Secercah Sinar Setelah Semarak Sukan
Kalam Kecil Kupu-Kupu Kampus
(Ngapain Ngulas Ngga Ngambis? Ng**tot)
Disclaimer :
Esai pendek ini memuat :
- Bahasa Indonesia dengan ragam diksi Jakarta. Namun, subragam yang dipakai ialah subragam Jakarta Timur (memiliki banyak kesamaan dengan subragam Bekasi Raya). Anda tidak akan menemukan banyak repetisi which is dan basically pada paragraf-paragraf berikutnya, sedangkan kata-kata kotor sewaktu-waktu akan muncul,
- Kecenderungan misinformasi jika ditemukan. Hal ini disebabkan oleh spontanitas penulis dalam mengejawantahkan apa yang ada di benaknya,
- Lebih banyak opini dan guyonan penulis daripada fakta karena esai kecil ini seyogyanya ialah hanya kolom kecil yang ingin diutarakan penulis dan setidaknya penulis tidak cuma buat akun medium saja,
- Penulis tipikal suka roasting ke segala kubu,
- Penulis netral, sama sekali netral, tidak memihak ke kubu manapun.
Siapa yang tidak merasakan euforia Asian Games kali ini? Bahkan meskipun saya yang kebetulan bernaung di Bandung saja dapat merasakan riuh ramainya Asian Games dengan setidaknya melihat jajaran bendera kontingen negara yang berkompetisi kali ini di Lapangan Gasibu atau setidaknya kaget menyimak berita bahwa deretan atlit antiwamil (lebih tepatnya Timnas Sepakbola Putra U-23 Korea Selatan, wkwkwk) singgah di Lapangan Saraga hanya untuk latihan (dan meminimalkan ruang gerak maba baik dalam OSKM maupun ambis latman olahraga) Hal ini tentunya merupakan semacam ganja di siang bolong, menenangkan netizen Indonesia Raya setelah masa huru-hara Pilkada dan sebelum masa perang bot Pilpres (meskipun kenyataannya ada saja celah bagi netizen untuk mengumpat dan berbacot ria) Namun, dari awal penetapan hasil bidding tuan rumah sampai selesai pun pasti ada saja sisi buruknya yang terlalu diekspos, apakah tidak ada hal positif yang dipetik?
Sejak penetapan tuan rumah akibat ketidaksanggupan Vietnam, netizen yang maha benar dengan segala cocotnya sudah mulai menaruh rasa sinis terhadap Pak Presiden, Joko Widodo, yang diisukan penetapan tersebut hanya berupa pencitraan, ya yang namanya netizen Indonesia yang Mahabarbar, lebih barbar daripada suku-suku yang dicap barbar oleh penduduk peradaban Yunani Kuno , selalu saja dapat mengintip lubang kasat mata sekecil apapun untuk diperoleh boroknya, padahal waktu penyelenggaran sudah dimajukan demi menghindari konotasi politik praktis level p*kim*k oleh berbagai simpatisan jika tetap dihelat pada 2019 (meskipun kenyataanya hal ini tak luput). Saya, seorang pathetically apatis, setidaknya cukup sumringah mendengar kabar tersebut. Seharusnya hal ini disambut dengan baik, mengingat pelancong asing dan aseng akan menggelontorkan rupiahnya ke segala lini masyarakat, dari pedagang asongan, calo (jika dibutuhkan), hingga korporasi perhotelan, untuk menikmati berbagai pertandingan untuk baku hantam mengepul medali emas demi gengsi negara yang dihelat baik di Jakarta dan Palembang, tentunya hal ini sejatinya ialah bagai durian runtuh, setidaknya perputaran uang akan mengalir lebih deras daripada biasanya (meskipun tak disangka perang dagang AS-RRC berdampak kemudian).
Setelah masalah penunjukan tuan rumah usang, kini muncul masalah beautifikasi kota dan infrastrukturnya yang menghiasi persiapan penyelenggaraan. Di Jakarta, hal ini kerap kali ditemukan dan menjadi buah bibir netizen dari Sabang hingga Merauke dan dari Sangihe hingga Ende. Pengecatan warna-warni trotoar (meskipun rakyatnya anti-LGBTQ++ dengan enam puluh tiga spektrum jenis kelaminnya) diprotes oleh cukup banyak masyarakat “pemerhati UULLAJ dadakan,” mengingat Pak Gubernur, Anies Baswedan, mengesahkan aturan kontroversial yakni minibazaar di dekat Stasiun Tanah Abang sebelum masalah pengecatan naik daun. Di lain sisi, penanganan Kali Sentiong alias Kali Item terkesan sangat temporer dan tergesa-gesa, ya setidaknya daripada menumbuhkan hasrat ingin bacot para netizen, (meskipun tetap saja netizen bacot, wkwkwk) seharusnya sudah ada pengananan sungai sebelumnya, seperti yang dilaksanakan oleh gubernur sebelumnya, Pak Ahok. Tak dinyana, setelah renovasi SUGBK, (alias second-rated Luzhniki, wkwkwk) oknum (saya sebut oknum ya takut ada yang tersinggung, mohon dibaca dengan saksama, sampai saya cetak tebal lho, wkwkwk) pendukung militan Persija Jakarta, Jakmania, (yang malah trek-trekkan naik motor bebek saat Persija main, contohnya di Cijantung, wkwkwk, padahal mainnya di stadion aparat kepolisian yang lumayan dekat dari sana) turut andil dalam merusak fasilitas stadion (ya hal ini sih tidak mengagetkan, mengingat oknum Bobotoh rajin lempar botol, oknum Bonek colong gorengan, dan masih banyak lagi borok sepakbola nasional dari akar rumput hingga ke federasi). Untungnya hal ini telah ditangani dengan cepat dan masalah selesai sebelum pembukaan Asian Games. Tak mau kalah dengan oknum Jakmania, oknum Singamania, pendukung fanatik Sriwijaya FC, juga ikut-ikutan merusak fasilitas stadion (kali ini Stadion Jakabaring, Palembang) dengan melempar bangku penonton layaknya melempar jumrah secara masal. Meskipun dengan dalih kekecewaan terhadap petinggi klub, hal ini sebaiknya dihindari, setidaknya dengan mogok membeli tiket seperti pendukung Gresik United musim lalu saja sudah cukup daripada membebankan negara. Lagi, untungnya hal ini ditindaklanjuti dengan sigap, provokator telah diciduk aparat dan reparasi berjalan singkat.
Bukan Warga Negara Indonesia jika tidak mengulik hal detil sekalipun. Kali ini dua kata kunci yang menjadi buah bibir masyarakat ialah mensukseskan dan ASEAN. Mengapa dua kata itu menjadi sorotan publik? Hal tersebut terjadi akibat persaingan spanduk yang cenderung mengikuti template marak beredar di masyarakat. Spanduk-spanduk tersebut berasal dari aparat, pemerintah segala lini, kios sepeda, tukang bakso dan koleganya, ibu-ibu PKK, klub penikmat kicauan burung murai, asosiasi grup Whatsapp keluarga besar, hingga caleg, cakada, dan capres dan simpatisannya (sempat-sempatnya nyolong waktu buat kampanye, wkwkwk). Memang, hal ini tentunya lumrah mengingat gemerlap yang disuguhkan dan semua mata penjuru Asia tertuju ke Jakarta dan Palembang, namun setidaknya perlu menjunjung tinggi KBBI dan lingkup kontingen yang bertanding, wkwkwk.
Bahkan, selama Asian Games pun berlangsung, kerap kali mulut netizen yang tak mampu mengucap secara langsung kepada lawan bicaranya sehingga hanya dapat berkata-kata lewat suara ketikan pada keyboard QWERTY-nya, kecuali ada yang pakai Nokia 3310 reborn (macam Film Wiro Sableng 212, bukan 212 yang panas tahun lalu) berbacot ria di dunia maya. Dari masalah kirab obor yang merugikan masyarakat Jakarta dan sekitarnya dalam aspek mobilitas, Pak Jokowi dipaksa mengaku menggunakan stuntman, lip-sync saat pembukaan, disputable hijabi yang dipertanyakan apakah dia perempuan pertama yang menerima medali, banyaknya WNI yang terlalu berempati saat Indonesia kontra Palestina dalam sepakbola putra sehingga dipertanyakan nasionalismenya, roti sobek dan rahim hangat, tiket ganda, calo, tribun kosong padahal diisukan penuh, atlet voli putri Indonesia yang dipertanyakan jenis kelaminnya, hingga kontingen Jepang yang kedapetan menikmati jugun ianfu di kawasan bilangan Jakarta Selatan, dan masih banyak lagi kemelut yang dihadapi pihak penyelenggara dari petinggi hingga sukarelawan. Daripada esai ini terlalu panjang akibat banyaknya masalah dan saya kebelet mengutarakan hal positif yang saya alami pribadi, lebih baik Tschüss untuk segala tetek bengek-nya dan cus ke paragraf selanjutnya.
Berbekal saya disuruh pulang bulanan dan niatan untuk setidaknya sehari merasakan pengalaman menikmati hype Asian Games, saya meluncur ke GBK (untuk menikmati voli putri, namun sayangnya saya tidak menemukan calo, Do svidanja Karapetyashka, lain kali sabun lah foto bareng, wkwkwk semoga seenggaknya saya punya rejeki untuk melancong ke Pavlodar, Kazakhstan, LOL) untuk menikmati berbagai pertandingan rugby sevens (sepakbola mazhab Irlandia namun setingkat dengan futsal karena aslinya dimainkan oleh belasan pemain dalam satu tim, ya meskipun asalnya dari Inggris juga namun agar dapat membedakan mana yang bolanya bundar dan lonjong, wkwkwk, setidaknya saya menemukan Lyudmilla Korotkikh, ya lyubyu tebya). Sesampainya di sana, setidaknya keramahtamahan masyarakat Indonesia bukanlah mitos, berbagai jenis masyarakat seperti sukarelawan, penonton biasa, hingga pedagang kios kelontong kecil dekat Lapangan ABC pun cukup ramah di mata saya. Setidaknya hal ini merupakan titik cerah perilaku masyarakat Indonesia, meskipun saya juga WNI sekalipun dan masyarakat cenderung barbar di dunia maya, LOL. Tidak sampai di situ saja, tak disangka warga setempat juga bersikap tetap kalem terhadap WN Malaysia yang terlalu vokal mendukung saat Timnas Rugby putra Malaysia menggilas Indonesia dengan skor 39–5, masyarakat kita (meskipun kebanyakan anak SMA yang disuruh supporteran, wkwkwk) tidak mudah tersulut dan justru tetap dengan chant biasanya (Indonesia, tet tet tet tet tet). Selain itu, hal unik juga saya temui saat Timnas putri Hong Kong bersua dengan Thailand, masyarakat kita yang “cukup terganggu” atas vokalnya emak-emak bule Hong Kong yang anaknya ternyata ikut main bersama timnas (ya karena Hong Kong juga dulu jajahan Inggris Raya) justru ikut-ikutan mendukung Thailand yang dimotori lelaki tua yang selalu membalas emak-emak tersebut dengan teriakan “Thailand, soe-soe” (atau semacamnya tetapi sekilas terdengar seperti susu, wkwkwk). Justru pihak yang mengecam ialah sesama warga Hong Kong sendiri (sepertinya lebih ke warga biasa karena tidak ada kaitannya dengan yang main, wkwkwk). Di samping itu, ternyata yang saya saksikan kemarin keramahtamahannya cukup Truly Asian (wkwkwk maaf kalau tidak jelas lantaran saya terburu-buru). Saya merupakan pendukung yang tidak terlalu vokal namun setidaknya suara saya cukup dapat didengar sekeliling saya, sehingga saya menemukan tiga hal unik. Saat Timnas Putri Kazakhstan memasuki arena latihan, saya teriak dengan perlahan “Vperyod Kazakhstan”(Forward Kazakhstan) macam yel-yel, wkwkwk, alhasil saya sempat noticed oleh satu perempuan yang senyum kesemsem ke arah saya, (setelah saya cek tidak ada WN Kazakhstan yang nonton) terima kasih, mbak’e. Saat akhir-akhir pertandingan Malaysia lawan Indonesia, saya teriak dengan perlahan namun untungnya “disambut” oleh lelaki tua dari Thailand sehingga teriakan saya lebih bergaung, wkwkwk, terima kasih, Pak. Saat saya teriak dengan perlahan “Ganbatte Nihon” dengan perlahan jua, dua orang Jepang di belakang saya menyahut “Arigato,” dengan ketidaktahuan harus membalas apa saya jawab “You’re Welcome” dan seketika mereka tertawa sembari menepak pundak saya dengan bercanda, sungguh hal tersebut cukup hangat di benak saya lantaran biasanya saya dengan toxic-nya antiweaboo jika di kampus. Sesekali juga saya nguping dua orang dari Korea Selatan saat mereka berbincang (kelihatannya mengomentari pertandingan, saat Korea Selatan, baik putra maupun putri bertanding), meskipun saya tidak mengerti sama sekali saya setidaknya lebih terbuka terhadap orang lain dan tidak bersikap toxic.
Intinya ada tiga hal yang saya petik selama perhelatan Asian Games, ramah, terbuka, dan tidak toxic. Sekian esai kecil ini diketik dan terima kasih atas perhatiannya. Lick and Subschreiben. Semoga Indonesia diterima jadi tuan rumah baik Olimpiade 2032 maupun Piala Dunia 2034, wkwkwk.