Garbage City, Mesir
Munazilah Rohiyal Ma’ani
15417116
Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata “sampah” ?

Pastinya identik dengan bau busuk, kumuh, merusak alam, dan bisa menimbulkan berbagai penyakit.
Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Selanjutnya yang dimaksud dengan sampah spesifik adalah sampah yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau volumenya memerlukan pengelolaan khusus.
Jumlah banyaknya sampah sangat bergantung pada laju petumbuhan penduduk di suatu kota. Oleh sebab itu jika sampah hanya dibiarkan saja maka akan menumpuk dan menyebabkan kerusakan-alam. Dengan melakulan daur ulang sampah plastik, menggunakan kembali produk daur ulang sehingga dapat mengurangi penumpukan sampah di TPA.
Garbage city adalah suatu kota yang didalamnya terdapat sampah dengan jumlah yang besar. garbae city terletak di Manshiyat Nasser, Mesir. Manshiyat Nasser terkenal dengan suatu kota yang sangat kumuh, di kota ini dibangun rumah-rumah dari sampah, tempat-tempat bermain dipenuhi dengan sampah, serta jalanan, dan sarana prasarana telah bersatu dengan sampah, bahkan restoran pun sudah biasa menyatu dengan sampah.
Warga masyarakat yang menetap di kota Manshiyat Nasser dinamakan Zabbaleen atau “orang-orang sampah” dalam Bahasa Kairo ,para Zabbaleen hampir seluruh pekerjaannya adalah memungut sampah di pusat-pusat kota Mesir lalu mereka angkut kembali ke tempat mereka tinggal,sampah-sampah itu untuk di pilah sampah mana saja yang memenuhi kriteria daur ulang. Sampah-sampah yang didaur ulang itu akan mereka jadikan sebagai atap rumah. Para Zabbaleen dapat mendaur ulang sampah hingga 90% hanya dengan menggunakan peralatan sederhana, sistem daur ulang yang dilakukan Zabbaleen lebih baik dari negara-negara yang sudah maju dan dengan menggunkan peralatan yang sangat canggih.
Masyarakat Zabbaleen sangat berjasa pada bidang kebersihan lingkungan dengan caranya untuk mendaur ulang sampah, tetapi banyak dampak buruk yang terjadi di kota tersebut, yaitu tidak adanya saluran air, saluran pembuangan, dan tidak adanya saluran aliran listrik untuk kegiatan sehari-hari.
Selain itu banyak juga penduduk yang terkena penyakit yang timbul akibat tumpukan sampah yang bertebaran dimana dan akhir-akhir ini kondisi kehidupan Zabbaleen semakin memburuk. Pemerintah kota setempat tidak hanya diam, pemerintah kota setempat sudah melakukan penggusuran kota tersebut dari tahun 2003 namun selalu gagal, pasalnya ketika pemerintah mesir menyewa 3 perusahaan untuk mengolah sampah yang terdapat di berbagai kota, namun perusaahaan-perusahaan yang disewanya tidak sanggup menangani sampah yang begitu banyak. Yang pada akhirnya para Zabbaleen sendiri yang sanggup mengolahnya, kota Mansyihat Naseer sampai sekarang masih dipenuhi dengan sampah-sampah dan masih berdiri kokoh di Mesir.
Fenomena yang terjadi di Manshiyat Nasser Mesir perlu ditindak lanjutkan permasalahannya, meskipun membawa dampak baik dalam mengatasi masalah persampahan namun, tetap saja akan lebih banyak dampak buruk yang menimpa masyarakat dan fasilitas di kota tersebut. Seperti yang telah dipaparkan diatas bahwa dampaknya masyarakat yang menetap dikota itu banyak yang terkena penyakit dan juga berbagai fasilitas umum dikota tersebut sudah tidak berfungsi lagi. Jadi sebaiknya kota Manshiyat Nasser segera dibenahi, disediakannya tempat khusus untuk para Zabbaleen tempat untuk mengolah dan mendaur ulang sampah yang layak agar tidak menghambat keberfungsian sarana dan prasarana umum, serta menjadikan kotanya bersih dan nyaman.itu akan sangat jauh lebih baik dari pada dibiarkan bereksistensi namun tidak memperdulikan kenyamanan kota itu sendiri.
Sekian,
dan Terimakasih sudah membaca..
Daftar Pustaka
Robi Emri, 2016. Tersedia: https://www.kaskus.co.id/thread/5926812fdbd770f2748b4568/manshiyat-naser-kota-quotmanusia-sampah-di-mesir/
Aisha Safira, 2017. Tersedia: http://bobo.grid.id/read/08675780/manshiyat-naser-kota-sampah-yang-berjasa-menjaga-kebersihan?page=all
