada tahun 2002 deforestasi di Mato Grosso menciptakan lahan pertanian dengan nilai $100 juta (Chomitz dan Wertz-Kanounnikoff, 2005). Data-data yang dipaparkan menunjukkan bahwa faktor ekonomi merupakan pendorong yang sangat kuat dalam adanya deforestasi.
Pemerintah Brasil tidak tinggal diam menangani permasalahan yang cukup krusial ini. Peraturan kehutanan di Brasil mencoba salah satu solusi yaitu mewajibkan para pemilik lahan untuk menyisakan 20–80 persen untuk dijadikan hutan lindung. Peraturan ini mengalami dilematik, dikarenakan tidak adanya tanggapan positif dari para pemilik lahan (Chomitz, dkk., 2007). Alasan ekonomi dan keuntungan masih lebih menggiurkan bagi mereka. Alasan lain datang dari pemerintah, dimana upaya penegakan peraturan mengalami kesulitan dalam melakukan pengawasan di negara yang luas tersebut.
Upaya yang dilakukan oleh pemerintahan Brasil tidak hanya berhenti disitu. Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan yang bertumpu pada revolusi teknologi dan intitusional dalam mengatur penggunaan lahan di miliki swasta di pedesaan yang dikenal dengan sebutan Rural Property Environmental Lincencing System (SLARP). Kebijakan ini memiliki menunjukkan tren positif dalam penurunan deforestasi (Chomitz, dkk. 2007). Penerapan SLARP sempat beberapa kali juga mengalami permasalahan, salah satunya adalah adanya tindakan korupsi yang dilakukan oleh pejabat-pejabat di Badan Lingkungan Negara Bagian Mato Grosso (FEMA). Korupsi yang dilakukan pejabat FEMA telah dilakukan penindakan dan FEMA sendiri mengalami perombakan. Setelah adanya perombakan, SLARP mulai kembali di terapkan.
Di Hutan Amazon, deforestasi juga mengalami penurunan. Tahun 2004, deforestasi yang terjadi mencapai 27.000 km2 dan menjadi 7000 km2 pada tahun 2009. Terdapat dua penjelasan yang digunakan untuk menjelaskan tren penurunan deforestasi tersebut, yaitu jatuhnya harga pertanian dan kebijakan konservasi yang dilakukan (Assuncao, dkk., 2012).

Analisis yang dilakukan Assuncao, dkk. pada tahun 2005 hingga 2009 menunjukkan bahwa lebih dari setengah penurunan deforestasi tersebut terjadi karena kebijakan konservasi (gambar 1). Penurunan tersebut mampu menghindarkan dari kehilangan 62.000 km2 area hutan, atau 2,3 miliar ton simpanan CO2 dengan perkiraan nilai $11,5 miliar.
C. Dampak terhadap Sistem Lingkungan
Sistem lingkungan yang awalnya dapat bekerja secara alami seketika mengalami perubahan dengan adanya intervensi manusia dalam memenuhi kebutuhan dan hasratnya. Deforestasi yang terjadi di Brasil tentunya memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan. Dampak yang terjadi tidak hanya rusaknya lingkungan di Brasil, namun juga mempengaruhi perubahan di berbagai belahan dunia. Beberapa perubahan yang terjadi akan dijabarkan lebih rinci dalam sub bab berikut.
a. Berkurangnya keanekaragaman organisme (biodiversity)
Deforestasi yang terjadi di Brasil tentu memberikan pukulan keras terhadap keanekearagaman organisme yang ada. Hutan amazon yang merupakan salah satu daerah yang memiliki macam organisme paling beragam (Wilson, 2002; Cardoso, 2005) mengalami ancaman dari fragmentasi dan degradasi lahan serta deforestasi (Haddad, dkk., 2015; Barlow, dkk., 2016). Perubahan bentuk lahan dari hutan menjadi lahan pertanian dan lainnya, tentu akan mempengaruhi fungsi lahan tersebut. Hutan yang memiliki fungsi sebagai tempat hidup berbagai macam organisme yang telah membentuk sistem lingkungan secara alami tentu akan mengalami ketidakseimbangan sistem yang berpengaruh terhadap kehidupan organisme tersebut.
Deforestasi yang dilakukan dengan melakukan pembakaran hutan tentunya akan membakar organisme yang berada dalam kewasan itu secara langsung. Selain itu, dampak dari kebakaran hutan adalah karbon yang tersimpan di hutan akan terlepas ke atmosfer (Archana K., 2013). Karbon yang terlepas ke atmosfer akan semakin mempercepat perubahan iklim yang ada. Sedangkan, perubahan iklim global tentu akan memberikan dampak terhadap organisme yang pada dasarkan mereka harus melakukan adaptasi dengan perubahan tersebut. Organisme yang tidak mampu melakukan adaptasi akan terelimintasi secara alami dan memberikan kerugian terhadap berkurangnya keanekaragaman organisme.
b. Pengaruh terhadap ketahanan pangan
Pertanyaan paling mendasar yang harus timbul dalam kajian ini adalah; Bagaimana bisa deforestasi yang dilakukan untuk peternakan malah memberikan dampak buruk terhadap ketahanan pangan dunia?. Perubahan iklim merupakan jawaban yang paling tepat guna menjawab pertanyaan tersebut. Berbicara tentang ketersediaan pangan, banyak pangan yang dipengaruhi oleh perubahan iklim. Perubahan iklim yang terjadi tentu akan memberikan dampak buruk juga terhadap ketahanan pangan dunia. Menurut Suriadi (2010) Perubahan iklim tentu akan mengganggu pertanian tanaman dan tentunya akan menurunkan produksi. Perubahan iklim yang terjadi diseluruh dunia ini sudah dapat dipastikan juga akan mengganggu penyediaan pangan di dunia. Selain itu, peternakan yang ada di Brasil hanya memberikan keuntungan bagi pemilik modal dan melahirkan para kapitalis baru.
D. Kesimpulan
Brasil merupakan salah satu negara yang mengalami tingkat deforestasi paling tinggi. Deforestasi di Brasil ditujukan untuk membuka lahan peternakan baru yang dimana sebagian besar menjadi pensuplai daging bagi restoran cepat saji. Deforestasi yang dilakukan dengan membakar hutan memberikan dampak ganda. Asap dari pembakaran hutan akan lebih mempercepat adanya perubahan iklim. Perubahan iklim yang terjadi juga akan memberikan dampak terhadap dunia. Sektor keanekaragaman organisme (biodiversity) dan ketahanan pangan dunia menjadi terancam.
E. Daftar Rujukan
Archana, K. 2013. Impact of Deforestation on Climate Change. Journal Of Environmental Science, Toxicology And Food Technology Vol. 4, №2. Dari: http://iosrjournals.org/iosr-jestft/papers/vol4-issue2/D0422428.pdf
Assuncao, J., dkk. 2012. Menurunnya Penebangan Hutan di Amazon Brasil: Harga atau Kebijakan?. Dari: https://climatepolicyinitiative.org/wp-content/uploads/
2012/03/Penebangan-hutan-di-Amazon-Harga-atau-Kebijakan-Ringkasan-Eksekutif-Bahasa.pdf
Barlow J., dkk. 2016. Anthropogenic Disturbance In Tropical Forests Can Double Biodiversity Loss From Deforestation. Nature 535: 144–147. Dari https://www.researchgate.net/publication/304581127_Anthropogenic_disturbance_in_tropical_forests_can_double_biodiversity_loss_from_deforestation/link/5776489708aeb9427e276e07/download
Chomitz, Kenneth M., dkk. 2007. Dalam Sengketa? Perluasan Pertanian, Pengentasan Kemiskinan, dan Lingkungan di Hutan Tropis. Dari: http://documents.worldbank.org/curated/en/937341468137710810/pdf/36789optmzd0IN101Official0Use0Only1.pdf
Chomitz, Kenneth M., dan Sheila Wertz-Kanounnikoff . 2005. Measuring the Initial Impacts on Deforestation of Mato Grosso’s Program for Environmental Control. World Bank: Washington DC.
Greenpeace. 2019. Flame-grilling the Amazon: Greenpeace UK climbers drop giant wildfire banners over flagship Burger King. Dari: https://www.greenpeace.org.uk/news/flame-grilling-the-amazon-greenpeace-uk-climbers-drop-giant-wildfire-banners-over-flagship-burger-king/
Haddad N.M., dkk. 2015. Habitat Fragmentation And Its Lasting Impact On Earth’s Ecosystems. Science Advances Vol. 1, №2. Dari: https://advances.sciencemag.org/content/1/2/e1500052
Kaimowitz, dkk. 2004. Hamburger Connection Fuels Amazon Destruction. Pusat Penelitian Kehutanan Internasional: Bogor.
Kementerian Pertanian RI. 2012. Road Map Diversifikasi Pangan 2010–2015. BKP-Kementan : Jakarta.
Mastel, M. 2018. Critical linkages between land use change and human health in the Amazon region: A. Dari: https://journals.plos.org/plosone/article/file?id=10.1371/journal.pone.0196414&type=printablescoping review
Suriadi. A. B. 2010. Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan di Jawa Barat (Climate Change and Food Security in West Java). Jurnal Badan Informasi Geospasial Globe Vol. 12 №1. Dari: http://jurnal.big.go.id/index.php/GL/article/download/116/113
The Instituto de Pesquisas Espaciais. 2010. Amazon Deforestation Database. INPE: São Jose dos Campos.
USDA (U.S. Department of Agriculture). 2006. Oilseeds: World Markets and Trade. Foreign Agricultural Service: Washington DC.
Wilson E.O. 2002. The Future of Life. Dari: https://epdf.pub/the-future-of-life.html
