Media Sosial dan Kemalasan

Selain nafsu, sikap malas adalah musuh terberat manusia. Tentu saja laku malas ini harus diberi konteks agar terang dan jelas. Saya mencoba memberi konteks pada beberapa buku yang telah saya beli tapi tidak kunjung saya baca. Perhatian dan fokus saya terenggut media sosial semisal fesbuk dan instagram. Setiap saya akan memulai membaca, media sosial berperan seperti layaknya si iblis dulu yang menggoda Adam untuk memakan buah terlarang.

Selain media sosial, hal lain yang membuat saya menjadi malas, sejauh pengamatan pribadi mungkin adalah bacaan yang saya pilih cukup sulit dan otak menolak berpikir. Bukankah membaca adalah juga berpikir?

Kembali ke soal media sosial. Di suatu ketika, di sebuah kegiatan diskusi saya berkata bahwa alangkah bagusnya dahulu ketika media sosial belum lahir. Para mahasiswa atau masyarakat punya banyak waktu untuk membaca. Nyatanya hal itu dibantah oleh pembicara. Menurut pembicara, Zaman dulu jika merujuk ke zaman ketika orde baru masih berkuasa, tetap saja ada kendala dalam membaca seperti bahan bacaan yang kurang karena begitu ketatnya orde baru mengontrol bacaan masyarakat. Bacaan kiri sangat dilarang, tetapi sekaligus dianggap paling menantang. Disinalah nampaknya berlaku adagium “semakin sesuatu itu dilarang, semakin ia sering dilakukan.”

Intinya, pembicara ingin mengatakan bahwa jangan mencari-cari alasan untuk malas membaca, apalagi di zaman sekarang yang banjir dengan berbagai macam buku dan bacaan. Jangan menyalahkan media sosial, karena bukankah dari media sosial kita juga mendapat banyak informasi meski tetap harus diverifikasi. Bukankah dari media sosial kita bisa tahu kondisi nasional dan internasional secara lebih cepat karena tidak ada lagi sekat ruang dan waktu.

Like what you read? Give Muhclis Abduh a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.