Pertanyaan-Pertanyaan
Empat nol berjejer sudah. Tepat tengah malam kuterbangun dari tidur dan tidak tahu apa sebabnya. Mungkin aku lapar. Tapi rasanya tidak. Haus? Juga tidak.
Kutatap langit-langit kamar yang sudah berjaring laba-laba di beberapa sisi. Dan seketika aku ingat betul rasa malasku yang tak terjelaskan untuk membersihkannya.
Aku bangkit dari dipan. Kuputuskan ke dapur untuk minum beberapa teguk. Tiba-tiba jantungku berdebar. Aku tidak tahu. Apa yang salah denganku. Apa aku mencemaskan masa depanku? Apa aku mencemaskan kau? Sudahlah, tidak usah dijawab pertanyaan itu.
Aku keluar rumah. Kutatapi langit yang merahasiakan bulan bintangnya padaku. Rasanya aku tidak punya salah. Dan langit tak perlu minta maaf atas itu.
Aku masuk ke dalam kamar. Duduk di tepi dipan dan merasakan diriku ini bukanlah aku. Lalu siapa aku? Pertanyaan apalagi ini.
Lalu seseorang dalam kepalaku berbisik, “mengapa kau mau membaca tulisan yang tidak ada pesan moralnya ini?”
Aku bertanya padanya, “seberapa penting arti moral bagimu di negeri berperadaban purba macam ini?”