Saat Saya Memutuskan Menghapus Aplikasi Fesbuk lalu Menggantinya dengan Medium

Pecandu Akut Fesbuk

Saya termasuk pecandu akut terhadap fesbuk. Saya tidak akan kuat jika setiap hari, jam, atau bahkan menit tidak mengutak-atik fesbuk. Sebelum tidur atau setelah bangun tidur hanya bukan fesbuk dulu.

Saya menggunakan fesbuk salah satunya dan secara umum untuk belajar menulis dengan membuat status atau membaca status orang lain yg tulisannya singkat, padat dan jelas.

Biasanya aktifitas berselancar di fesbuk bermula dari membuat sebuah status sekira satu atau dua kalimat, kadang lebih. Dari status tadi tentu saja saya tidak berharap hanya satu atau dua tanda like, tetapi puluhan bahkan ratusan…hee..hee..

Mengapa saya menyukai like itu? Jika merujuk ke beberapa tahun terakhir, saya menjadikan fesbuk sebagai media untuk belajar menulis atau mengomunikasikan segala yang ada di kepala saya semisal mengutarakan umpatan terhadap apapun. Saya mengangap bahwa like yg diberikan itu semacam tanda bahwa seseorang itu memahami apa yang saya sampaikan. Bukankah hakikat menulis agar orang mampu memahami apa yang kita bicarakan?. Percuma menulis panjang lebar jika toh orang tidak mengerti apa sebenarnya yang ingin kita katakan.

Soal pasang status ini juga sulit ditebak apa akan banyak disukai atau tidak. Sering jika saya menulis cukup panjang dan saya menilai tulisan saya itu bagus, justru sedikit yang memberikan like; tentu saja ini membuat saya kurang bersemangat. Tetapi kadang ocehan saya itu sepele tetapi mampu mendulang banyak like dan dibagikan.

Sependek ingatan saya, ada lebih satu atau dua orang yang pernah mengomentari tulisan-tulisan singkat berupa status saya itu. Dua orang secara langsung dan satu sisanya diberitahukan lewat teman. Dua orang itu juga sama-sama dosen. Kurang lebih mereka bilang tulisan saya bagus atau cukup bagus dan sisa ingin dibuat panjang lagi. Suatu ketika satu diantara dosen tadi bilang, “ Kok nda nulis lagi di fesbuk, saya suka baca tulisanmu,”. Pertanyaan itu ampuh dan bagai semacam pil penambah semangat. Satu sisanya yang menitip komentarnya. Lantas teman saya ini mengutarakan kembali komentar temannnya atas saya: “Si….(menyebut nama) suka tulisanmu, tapi pas dia dapat okkots mu (tidak sesuai EYD) dia langsung kayak tidak puas,”. Saya mengguman dalam hati dan berjanji untuk lebih teliti dalam menggunakan kata sesuai EYD.

Belakangan saya mendapati ada media lain yang lebih cocok pada saya tanpa harus lagi pusing membaca status alay dan tidak jelas.

Migrasi ke Medium

Hingga pada awal bulan di tahun ini (saya lupa tepatnya) salah satu penyair andalan saya dan juga senior di Unhas, M. Aan Mansyur, saya dapati sedang mengunduh tulisan-tulisannya ke sebuah media sosial.

“Apa ini kak?”, tanyaku saat itu.

“Ini medium, semacam blog tapi kita bisa berinteraksi secara lebih enak dan kita bisa tahu saat ada orang yang mengutip tulisan kita,” jawabnya sambil terus mengutak-atik dan menunjukkan tulisannya.

“Tapi yang saat ini banyak pakai masih dari luar Indonesia sih,” tambahnya dan membuat saya sedikit kecewa karena saya terbatas dalam penguasaan bahasa inggris.

Tidak lama setelah itu, saya coba iseng bergabung ke “Medium” juga. Pertama saya buka lewat laptop dan setelah tahun telah tersedia aplikasi di gejet, saya pun menginstalnya di hape saya. Lama-kelamaan saya ketagihan. Medium ternyata sangat mengasikkan karena saya menemukan apa yang saya cari: sebuah jejaring sosial dimana saya bisa membaca tulisan-tulisan kelas wahid hingga kakap. Orang-orang yang bergabung di “Medium” mengerti betul bahwa ini adalah media berbagi tulisan, bukan tempat mengumbar status palsu nan alay sebagaimana biasa didapatkan di fesbuk atau media sosial lainnya. Binggo… dan akhirnya satu atau dua hari yang lalu saya memutuskan menghapus aplikasi fesbuk dan lebih memilih ke “Medium”.

Jika kedua dosen saya tadi bertanya mengapa saya tidak menulis melalui fesbuk lagi, saya akan memintanya membuka “Medium” dan membaca sedikit tulisan di sana karena masih ada beberapa tulisan dari blog atau di laptop yang belum dipublikasikan menunggu giliran untuk dimasukkan dalam “Medium”.

Oh iya, saya tidak menutup fesbuk secara permanen; hanya di hape karena saya lebih sering online lewat hape. Saya menyadari masih ada beberapa teman fesbuk yang saya suka baca tulisannya. Saya cuman memilih lebih banyak menghabiskan waktu membaca tulisan di “Medium” seban di sini memang ajang berbagi tulisan.

Like what you read? Give Muhclis Abduh a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.