Strategi Ampuh Revolusi Kepemimpinan

Renald Kasali,Ph.D | Change Leadership: Non-Finito | Mizan, Desember 2015
ISBN : 978–979–433–916–9 | Harga : Rp.95.000

Change Leadership| Renald Kasali

Di negeri ini, pemimpin yang menghendaki perubahan sedang mendapat ujian berat. Para pemimpin yang melakukan transformasi dalam visi, misi, dan kinerja produktinya, mendapat tantangan dari pelbagai pihak. Pada era sekarang, jurus-jurus para pemimpin dalam menghadapi tantangan dan menembus pelbagai hambatan sangat penting, untuk memberikan kebaikan-kebaikan bagi rakyat. Akan tetapi, perubahan yang dihadirkan oleh pemimpin bukan tanpa hambatan. Kritik, caci maki, fitnah dan ancaman silih berganti menguji keteguhan para pemimpin. 
Pakar manajemen kepemimpinan, Renald Kasali, menganalisis berbagai faktor yang menjadi penghambat perubahan para pemimpin.Kasali menganalisa dan melakukan uji perspektif terhadap beberapa pemimpin dunia, serta para kepala daerah di Indonesia yang sukses melakukan transformasi. Buku ‘Change Leadership: Non Finito” ini menjadi buku inspiratif bagi pemimpin dan calon pemimpin yang berani melakukan perubahan positif untuk daerahnya. Buku ini menganalisa sosok-sosok pemimpin perubahan, semisal Awang Faroek (Gubernur Kaltim), Azwar Anas (Bupati Banyuwangi), Tri Rismamaharini (Walikota Surabaya), Joko Widodo (ketika menjadi Wali Kota Jakarta), Basuki Tjahaja Purnama (Walikota DKI Jakarta), Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung), dan beberapa pemimpin lain. 
Renald Kasali mengakui bahwa, melakukan perubahan bukan hal mudah. “Bila dalam buku-buku tentang perubahan yang lalu, saya menyebutkan selalu terjadi resistance to change, maka khusus untuk kepala daerah yang memimpin perubahan perlu saya ingatkan, yang ada adalah resistance to lose” tulisnya. Dalam buku ini, ia mengisahkan bahwa, “Anda mungkin ingat dengan Perdana Menteri Israel di era 1990an, Yitzhtak Rabin? Benar, Rabin adalah PM yang dikenang sepanjang sejarah karena kepemimpinannya yang pro-perdamaian. Berkat karyanya, pada 1994, bersama Yasser Arafat dan Menteri Luar Negeri Shimon Peres ia mendapat hadiah Nobel Perdamaian“ (hal. 22). Dengan demikian, pemimpin yang berani bertarung dengan tantangan untuk menghadirkan perubahan, akan dicatat oleh sejarah. 
Dalam pandangan Renald Kasali, pemimpin di tengah masa transisi dihantui oleh perubahan yang tidak dapat diselesaikan. Menuntaskan hasil kerja memang menjadi tekanan tersendiri. Akan tetapi, hal ini membawa dampak tersendiri, yakni pengakuan atas karya sang pemimpin perubahan. Renald Kasali bercerita: “Pada akhir Juli, saya melakukan perjalanan ke Italia dan Spanyol. Di Firenze, kota yang menjadi awal karya-karya besar, saya menyaksikan karya besar yang tidak berhasil diselesaikan oleh penciptanya dengan beragam alasan. Di antaranya, empat buah patung karya Michelangelo, yang dikenal dengan nama The Naked Slave. Dalam manajemen perubahan, karya seni itu, dikenal sebagai filosofi Non-Finito, atau karya yang tidak selesai,” ungkapnya. 
Kemudian, Renald Kasali mengisahkan, bahwa tidak ada satupun seniman yang mengkritik karya Michelangelo (1475–1564). Bahkan, publik terkagum-kagum dan berduyun-duyun ingin melihat hasil karya sang maestro. Seniman mengabadikan karya-karyanya dalam museum yang ramai dikunjungi oleh publik. Para cendekiawan sibuk mencari alasan di balik alasan Michelangelo yang tidak berhasil menyelesaikan karyanya. Hasilnya? Ternyata, ada satu rumusan yang menjadi kesepakatan bersama: para pemimpin selalu akan berhadapan dengan ketidakpastian. Bahkan, Michelangelo bisa saja tidak menuntaskan karyanya karena ia menghadapi uncertainties[MA].

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.