Zaha, Perantau Bugis di Bumi Cendrawasih.

Zaha, perantau bugisyang berprofesi sebagai supir rental sedang menunjukkan noken andalannya. Terbuta dari akar kayu, noken yang setiap hari dibawa Zaha ini katanya mampu menamoung satu galon air.

Perjalanan ke Papua mengantarkan saya bertemu dengan Zaha, seorang perantau bugis. Ia adalah sopir rental yang mengantarkan saya beserta rombongan penerbangan perdana Citilink Indonesia ke Papua. Hari kedua di Jayapura (Selasa, 24 Januari) kami diajak pihak Citilink menjelajahi eksotisme Papua.

Di sepanjang jalan, Zaha memutar lagu bugis yang mengalun lembut menemani perjalanan kami. Tentu saja yang paham hanya saya dan si Zaha. Saya memanfaatkan perjalanan ini untuk menggali lebih dalam bagaimana seorang bugis bisa sampai dan bertahan di negeri yang masih serba kesulitan dalm berbagai hal ini. Saya bertanya memakai bahasa bugis dan Indonesia secara bergantian.

‘’Macca mopi mabbicara ogi,’’ ( masih bisakah anda berbahasa bugi)’’? tanya saya.

‘’Ba. Na maega ogi okkoe (banyak orang bugis di sini),’’ jawabnya.

Setamat SMA, tepatnya 1997, pria brewokan ini mulai meninggalkan tanah kelahirannya. Ia memulai pekerjaan sebagai kernet taxi. Iya, anda tidak salah dengar. Di sini, di Papua, angkutan penumpang disebut taxi. Saat saya bertanya kepada Zaha, ia mengaku tidak terlalu tahu mengapa bisa dinamakan demikian.

Geliat pertumbuhan ekonomi di Papua ternyata sudah semakin maju. Indikasinya adalah kemacetan. Meski tidak lama tetapi di sini kita sudah bisa merasakan kemacetan meski tidak separah di kota-kota besar.

Di perjalanan menuju pantai Hamadi, lokasi pertama yang akan kami kunjungi, tiba-tiba sebuah taxi ( angkutan penumpang) menepikan mobilnya ke kiri.

‘’Ternyata taxi, dimana-mana sama saja,’’ ujar Bang Ageng, Marcom Citilink Indonesia.

‘’Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu kalau mau belok,’’ saya memperjelas.

Zaha menceritakan, sehari-hari ia bisa memperoleh sampai 1 juta rupiah, atau bahkan sampai tidak ada sama sekali. Semua itu bergantung penumpang. Kadang ada yang baik, kadang ada yang hanya mau menumpang gratis. Tetapi itu semua diterima bapak dari 2 anak ini. Katanya rejeki sudah diatur oleh Tuhan, sisa kita yang menjalani.

‘’Kita sudah masuk wilayah Organisasi Papua Merdeka (OPM), diantara orang duduk di sana, pasti ada orang OPM,’’ kata Zaha sembari menunjuk sebuah pangkalan yang sedang ramai dikerumini laki-laki dewasa.

Memasuki wilayah Irian Jaya Timur berbagai tulisan dan coretan terlihat di tembok dinding, atau bangunan. Tulisannya semua hampir sama, menuntut adanya referendum atau hak untuk menentukan kewarganegaraan apakah tetap bergabung dengan NKRI atau memisahkan diri.

(Inilah contoh kalimat yang saya lihat. Miris dan perihjuga melihat tulisan ini)

Memasuki sebuah jalan alternatif, Zaha menceritakan, jalanan ini jika sudah pukul 9 malam biasanya sering digunakan oleh anggota OPM. Sambil menenteng senjata mereka mencegat mobil atau motor warga yang lewat pada malam hari. Meminta uang.

‘’Makanya biasanya warga lebih memilih lewat jalur kota jika sudah sudah jam 9.’’

Babi punya nilai yang istimewa di daerah ini. Jika seorang pengendara atau supir seperti Zaha menabrak sebuah babi, maka jika itu babi betina, akan dihitung perputing susu. Kadang standarnya 1 jutaan. Jadi jika si Babi menyusui 10 anak, maka anda harus membayar 10 juta. Bahkan harga di Wamena kata Zaha bisa mencapai 50 juta jika stok sedang kurang.

Malaria adalah salah satu jenis penyakit yang terkenal di wilayah ini. Zaha menyarankan hal berikut agar tidak sampai terserang. Pertama, perut jangan dibiarkan kosong, kedua, jika kehujanan cepat-cepat basuh badan dengan air atau mandi sekalian, selanjutnya jangan tidur pagi.

‘’Yang tidak kalah penting itu dompet jangan kosong…..haa..haa’’ candanya, diiringi gelak tawa.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.