Orangnya Minderan~

Moch Rizqi Hijriah
Sep 5, 2018 · 3 min read

Pernah gak sih ngerasa minder banget kalo ada orang yang kita anggap lebih pinter, cantik, ganteng maupun punya banyak harta?

Misal pas kuliah liat temen-temen hapenya Iphone semua, terus kita ngomong dalem hati

"Ya ampun kayanya gue doang deh disini yang hapenya masih poliponik, keyboardnya masih keypad ABC" *sambil liat hape yang dipegang*

Pasti pernah lah ya, dalam hal apapun itu terlebih hal berbau dunia. Minderan deh pokoknya kalo ada orang yang over the top tersorot sama mata kita.

Nah tapi gimana deh kalo minderan masalah agama? Iya...

Kadang sering denger ungkapan..
"Aku minder kalo ngaji disitu, orang-orangnya keliatan udah berilmu. Terus Aku masih awal-awal. awam banget deh pokoknya" yang pada akhirnya gak lanjutin ngajinya karena merasa minder sama lingkungannya.

"Ahh enggak jadi deh daftar kelas Tajwid, malu masih Iqra. Yang lain kan udah pada Al-Qur’an"

"Gak deh sholat di Masjid, malu... aku banyak dosa gini, dulu aku kan gini dan gini.. malu sama mereka yang rajin ke Masjid."

Itulah kurang lebih beberapa perkataan dan sikap yang kita kadang lontarkan secara sadar maupun tidak sadar.

Tapi tau gak sih temen-temen, rasa minder ini gak dialami sama kita aja. Melainkan pernah dialami juga sama Ulbah bin Zaid Radiyallahu'anhu.

Dalam kisah perang Tabuk, terselip kisah Ulbah bin Zaid. Ulbah ini berasal dari suku Ansor, kabilah Aus. Orangnya baik banget juga dermawan meskipun dengan segala keterbatasan materinya.

Iya, Ulbah bin Zaid ini termasuk orang yang fakir gak punya apa-apa, apalagi harta yang banyak.

Sehingga suatu saat Ulbah bin Zaid menyaksikan orang-orang lagi pada sibuk nyiapin buat peperangan di daerah Tabuk.

Karena ini seruan jihad langsung dari Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Kaum muslimin berbondong-bondong untuk berjihad dengan jiwa maupun hartanya.

Beda sama Ulbah, ditengah kaum muslimin yang lagi antusias. Ulbah langsung minder, yaiyalah gimana gak minder dia liat Abu Bakar bawa 4000 dirham, terus datang Umar membawa setengah hartanya. Udah itu datang lagi Usman yang bawa 1000 dinar! dan masih banyak lagi orang-orang lain yang nyumbang.

Pada saat itu hanya sedih nan pilu yang dirasakan oleh Ulbah, karena gak bisa jihad dengan menyumbangkan hartanya.

Hingga pada saat itu Ulbah pulang dengan keadaan sedih. Di atas kasurnya yang lusuh, Ulbah gak bisa tidur. Yaudah deh pas itu Ulbah langsung ambil wudhu dan sholat untuk menghilangkan segala kegundahan di hatinya. Setelahnya ia nangis gak ketahan, mencurahkan segala keluh kesahnya kepada Allah Maha Pendengar dengan mengangkat tangannya seraya berdoa “Sesungguhnya aku telah bersedekah kepada setiap muslim dari semua perbuatan zholim mereka terhadap diriku dari perkara harta, raga atau kehormatan.”

Doa itu ia ucapkan berulang ulang kali seakan akan ia berkata, “Ya Allah, tidak ada yang dapat aku infakkan sebagaimana yang lainnya telah berinfak. Seandainya aku memiliki seperti yang mereka punya, aku akan lakukan untukMu, demi jihad di jalanMu. Yang aku punya hanya kehormatan, kalau Engkau bisa menerimanya, maka saksikanlah bahwa semua kehormatanku telah aku sedekahkan malam ini untukMu!”.

Pagi harinya, Ulbah mengikuti sholat subuh berjamaah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam. Telah ia lupakan air mata yang telah tertumpah di atas sajadah tadi malam. Tetapi Allah tidak menyia-nyiakannya, Dia kabarkan semua cerita tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam melalui perantaraan Jibril.

Selesai sholat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Siapa yang tadi malam telah bersedekah? Hendaklah ia berdiri.”

Tidak ada seorangpun dari para sahabat yang berdiri, dan Ulbah pun tidak merasa bahwa ia telah bersedekah.
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam mendekatinya dan berkata, “Bergembiralah Ulbah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sesungguhnya sedekahmu tadi malam telah ditetapkan sebagai sedekah yang diterima.”

Bener-bener plot twist bukan kisahnya Ulbah ini! Meskipun asalnya dia minder, tapi dia gak mau mundur buat melakukan kebaikan. Alhasil Ulbah kaya langsung nge-Up lagi setelah semua kesedihan yang ia rasakan.

Hikmahnya dari kisah Ulbah bin Zaid ini jangan jadiin minder sebagai alat untuk mundur dalam melakukan kebaikan. Sebenernya minder dalam hal agama ini bakal bikin kita kepending dan terhambat buat belajar agama.

Kapan bisanya, kalo kita sendiri menunda untuk belajar.

Kapan tau dan pahamnya kalo kita menutup diri dan enggan bergabung untuk menjadi lebih baik lagi?

Moch. Rizqi Hijriah

Jatinangor, 24 Dzulhijjah 1439H

Sumber:

  • Jalan Shirah dot com
  • Kisah ini pun disebutkan dalam kitab Zadul Ma’ad karya Ibnul Qayyim Rahimahullah

Moch Rizqi Hijriah

Karena setiap kisah selalu ada dalam setiap pijakan perjuangan untuk mendaki terjalnya kehidupan

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade