Malam-Malam


Diam malam panjang tak berujung, direngkuh hujan di tapal batas. Terlalu riuh untuk dijabarkan, tentang semua perihal yang selalu menuntut sebab. Akibat? Dia telah berubah menjadi pekat yang pejal. Sama sekali tanpa rongga atau jeda. Bulan jalang berjalan di tepian bintang. Tak bergaris, namun merona tipis. Kemana arah pembicaraanmu, ketika logika menguasai kalbu. Jeritan nurani kau abaikan. Bisikan setan kau dendangkan. Terus, menari di antara keraguan semu. Kadang kita hanya perlu mengecap, toh rasanya tidak akan berubah. Yang berubah hanya persepsimu, bukan dirimu! Deru keramaian jalan dan teriakan keparat-keparat yang sedang berpesta tak bisa mengubah arah angin yang berputar. Hanya berputar, kembali pada sumbu yang sama. Mau mengutuk matahari? Silahkan. Andaikan peluh bisa dihisap dalam-dalam, niscaya pagi tetap kekal. Karena sebenarnya, konsistensi itulah yang membuat akar tumbuh subur, daun menjulur, serta batang bermekaran di tengah kerontang kembang yang layu. Pesanku, bukan padamu segala harap kan terucap. Bukan.