
Selamat Malam, Serigala
Ufuk mentari membawamu datang
Kembali menyinari dedaunan lapuk yang merambahi hatiku
Kini kau menyisir lekuk-lekuk tanaman
Dan aku terpekur, mengagumi keindahanmu
Jangan kau kira aku tak ada
Meskipun aku tak pernah muncul
Dalam sudut-sudut matamu yang terlampau dalam
Dalam lorong telingamu yang menembus dimensi
Aku memang tak terlihat, namun aku terpekur
Berdiam diri saja, meresapi hutan belantaramu
Meski aku harus melompat dari jendela
Lalu menyusuri jejalanan yang gelap nan pekat
Meski aku tau bahwa aku awam dengan hutanmu
Namun aku tak takut bila harus tak memegang obor
Aku telah bersiap diri walau harus mati
Diterkam serigala yang tak pernah diinjak ekornya
Aku terus saja menyisiri, hingga pelupuk jiwa berlinang air
Terus melabrak pohon, meski hatiku mulai roboh
Aku tetap berjalan, meski harus terseok perkara kena duri
Hingga aku terdiam lagi, diterkam serigala malam
Surabaya, ketika hening isya menjemput
