Menafsir Toleransi Antar Agama

Judul : Menyoal Status-Status Agama Pra-Islam 
Penulis : Dr. Sa’dullah Affandy 
Penerbit : Mizan, Jakarta 
Cetakan : I, 2015 
Tebal : 282 hal.
ISBN : 978–979–433–877–3

Selama ini, sering dipahami bahwa al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam menjadi alasan untuk menegakkan khilafah, atau sistem pemerintahan Islam. Dalil-dalil yang diungkapkan oleh pendukung khilafah, tidak memberikan ruang bagi umat non-muslim dapat berkontribusi dalam pemerintahan maupun kehidupan sosial politik. Bahkan, yang lebih ekstrim, upaya untuk mengkafirkan dan menyingkirkan orang-orang yang tidak sejalan dengan pemahaman. Padahal, sejatinya, al-Qur’an jelas memberi tuntunan, mengabarkan teladan bagaimana ajaran Nabi Muhammad menyempurnakan ajaran-ajaran agama sebelumnya.
Buku yang ditulis oleh Dr. Sa’adullah Affandy ini bermaksud untuk menghadirkan tafsir alternatif atas abrograsi agama. Dalam riset doktoralnya, Affandy melakukan penelusuran atas perdebatan para ahli tafsir tentang nasikh-mansukh, terkait dengan ajaran agama. Affandy, berkeyakinan bahwa Islam menjadi rujukan umat manusia untuk menjalankan syariat yang diwartakan oleh Nabi Muhammad, sebagai penyempurna dari ajaran-ajaran para Nabi terdahulu. “dari sekian ribu ayat al-Qur’an, dapat dipastikan tidak ada satupun ayat pun kalam Tuhan yang menyatakan abrograsi agama-agama,” tulis Affandy.
Dalam pengantar buku ini, KH. Husein Muhammad meletakkan pro-kontra tentang nasikh-mansukh dalam ruang diskursus tafsir al-Qur’an. Para pendukung naskh berdebat dalam hal jumlah maupun bagian-bagiannya. Syekh Waliyullah al-Dihlawi (w. 1762), ulama pembaru dari India, menghimpun ayat-ayat ini menjadi 500, meski sebelumnya Imam Jalal ad-Din as-Suyuthi (w.911 H), menyebut hanya ada 21 ayat saja. Di belakang hari, al-Dihlawi meneliti secara cermat, untuk pada akhirnya menemukan hanya 5 ayat saja. 
Sedangkan, Husein Muhammad melanjutkan, Abu Muslim al-Isfahani (1277–1365) merupakan tokoh paling populer yang menolak adanya naskh dalam al-Qur’an. Menurutnya, benar bahwa al-Qur’an menyebutkan kata-kata naskh (penghapusan) atas sebuah “ayat”, sebagaimana dalam firman Allah: maa nansakh min aayah”, yang bukan berarti penghapusan teks al-Qur’an. Makna ‘ayat’ dalam hal ini adalah tanda keagungan Allah, mukjizat (hal. 42). 
Toleransi Antar Agama 
Riset yang dilakukan Affandy meletakkan dialog antar agama sebagai pendulum utama bergeraknya narasi. Sa’dullah Affandy mengungkapkan bahwa sebenarnya Islam dan Kristen masih satu trah dari Ibrahim, hal ini didasarkan pada riset Prof. KH. Said Aqil Siroj (2006). “Agama Kristen lahir sebagai agama samawi melalui Nabi Isa, sedangkan Islam melalui jalur Nabi Muhammad. Dua tokoh ini, bertemu dalam satu induk dengan sosok Ibrahim, yaitu dari jalur Nabi Isa yang masih keturunan Ishaq, salah seorang putra Ibrahim, yang kemudian menurunkan Bani Israil (bangsa Yahudi,putra-putri Nabi Ya’qub). Sementara Nabi Muhammad merupakan keturunan Isma’il, saudara seayah dari Ishaq, yang kemudian menjadi rujukan silsilah bangsa Arab (hal. 51). 
Dalam buku ini, Affandy meletakkan tonggak argumentasi pada sejarah sekaligus perdebatan dalam abrograsi agama. Hal ini, terletak pada penafsiran ayat al-Qur’an, QS Al-Baqarah (2: 62). Menurut Affandy, kalangan mufasir berdebat dalam dua kubu, menyikapi ayat ini. Kelompok pertama, kalangan ahli tafsir yang menyatakan bahwa ayat ini sudah di-mansukh oleh QS Ali Imran (3: 85). Kelompok ini, terdiri dari mayoritas penafsir klasik, semisal al-Thabari (w. 256H), Ibn Katsir (w. 774 H), Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1314 H). Mereka mendasarkan argumentasinya pada riwayat Syekh Ibn ‘Abbas (w. 68 H).
Sementara, kelompok kedua tidak mengakui adanya abrogasi naskh tersebut. Alasannya, kelompok ini menyatakan bahwa ayat QS Ali Imran (3: 85), justru sejalan dengan QS Al-Baqarah (2: 62), yang bermakna bahwa keselamatan di dunia akhirat bukan karena jinsiyyat al-diniyyah (faktor agama yang dipeluknya), melainkan karena keimanan, amal baik, dan kemanusiaan (hal. 59). 
Dalam karya ini, Affandy menitikberatkan kajiannya pada tafsir-tafsir ayat al-Qur’an tentang polemik naskh ekstra-Qur’anik, yang efeknya memunculkan doktrin penghapusan agama-agama pra-Islam (Yahudi, Kristen, Majusi dan Sabiah) oleh Islam. [Munawir Aziz]

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Munawir Aziz’s story.