Pasukan Buku

hananto_hanif
Sep 8, 2018 · 2 min read

Mataku kembali menatap laptop, sembari jemari menuliskan beberapa rintik kata. Buku di depanku masih terlihat rapi, berjajar bagai pasukan militer yang siap menenerjang musuh di depan ujung tombak. Mereka memang bukan pasukan bersenjata yang dilatih selama bertahun-tahun; lari setiap pagi, angkat besi tak pernah henti, sebelum istirahat dipukuli, pagi-pagi sudah dibentaki, atau tenggelam dalam lautan dengan kaki serta tangan diikat tali. Bukan, buku bukan seperti itu, namun hampir mirip bila kita tidak mengartikannya secara harfiah.

Buku layaknya pasukan militer yang siap menerjang kebodohan. Ia bertarung di malam hari, berkecamuk dalam hutan belantara, dengan berbagai senjata seadanya, yakni bekal dari pemerintah, lalu melakukan tarian perang yang mematikan hingga musuh-musuh berwajah kebodohan musnah. Berapa kali pun musuh berdatangan, buku selalu siap menerjang lawan. Sampai lumat dikunyah ratu, sampai habis dilahap raja. Namun perlu kau tahu, buku adalah pasukan spesial. Kekuatan satu tentara buku setara dengan berpuluh-puluh tentara kebodohan.

Namun sayangnya, seringkali tentara buku jatuh pada pemerintahan yang salah. Tak heran, jika kegelapan masih saja menyelimuti bumi. Buku digunakan sebagai tombak berlumur kejahatan, tumpul, namun cukup tajam untuk menghabisi cahaya sejahtera yang mulai redup bersamaan munculnya senja. Kini tombak berlumur darah itupun tetap saja berjalan, sambil menyebarkan cipratan-cipratan darah yang memicu para aktor untuk saling adu peran. Sekali lagi saya ingatkan, buku yang saya tulis tidak berarti harfiah, maka jangan bayangkan buku itu bertranformasi menjadi tombak berlumur darah.

Sampai sekarang, tak henti-hentinya kulihat buku masih saja berperang dengan berbagai medan dan impian. Mungkin takdir masih berjalan, membiarkan daun yang jatuh sampai ke tanah gersang, hingga tak tahu kapan akan ditiup angin yang tak kencang. Buku (di dunia) akan tetap ada sepanjang zaman, hingga bumi dan seisi dunia habis dilalap hari penghakiman. Semuanya akan berjalan sesuai takdir dan bermuara pada satu pusat saja; Tuhan. Buku adalah jendela dunia, maka mereka yang membaca seharusnya berani untuk melompat keluar melalui jendela.