Sudah Saatnya Kamu Mengagumi Agnez Mo

Murni Amalia Ridha
Sep 7, 2018 · 4 min read

Biasanya, teman-teman saya akan mencibir ketika saya menyebut nama Agnez Mo. Kebanyakan mereka tidak menyukai dan bahkan tidak sudi mengakui pencapaiannya. Sebaliknya, saya adalah penggemar beratnya dan setia membelanya depan teman-teman saya ini. Menurut teman-teman, saya die hard fan; penggemar yang ‘sumpah mati suka banget’ sama Agnez Mo. Sebenarnya saya pun dulu sebal melihat karyanya, tetapi saya mendapat pencerahan dan hari ini, Sodara juga akan saya terangi dengan cahaya itu.

Agnez sudah lalu lalang di layar kaca sejak umur 6. Terus terang, saya sendiri tidak ingat karyanya ketika pertama kali muncul di TV. Saya sudah remaja kala itu, sehingga karyanya tidak terlalu relevan dalam hidup saya. Namun, Agnez tampak semakin ‘menarik’ ketika dia beranjak remaja dan karyanya masuk ke dunia pop Indonesia. Sebagai pop culture bitch yang doyan banget nonton TV, Agnez menarik perhatian tetapi cenderung bikin kesal. Berulang kali saya misuh-misuh melihat karyanya yang selalu meniru selebritas pop luar negeri. Saya bisa menyebutkan referensi setiap pop star pada setiap karyanya karena terlalu ketara. Lebih-lebih lagi, saya merasa dia meremehkan saya sebagai penonton.

“Dia pikir gue nggak tahu dia meniru siapa? Please!”

Masa iya kita tidak mengenali wig keriting merah Rihanna dalam musik video ‘Paralyzed’, gaya urban ala Christina Aguilera dalam ‘Cinta Tak Ada Logika’, atau aksi serta pamer kaki panjang dan berototnya di atas panggung ala Beyonce? Ketara, kan? Saya rasa dia melakukannya karena tidak ada yang bisa dia idolakan di Indonesia. Mungkin Imaniar pada zamannya tapi jeda jelas beda zaman. Mungkin dia menggunakan prinsip ‘meniru tapi bedain dikit’.

Wajar dong, ketika Agnez menyatakan akan ‘go international’ di hadapan media, saya skeptis. Sebagai bintang pop yang tidak punya gaya khas dibandingkan orang luar ataupun suara yang spektakuler, Agnez tidak mungkin bisa menembus pasar luar. Apalagi, meraih Grammy seperti yang dia cita-citakan. Namun titik balik itu terjadi ketika Sarah Sechan menyindirnya kurang lebih seperti ‘kalau mau ‘go international’ harus diakui dulu, bukannya bayar.’

Sementara itu, Agnez tengah menjual Fresh Care di kanal lain.

Ketika Sarah menjadi ‘hater’, Agnez tengah bekerja keras. Di titik itu saya bertanya pada diri sendiri, berhak kah Sarah meragukan orang yang sedang mengejar mimpinya? Ketika itu Agnez sedang menjual produk-produk masal di luar ‘brand’-nya hanya untuk mendapatkan uang agar bisa duduk bersama Timbaland dalam studio. Pertanyaan lebih penting lagi, siapa gue untuk meragukannya juga? As if what I said mattered. It didn’t. Saya hanya debu pembangunan kota Jakarta yang tidak habis-habis selama bertahun-tahun.

I realized nobody has the right to tell people that they can’t reach their dreams. So, instead of doubting her, I turned to supported Agnez in a different lime light.

Saya mulai menari dengan sepenuh hati pada lagu Paralyzed. Meskipun masih menurut gaya Rihana, menurut saya, lagu ini memenuhi semua kriteria lagu pop rnb yang baik dan memenuhi standar telinga MTV saya. Nadanya ‘catchy’ dan koreografi dalam videonya juga cakep. Saya memainkan lagu itu berulang kali dan ikhlas mendukungnya sebagai seniman Indonesia yang bekerja keras. Percayalah, Agnez bekerja keras karena koreografinya tidak pernah mudah dan dia adalah salah satu dari sedikit penyanyi Indonesia yang benar-benar bisa menari hip-hop dengan luwes. Meskipun saya tidak suka penggunaan batik dalam video-videonya karena tidak perlu, saya masih bisa salut dia masih menjaga akar identitasnya sebagai anak Indonesia, padahal itu pun tidak perlu.

‘Coke Bottle’ benar-benar membuat saya bahagia. Kolaborasinya dengan Timbaland dan T.I menghasilkan karya kece dan Agnez Mo mulai dikenal dunia musik Amerika. Hari-harinya mempromosikan rambut tanpa ketombe akhirnya membuahkan hasil dengan bekerja bersama produser dan penyanyi terkenal. Oke, sebelumnya dia memang bekerja sama dengan Michael Bolton tetapi musisi ini tidak cukup relevan untuk anak muda sekarang. Lagu ‘Coke Bottle’ berhasil masuk daftar lagu Billboard pada peringkat ke-28. Ini sebuah prestasi.

Meskipun saya adalah penggemar beratnya, ada banyak karyanya yang masih tidak saya sukai hingga saat ini. Video ‘As Long As I Get Paid’ sesungguhnya agak maksa tetapi usahanya patut diacungi 4 jempol. Karya ini diimbangi baik dengan ‘Damn! I Love You’ yang santai, gampang didengar, dengan koreografi berbeda dari gayanya yang biasanya penuh kekuatan dan hentakan.

It’s an adventure to watch her work.

Agnez Mo is an athlete.

Tidak mengherankan anak dari pasangan atlit nasional ini memiliki mental seorang atlit juga. Sejak deklarasi ‘go international’, perempuan ini belum berhenti bekerja dan staminanya layaknya atlit peraih medali emas. Menurut saya, belum ada penyanyi yang bisa menandingi kekuatan dan ketahanannya meraih apa yang dia mau dan tetap konsisten di jalur pop rnb. Dulu, saya pikir Denada akan menjadi perempuan itu, tentunya itu tumbang ketika dia beralih ke dunia dangdut.

Saya tidak menyarankan kamu untuk menyukainya.

But I urge you to appreciate, if not adore, her hard work.

Agnez Mo (setidaknya) selalu terlihat bekerja keras. Saking kerasnya, dia tak tertandingi baik secara aksi panggung, keluwesan menari, menyanyi (iya, tidak ada yang bisa menandingi suara tajamnya), dan cita rasa artistik. Banyak yang mencoba tapi gagal; seandainya saya bisa ingat nama-nama mereka tapi sungguh mereka terlupakan. Setidaknya akui bahwa dia perempuan pebisnis tangguh yang tahu cara mendapatkan cita-citanya dan memasarkan dirinya. Dan Indonesia perlu lebih banyak orang seperti dia: yang mampu berbicara dan membuktikan omongannya.

On that note, here’s one of her underrated songs. Walk. It’s basically a diss track to her haters, calling their bluff. If they can talk the talk, she says ‘let me see your walk (the walk)’.

Murni Amalia Ridha

Written by

Let me have my pragmatic moments.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade