To The Bone (2017): Sebuah Konstruksi Tubuh Perempuan

Saat muda adalah waktu yang paling susah untuk kehilangan sosok ibu. Ellen berpisah dengan ibu kandungnya, yang ternyata adalah seorang lesbian. Dan ini dijalankan selaras oleh narasi dengan keengganan Ellen untuk makan. Deep inside, dia enggak mau ‘makan’ yang lain. Karena sebenarnya Ellen’s craving for mother figure. Ellen ingin jadi sesuatu yang membuat orang-orang ingin mengasuhnya. To be an envy for her mother. The real one.
Tokoh utama dalam film ini, Ellen (Lily Collins), seorang pengidap anoreksia, kehilangan selera untuk makan. Ellen kerap mengukur lingkar tangannya untuk memastikan agar lingkar tangannya tak melebihi cengkaraman tangannya. Ellen juga tidak pernah menghabiskan santapannya, hanya sedikit yang terkonsumsi dan sebagian dimuntahkan. Selain itu, sebelum tidur, Ellen sit-up untuk menghilangkan kalori di tubuhnya.
Tubuh Ellen setiap hari kian menampakkan tulang. Ibu tirinya, Susan (Carrie Preston), mendaftarkan Ellen ke program konsultasi khusus anoreksia yang dipimpin Dr. Beckham (Keanu Reeves). Di sebuah rumah yang tak terlalu luas, Ellen berinteraksi dengan pasien-pasien anoreksia lainnya. Terkumpulnya pasien-pasien anoreksia di rumah pemulihan tersebut memberikan banyak sudut pandang kepada penonton mengenai fenomena anoreksia.
Salah seorang pasien bernama Pearl (Maya Eshet), mesti dipasang selang asupan di tubuhnya sebab kondisinya kesehatannya kian memburuk. Tubuhnya menolak asupan. Ellen pun mengalami hal serupa, ia mengunyah makan malamnya, kemudian memuntahkannya kembali. Dua kasus di atas menyingkapkan bahwa stigma masyarakat terhadap berat badan dan tubuh ideal menjadi salah satu penyebab Pearl dan Ellen anoreksia. Trauma akan tubuh ideal tertanam dalam psikis keduanya. Hal tersebut menggerakan tubuh mereka untuk menolak asupan.
Di dalam rumah pemulihan tersebut yang di mana Ellen dan Pearl anggap bukan rumah sakit, mereka menganggap ruang makan adalah ruang penyiksaan. Penyebutan jumlah kalori pada makanan merupakan tindak kejahatan. Selain itu, upaya pemulihan juga menjadi sulit, sebab pasien-pasien punya siasat untuk menolak asupan. Beberapa pasien memilih untuk memuntahkan makanan dan menaruh di tempat yang takterjangkau siapa pun. Ada juga yang memilih olahraga diam-diam meskipun ada tes berat badan secara rutin untuk memastikan kemajuan mereka.
Tubuh menyerap asupan sebagai upaya bertahan hidup. Industri kecantikan masuk memberikan makna-makna keindahan tubuh. Bagi perempuan, yang tak sesuai dengan kategori ideal mesti mengupayakan diri mengubah tubuhnya seideal mungkin. Oleh sebab itu, lumrah jika kita melihat fenomena operasi plastik untuk mendapat tubuh yang dianggap ideal oleh umum. Selain itu, obat pelangsing, pemutih, peninggi juga banyak bermunculan untuk menawarkan tubuh dan rupa yang ideal.
Masyarakat pun tak dapat lepas dari kontruksi yang terlanjur ditelan: mana bentuk tubuh yang ideal, mana yang tak ideal. Hal tersebut juga disebarluaskan oleh media massa yang kerap mengonstruksi model cantik. Soal tersebut digambarkan pada awal film To the Bone, saat muncul obrolan bernada bingung dari beberapa perempuan. Dalam adegan ini, sebuah halaman majalah menggambarkan kue yang lezat untuk disantap, di halaman lainnya memuat model perempuan yang dianggap jelita dengan tubuh ideal.
Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang beberapa perempuan jadi bahan pembicaraan karena tubuh yang dimilikinya, bahkan perisakan. Ketakutan perisakan juga dirasakan Megan (Leslie Bibb), salah satu pasien yang sedang mengandung. Ada sesuatu yang dilema pada pikirannya: melanjutkan makan sebab anak yang dikandungnya atau harus siap dirisak sebab berat badan pasca kelahiran. Seolah ada pesan tersirat dari To the Bone bahwa dari lahir ke dunia hingga melahirkan anak ke dunia, tubuh perempuan selalu diobjekkan masyarakat.
Selain Megan, Ellen, dan Pearl, masih ada tiga pasien lainnya yang punya ketakutan yang sama: tubuhnya tidak diterima masyarakat. Untuk melawan stigma masyarakat yang kadung tertanam dalam psikis pasien, kuncinya bukan “penyehatan” masyarakat, melainkan pasien harus bisa melawan konstruksi masyarakat yang ada dalam pikirannya. Dr. Beckham, psikolog utama program tersebut, membiarkan semua pasien untuk meneriaki pikirannya yang “menarik” mereka dalam memaknai tubuh yang ideal.
Dalam beberapa adegan, Dr. Beckham digambarkan tidak melakukan tindakan medis yang dilakukan ahli fisiologi, serupa dokter membedah tubuh pasiennya. Ia membantu pasiennya termasuk Ellen untuk menyembuhkan dirinya sendiri dari dalam melalui metode psikologi. Lambat laun Ellen yang juga memiliki masa lalu kelam mencoba untuk melawan anoreksia dalam dirinya. Semua stigma masyarakat ia kupas hingga ke yang paling dalam: ia harus makan sebab ia ingin hidup.
To the Bone (2017) mampu menyingkapkan bahwa makan merupakan upaya bertahan hidup. Melalui sosok Ellen, perempuan punya hak terhadap tubuhnya. Selain itu, perempuan juga dapat menolak semua konstruksi yang dilakukan industri kecantikan dan media massa. Akhir kata, film ini mampu mengumpulkan segala masalah akibat pengobjekkan tubuh perempuan.
