BANDUNG PENUH CINTA DAN NYATA

Penulis adalah satu dari ribuan anak lain di seberang kota yang dapat memasuki bangku kuliah nya Bapak Habibie, Bapak Soekarno dan Bapak Hatta Rajasa. Penulis berasal dari keluarga yang hanya berkecukupan untuk makan dan keperluan papan saja. Namun keberuntungan dan ketekunan kedua orang tuanya dan penulis, akhirnya ia sampai di ganesha ini. Kampus yang sebelum nya tidak pernah ia bayangkan , betapa besar dan betapa cerdas orang-orang di dalamnya. Kampus yang identik dengan beberapa akronim seperti “Terbaik Bangsa” atau “Tekanan (Batin)”, ya demikian lah nuansa menerima bangku kuliah di Institut Teknologi Bandung.

Penulis berasal dari Brebes, Jawa Tengah dan sekarang dijuruskan di prodi perencanaan wilayah dan kota atau Planologi. Sebuah mimpi sedikit dirasakan nya disini. Penulis pernah merasakan momen dimana ia tak yakin akan mimpi nya itu akan berjalan seperti apa dan bagaimana. Momen –momen itu begitu terasa dimana ia harus berada di luar kota Bandung ini untuk mencari sebuah takdir dari jawaban takdir yang diberika Allah S.W.T.

Semoga cerita ini dapat membangun dan menggugah perasaan dan jiwa mahasiswa atau teman sejawat bahwasanya perjuangan yang sejati yakni ketika kita ikhlas dan menerima sebuah takdir dengan terus melanjutkan kehidupan itu, bukan mencari takdir melainkan takdir lah yang akan menghampiri kita. Manusia hanya diberi daya untuk berusaha, dan tekun saja.

Kisah bermula dari kepergian seorang pemuda bersama orang tua paruh baya ke kota mimpi nya itu, sekitar lima bulan lalu (2015). Mereka berpetualang mencari apa itu takdir, sehingga pemuda itu pun rela mengorbankan waktu dan tenaga nya untuk mengulang sekaligus mengumpulkan masa lalu nya, rekaman dan jejak-jejak nya sebelum berada di kota mimpi itu. Dimana di kota mimpi itu, ia dapat dengan tenang memilih salah satu diantara keduanya sesuai dengan kemampuan dan usahanya. Memang benar, orang tua pun tidak dapat memutlakan pilihan anaknya. Mereka mengusahakan agar anak-anak nya menjadi orang sukses.Dengan anggapan itulah, ia tidak direstui untuk datang ke dunia mimpi nya itu. Dunia mimpi itu ibarat suatu istana besar, dimana apapun yang dibutuhkan dalam istana itu besar dan dapat dijumpai dimana-mana. Istana itu, merupakan istana kebahagiaan setempat. Dunia mimpi itu, seperti kota yang memiliki wadah yang besar dan dapat menyesuaikan pendidikan lewat teman-sejawat. Wadah itu dapat menyesuaikan pola isi air yang bergerak, dimana wadah itu variatif , bercorak dan dapat dijangkau saku kemeja ku itu.Dunia kota mimpi itu menyajikan segala kebutuhan nya. Mulai dari menyediakan makan, canda tawa, main-main, belajar plano. Dengan berniat, memang mengikuti dua jalur baru itu ketika berada disana.

Hingga suatu hari, terdengar kabar bahwa akan diadakan sayembara adu tangkas di balai pertemuan itu. Balai pertemuan ini ,tak lain dan tak bukan merupakan balai yang mempertemukan para generasi muda dari berbagai penjuru tanah air untuk menerima dan menanyakan ilmu.

Sejak itu, pemuda tersebut merasakan bahwa apapun yang terdapat di kota mimpi itu menyajikan hal yang berbeda dari kota sebelumnya itu, kota nyata. Pemuda itu pun, membulatkan tekad untuk mencoba mendaftarkan dirinya di sayembara adu tangkas. Memang benar itu merupakan adu tangkas, dengan membawa dua nomer keberuntungan, yakni 115698377698 dan 2015040419. Kedua nomor tersebut, akan sangat berpengaruh pada adu tangkas nanti. Kedua nomor itu menjadi masing-masing cabang adu tangkas itu. Dengan bekal kedua nomor itu, kali ini ada dua jalan kehidupan pemuda itu. Pertama harus memilih salah satu dari kedua nomor keberuntungan tersebut atau harus kembali pulang menuju dunia nyata, kota nyata itu lagi yang menjadi pilihan kedua. Demikian pula, ditegaskan nya dalam hati nya bahwa apapun hasilnya tidak akan disesalkan.

Singkat cerita, pemuda itu pun berhasil menunaikan impian nya di kota mimpi itu melalui nomor 115698377698. Maka bersisa satu nomor lagi, yang rencana adu tangkas itu akan dilaksanakan di desa plosok sana dekat candi roro jonggrang. Kira-kira H-10 sebelum dilaksanakan sayembara adu tangkas itu, naas pemuda itu pun jatuh tersungkur, dan badan yang lemah tak ada yang mengurus itu terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit terdekat. Padahal, salah satu nomer keberuntungan itu belum sempat ia pergunakan. Ia berada di dalam rumah sakit tua, buatan umat kristiani yang menjadi sejarah panjang perjalanan kota mimpi itu. Kalau tidak salah, namanya Bethesda. Kota mimpi tujuannya itu pun perlahan pupus, setelah semakin lama ia tak sadarkan diri. Sebenarnya, pemuda itu hanyalah musafir saja yang hanya ingin mencari bekal hidup nanti. Akan tetapi, dengan membawa sejuta persoalan jika ia harus kembali ke kota nyata tadi, ia masih belum bisa menerima nya. Ia belum menemukan semangat dan motivasi nya untuk berjuang memperjuangkan hidup nya. Setidaknya satu tahun di kota nyata itu, batin nya tersiksa karena kebisingan dan keangkuhan orang-orang di dunia kota nyata itu.

Dengan begitu memprihatinkan, ia harus ditangani oleh beberapa dokter disana. Tak salah lagi, ternyata batin yang tersiksa itu menjadi salah satu penyebab pemuda itu lemah dan menderita usus buntu. Saat itu, tepat sekali dengan pelaksanaan bulan suci ramadhan 1435 H. Masih sekitar lima bulan lalu, peristiwa itu itu terjadi. Ia berkeinginan untuk mencari seluk-beluk keinginan nya walau harus melawan takdir Allah. Ternyata seketika beberapa kali siuman, pemuda itu pun dikejutkan dengan suatu peristiwa aneh. Dimana saat itu, di dunia siumannya ia dipertemukan dengan orang-orang terdekatnya bahwa ia diminta untuk pulang ke rumahnya saja dan jangan pernah kembali ke sini lagi. Perkataan itu seperti terjadi beberapa kali, terbawa oleh nya di dunia siuman nya itu. Memang pengaruh bius 1 ml dari 0,5% Alcohol itu begitu terasa karena harus dibedah bagian usus besar nya.Waktu pun berlanjut di hari kedua pasca operasi, akhirnya pemuda itu bisa merasakan dunia ini kembali. Pemuda itu selamat dengan baik, hanya jiwa nya seperti masih terbawa dengan egoisme kota mimpi dan kota nyata itu.

Pasca operasi, mungkin menjadi masa koreksi dirinya dari awal sebelum berada di kota mimpi hingga sampai saat itu. Satu hal yang ingin didapatkan oleh pemuda itu, yakni bagaimana jiwa dan raganya tidak tertekan oleh rutinitas tuntutan atau tagihan kerja di kota nyata itu. Pemuda ingin sekali, bekal hidup nya selama di kota nyata dapat bermanfaat untuk orang banyak seperti apa yang pemuda itu lihat sejawat nya di kota mimpi yang sudah aktif dan berkarya disana. Suatu saat nanti, jika keadaan nya pulih ia ingin berkontribusi terhadap masyarakat sekitar walau kapasitasnya sebagai musafir pencari bekal ilmu saja. Hal itu lah yang menjadi mimpi untuk ibu pertiwi ku dari dulu hingga sekarang.

Dengan hal itu, ia pun berasumsi bahwa di kota mimpi itulah ia dapat melakukan segalanya tanpa ikut campur urusan tagihan kerja di kota nyata. Akan tetapi, ia tidak gegabah dalam mengambil keputusan tersebut. Ia selalu membincangkannya dengan orang tua nya, bapak dan emaknya.

Hingga, diputuskan bahwa pemuda itu akan menerima segala keputusan yang terjadi sesuai dengan kehendak orang tua yang mengasuhnya selama ini. Saat itu pula, kedua orang tua nya datang menghampiri bersama saudara sepupu nya untuk menjenguk keadaan penulis yang tiada berdaya. Mereka selayaknya keluarga yang sangat harmonis, mereka memperbincangkan masa depan anaknya itu diantara orang-orang yang sedih memikirkan kondisi anaknya dalam pesakitan itu. Masalahnya, saat itu orang tua pemuda itu tidak membawa bekal uang lebih.

Dengan mengharap bantuan dari pihak yayasan umat kristiani itu, akhirnya atas unsur kemanusiaan dan persaudaraan bangsa Indonesia itu, yayasan kristiani membantu biaya pengobatan pemuda itu sekitar 30 %. Untungnya dalam persoalan uang seperti ini, kita merasa terbantu walaupun hal itu harus ditanggung malu dan menyusahkan orang lain.

Demikian pula dengan keputusan saat itu, bahwasanya jika ia dinyatakan diterima di sayembara itu ia akan mengusahakan untuk semakin dekat dengan impian dan mimpi itu. Akhirnya, Pasca operasi kurang lebih 12 hari lagi ternyata pemuda itu dinyatakan lolos dan masuk sebagai seorang pelajar angkatan 2015 ini. Dengan sedih, ia harus mengakui ia masuk di tempat yang mana bukan pilihan utamanya. Saat itu terpikir, pemuda akan berhasil disana tetapi kedua orang tua ku memberikan nasihat dimana ia harus memikirkan mimpi saat siuman itu.

Berbagai pertimbangan pun muncul, setidak nya memang berat di awal. Dengan terpaksa, pemuda itu pun harus mengakui bahwasanya dirinya salah dan dirinya lebih meminta persetujuan kedua orang tuanya itu untuk mengirimkan nya sesuai dengan kehendak mereka. Awalnya, kedua orang tua nya membolehkan pemuda itu untuk pergi ke kota mimpi itu, tetapi berkat suara hatinya itu apalagi melalui mimpi untuk kembali pulang, membawa sikap untuk memaksa ia kembali ke kota nyata.

Pemuda itu pun yang tak lain adalah penulis, Eko Fajar Setiawan dengan niat yang tulus hanya semata-mata ingin berbakti pada kedua Orang tua. Akhirnya, ia pun menuruti kedua orang tuanya. Hanya saja, saat awal-awal pun demikian kalau penulis ingin meninggalkan takdir yang harus diterima. Untungnya saat ini, penulis sudah menemukan cara agar dapat merealisasikan segala mimpi untuk ibu pertiwi nya itu. Berkat beberapa peristiwa itu, ia banyak mengambil pelajaran hidup yang paling bermakna. Ternyata yang terpenting ialah belajar dari orang kecil. Mengingat saat ia dan keluarga nya ditolong oleh suatu yayasan ketika sakit, dan mendapat beberapa mimpi bertemu orang-orang menjadi pemicu tumbuhnya semangat untuk kembali berada di kota nyata lagi, Kota Bandung.

Melalui bekal hidup di kota mimpi ini lah, kota Yogyakarta ini, ia menemukan kesukaan nya pada dunia sejarah, budaya dan komunikasi. Dengan hal itu, ia terbawa untuk menjadi seorang pengenal, inisiator dalam kebudayaan dan kepedulian masyarakat.

Saat ini, selain melanjutkan perkuliahan di Kota Bandung itu. Ia sembari melakukan kampanye penggunaan wayang golek sebagai media interaksi, juga seringkali membantu bapak-bapak di musholla untuk mengisi waktu luang dengan belajar- mengajar al-qur’an.Aktivitas sekarang nya itu, tak lain dan tak bukan merupakan potret seorang sejawatnya, di Kota Yogyakarta. Di sisi lain, sejawat nya itu melakukan aktivitas yang sama dan sering berbaur dengan masyarakat sekitar. Begitupun dengan permainan seni budaya nya. Sejawatnya seringkali menonton dan melihat pertunjukkan wayang kulit di Yogyakarta itu dengan saling bercengkrama.

Tak lama, dari kembalinya di Bandung. Baru saja kemarin, penulis diminta mempresentasikan paper nya di depan dosen dan civitas akademika UGM, Yogyakarta. Kalau tak salah, acara tersebut dilangsungkan di gedung sidang LPP UGM dalam peringatan UGM Expo 2015 Beberapa bulan lalu, ketika menapakkan kaki di Yogya, ia ingat perjuangan mencari takdir yang memang sudah ada di depan matanya. Saat ini yang ia lanjutkan adalah bagaimana mimpinya itu terealisasikan dalam rangka belajar dari orang kecil. “Dalam diri orang kecil lah, sebenarnya kita ini ada dan kita harus belajar dan mengambil hikmah dari mereka” (Soekarno, 1927). Saat itu pula, ia yakin bahwasanya di kota Bandung lah, ia akan menjadi nyata dan mewujudkan mimpi untuk belajar dan membantu orang-orang kecil.

Ditulis pada bulan November 2015

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.