Buat Apa dan Siapa Kita Berhimpun

Ditulis Oleh Eko Fajar Setiawan 15414035/ Agan-wayang

“Pada dasarnya, setiap individu dari kita adalah makhluk sosial. Khoirunnas anfauhum linnas, sebaik-baiknya manusia ialah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Beberapa pernyataan dan dalil terkait manusia adalah makhluk sosial telah jelas terbukti ”. Manusia tidak bisa hidup, tanpa peranan orang lain. Kalau anda ingin hidup, maka berbicaralah. Diam lah, jika anda ingin mati penasaran. Tak perlu bunuh diri.

Menurut beberapa definisi, berhimpun dapat disamakan sebagai kegiatan berkumpul atau bersatu. Terlepas dari definisi di atas, berhimpun disini lebih dekat terhadap proses pencarian jatidiri, proses mendewasakan, mematangkan, dan pembelajaran sesuai keahlian yang sama dalam satu organisasi atau wadah. Proses-proses itulah yang akan menghantarkan setiap anggota nya untuk menemukan segala macam keunikan dalam dirinya, sehingga harusnya tiap-tiap individu itu memiliki ke-khasan dalam berhimpun.

Membahas, berhimpun tentu tak dapat lepas dari kata ‘himpunan’, yang sering sekali didengar oleh mahasiswa-mahasiswi di Indonesia. Sebagian ada yang berpendapat, bahwa himpunan serupa dengan pergerakan mahasiswa/i, dan disamakan dengan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di beberapa kampus di Indonesia. Apalagi jika dibandingkan dengan kampus saya ini, ITB, dimana pergerakan mahasiswa jauh lebih prestise bermula dari wadah himpunan. Lalu, bagaimana dengan mahasiswa non-himpunan ? Buat apa dan buat Siapa kita , berhimpun? Lebih jauh dari itu, apakah saya bisa survive di ITB, tanpa berhimpunan ?

Penulis adalah mahasiswa Tingkat 3 Program studi perencanaan wilayah dan Kota ITB, yang sedang membantu kaderisasi Mahasiswa/i Perencanaan Wilayah dan Kota untuk tingkat 2 di Himpunan Mahasiswa Planologi Pangripta Loka ITB (HMP PL ITB). Jauh sebelum ini, penulis masih turut berpartisipasi di Paguyuban, Unit Kegiatan Mahasiswa maupun Ekstra Kampus (seperti kmnu itb, dan Komunitas Wayang Peraga Bandung). Saya menulis dengan tujuan mengajak massa kampus dan atau para mahasiswa/i (pengkader/ dikader) agar bersama-sama mengkaji apa makna di balik berhimpun yang sebenarnya. Saya ceritakan bagaimana prinsip dan motto hidup saya. Semoga dapat selalu saya pegang. Saya memiliki prinsip, bahwa ‘‘setiap manusia yang pernah/ada di dekat kita, jauh atau tidak, baik atau tidak, ketika dia membutuhkan seorang ‘saya’ maka sebisa mungkin akan saya bantu semampunya’’ sehingga motto hidup saya, tentu “bermanfaat untuk orang lain”. Sejak prinsip dan motto itu ada, saya mungkin jadi orang 100% melankolis sekali. Setiap ada orang yang butuh bantuan, saya bantu dan saya urus bahkan sering juga jadi korban sejak di tingkat satu/ TPB ITB. Dulu sempat gak terbayang, jadi pj muslim/ah sappk di angkatan, eh , karena sikon akhirnya aku yang saat itu terpilih. Tak terbayang sama sekali, kalau saya bakal jadi aktivis di ITB, mungkin.

Bahkan sampai saat ini, aku tak mau dipanggil sebagai aktivis, aku hanya ingin membantu mereka yang sedang membutuhkan orang. Kasihan kan, kalo organisasi itu stuck, apalagi kalau kekurangan orang. Berbicara mengenai berhimpun ini, saya ingin menarik makna lebih luas dari faktanya di lapangan. Berhimpun disini bukan berarti kita harus mengikuti himpunan di ITB melainkan berhimpun disini tentu berkegiatan dengan mengembangkan ruang untuk belajar. Kenapa demikian?

Pertama, apakah orang yang belajar harus berkumpul dalam tuntutan wadah dan profesi yang sama? Bisakah Survive apalagi di ITB?

Kedua, Buat apa dan siapa kita berhimpun dalam wadah itu ?

Ketiga, bagaimana peran dan komitmen kita terhadap kita ? Apakah ketidakhadiran “aku” , akan mempengaruhi himpunan itu?

Mari kita jawab satu-satu…

Pertama, apakah orang yang belajar harus berkumpul dalam tuntutan wadah dan profesi yang sama? Jawaban nya, itu Tidak Harus. Asal ada niat dan keseriusan untuk mempelajari hal apapun, siapapun, kapanpun dan dimanapun, insyaallah Allah buka jalan dengan kemudahan belajar. Anda mau bukti? Nah, BUKTINYA saya seorang pengusul berdirinya komunitas wayang peraga Bandung, yang mana saya mencetuskan pembelajaran seni dan tradisi wayang golek kepada anak-anak. Saya dibantu oleh teman-teman paguyuban, yang mana tak seorang pun dari kami mengikuti unit kebudayaan Jawa atau LSS sekalipun. Alhamdulillah,sebagai komunitas. Kita tak pernah luput dari kata prestasi, pernah masuk top 10 Godrej Loud Project 2016 Indonesia dan Top 3 Unilever Career-Purpose Driven Leaders kok. Berkat kesungguhan dan niat ingin mengangkat produk lokal wayang cepak Tegalan, akhirnya saya dan teman-teman bisa membuktikan kok. Walau tak sebesar PSTK, LSS sekalipun yang sudah mengadakan konser. Kita juga sering nampil di acara lapak ke lapak orang.

Intinya, permasalahan belajar itu kembali kepada diri kamu. Hanya, saya sebagai pencerita ingin berpesan kepada pembaca semua, bahwa alangkah mudah nya jika bergabung dengan wadah yang seprofesi atau se-minat dengan kita. Saya sendiri menyayangkan diri saya sekarang, terpikir sekali bagaimana membentuk sebuah perkumpulan wayang golek di ITB, dengan nama besar seperti LSS/ PSTK namun terbentur masalah anggota/ sdm. Bagaimana cara mengajak massa kampus dengan nama yang tak ubah nya sekelas paguyuban? Penulis sadari itu, dan kemarin sempatlah terpikir untuk bergabung dengan mereka. Akan tetapi, bagaimana aku harus memulainya ? Aku tak bisa untuk dikader mereka lagi, aku juga memiliki aktivitas sendiri. Bagaimana aku bisa komitmen dengan mereka sementara aku berada di puncak kemahasiswaan, amanah lain pun telah ku genggam.

Pesan saya untuk poin pertama: ayolah teman dan pembaca semua. Jangan sia-siakan mencari wadah untuk belajar selagi KITA MASIH MUDA, dan BELUM TERLEWAT USIA. Sebelum anda kehujanan, sediakan lah payung sebelum bepergian. Sama halnya, dengan carilah wadah belajar. Sebelum anda kebingungan menemukan dan mengembangkan pembelajaran itu. Carilah wadah belajar yang satu rumpun dan satu pemikiran dengan anda.

Terkait itu, apakah orang yang tidak berhimpun bisa survive ? Tentu mengkaji dengan kasus di lapangan, dan ditarik lebih luas maknanya, tanpa berhimpun di ‘himpunan ITB’ insyaallah masih bisa dapat indeks A dan Lulus dengan Sangat Memuaskan dan adapula yang Cumlaude, walau tak banyak. Hanya sangat dan sangat disayangkan, ketika proses pembelajaran itu tidak menyertakan perjuangan dan kontribusinya kepada seluruh teman-temannya. Rasanya, anda mengayuh cepat dan sendirian walau di tengah jalan sehingga anda akan capek dan terhenti di suatu titik yang tak jauh tetapi apabila anda ingin mengayuh jauh, kayuhlah bersama teman-teman mu agar kau nikmati bersama sehingga tak akan capek atau terjatuh di satu titik saja.

Selanjutnya, Buat apa dan siapa kita berhimpun dalam wadah itu ?

Buat apa, kita berhimpun dalam ‘ himpunan’ itu kembali ke anda masing-masing. Saya hanya memberikan cerita pada anda, bahwasanya kesempatan dan peluang anda untuk belajar lebih dan luas tentang profesi anda, jauh lebih mudah di himpunan di ITB dan akan berkelanjutan. Bukan hanya sekadar kata belajar, melainkan kekeluargaan pun akan terasa manfaatnya. Betapa pentingnya berhimpun jika anda tau esensi berhimpun yang sebenarnya. Terus buat siapa kita itu, berhimpun ? Tentu yang akan merasakan anda sendiri. Alhamdulillah hampir 1 tahun saya, bersama himpunan sekaligus se-angkatan, karena memang 1 angkatan himpunan semua , kami begitu saling memiliki satu sama lain. Percaya atau tidak, ini terjadi kok.

Saya juga merasakan sendiri arti pertemanan dan solidaritas melalui himpunan pula. Himpunan memang sebuah pilian kamu, tetapi tidak satu-satunya pilian untuk belajar. Masih banyak dan masih luas peluang kamu untuk belajar dimanapun. Berhimpun pula menumbuhkan arti kepekaan dan saling memiliki satu sama lain. Apabila tema integrasi saat ini, menumbuhkan empati kepada lingkungan sekitar. Justru, itu semua sudah ada pada Osjur / Kaderisasi yang baru aku alami di Tingkat dua. Saya pun masih ingat betul, ketika saya merasakan arti 1 orang itu penting banget di himpunan.

‘’Teringat oleh saya, seketika di tengah perjalanan, aku harus memutuskan untuk berhimpun atau tidak. Saya pun beralasan karena fisik saya sehingga saya memutuskan untuk tidak berhimpun, Betapa mengharukan sekali, ada salah satu teman terdekat saya, Gilang Pangestu, yang hendak pula berikut serta untuk tidak berhimpun. Wah, suasana saat itu begitu mengharukan seolah-olah panitia dimabukkan dengan sandiwara yang makin larut malam dan menegangkan.”Untungnya, saya pun berhasil dibujuk oleh seorang danlap yang begitu menginspirasi saya dan begitu memberikan dorongan saya agar terus bertahan di MPAB (Masa Persiapan Anggota Baru) HMP.

Melalui himpunan, alhamdulillah saya masih terselematkan di ITB pada era krisis TPB saya yang bermasalah. Begitu mengharukan sekali, ketika 34 orang itu berhasil ujian bersama untuk kelas mengulang. Bagi teman-teman di planologi, tentu tak asing sekali dengan Kimia 2 B atau Kalkulus hehe. Penulis sadar kok, ketika semua ma-fi-ki di ITB terpaksa dijejal atas nama penyesuaian di SAPPK walau memang kurang sejalan dengan pola pikir mahasiswa SAPPK yang cenderung sudah matang di sosial nya. Hmmm J. “Masih ingat betul, ketika semua teman2 himpunan memberikan semangat pada kami untuk lulus matkul tpb yang mengulang itu.”

Pesan saya untuk poin kedua ini : ayolah teman dan pembaca semua. Jangan sia-siakan mencari wadah untuk berhimpun. Apalagi jika anda sedang bermasalah di tingkat pertama/ TPB. Tentu perihal advokasi dan inspirasi atau spirit untuk survive di ITB bakal kalian temukan disini. Percaya atau tidak, HMP PL ITB memudahkan langkah anda (para veteran TPB) untuk berjuang lebih dan insyaallah jika anda taati aturan akademik untuk kelas mengulang, pasti lulus kok TPB nya. Asal anda tetap ikhtiar dan sungguh-sungguh ikhlas untuk berada di ITB, insyaallah dimudahkan.

Terakhir, bagaimana peran dan komitmen kita terhadap kita ? Apakah ketidakhadiran “aku” , akan mempengaruhi himpunan itu?

Untuk poin yang ketiga ini, dari hati anda untuk bersungguh-sungguh berada di himpunan atau tidak. Penulis sadar, jika penulis belum selalu hadir dalam setiap RA/ Hearing yang dilaksanakan oleh HMP. Penulis sadar, bahwa pembelajaran tidak hanya didapatkan dari Himpunan. Penulis pun tau, bahwa tak ada artinya menumpang nama dalam sebuah wadah organisasi sebesar HMP.

Pernah, saya ditegur oleh Mas-mas kmnu, “Buat apa himpunan ? Gak ada serunya berhimpun, paling disuruh kumpul buat Rapat / hearing-hearing aja, sedikit banget ruang untuk belajar agama. Bosen. Mending ikut ngurus untuk kajian bakdha dzuhur dan aktif disini”. Kedua asumsi dari kedua orang itulah yang selalu terngiang kepada telingaku saat malam keputusan untuk berhimpun atau tidak. Begitu kuat amarah saya, ingin cabut dari kaderisasi ini yang lelah sehingga membuat fisik saya tak stabil. Kembali saya ulang, “Teringat oleh saya, ketika di tengah perjalanan, aku harus memutuskan untuk berhimpun atau tidak. Saya pun beralasan karena fisik saya sehingga saya memutuskan untuk tidak berhimpun, Betapa mengharukan sekali, ada salah satu teman terdekat saya, Gilang Pangestu, yang hendak pula berikut serta untuk tidak berhimpun. Wah, suasana saat itu begitu mengharukan seolah-olah panitia dimabukkan dengan sandiwara yang makin larut malam dan menegangkan.” Dulu, sependapat dengan Gilang Pangestu bahwa kaderisasi ini telah membuat jadwal sholat tidak teratur, pola istirahat dan makan gak terjadwal dengan baik sehingga peserta merasa tidak rapi sesuai kebiasaannya. Hampir saja saat itu, dua orang, saya dan gilang keluar dari proses itu. Untungnya, salah satu dari kami, yakni saya dibujuk oleh danlap ganteng untuk lebih berpikir jernih dan memanajemen konflik alias menenangkan diri.

Kedua asumsi mas-mas kmnu tadi, saya pinggirkan sesaat dan mencoba mengikuti saran danlap untuk lebih peka terhadap teman-teman semua. Baru setelah itu, beberapa hari kemudian, tepatnya di ujung kaderisasi itu, terputuskan sebuah komitmen pada diri saya bahwa saya ingin mempersembahkan emas pkm untuk ITB dan HMP PL ITB. Saya benar-benar ingin mengembangkan kemampuan menulis secara akademik di HMP. Adapula inspirasi saya di HMP saat itu, adalah mas Izzudin , Mas Zainal Ibad, Mba Fuji dan Mba mince / aulia serta Mbak Wija. Mereka pencerah, dan figur terpilih dari serangkaian kaka tingkat yang coba tiru jejaknya. Walau aku sadar, emas pkm ITB 2016 tidak mungkin aku dapatkan karena fokus yang terdistraksi akibat mengulang TPB. Akhirnya, aku pun menyesuaikan target komitmen ku dengan kapasitas ku dari mulai Duta Bahasa Jawa Tengah (Finalis), SEALS (South East Asian Summit), ITBin Move 2015, UGM Expo 2015, Godrej Loud Project, serta Unilever Career dan terakhir Indonesian Culture and Nationalism 2016 (Icn Conference) mewakili Jawa Barat. Saya pun masih, merasa berhutang kepada himpunan terutama emas pkm tadi. Saya merasa tak enak pada kaka jahim ku, mas Hanfie Vandanu yang memberikan jahim nya padaku karena saya belum menunjukkan emas pkm buat dia, PL dan ITB umumnya. Hutang komitmen itu,saya usahakan untuk tetap terlaksana walau itu bukan aku, melainkan teman-temanku yang mencoba mendapatkannya. Memang Saat ini saya masih mengabdi Untuk Staff Keprofesian HMP PL ITB BP Yuk,sehingga masih ada peluang terakhir untuk memberikan impresi yang luar biasa pada keprofesian ini.

Maka dari itu, pesan saya untuk pembaca (peserta): Buatlah komitmen gila, dan luar biasa kepada wadah yang akan kalian ikuti, semisal HMP PL ITB. Tentu komitmen yang mendorong anda untuk bersemangat dalam berhimpun.

Jika dijalani dengan ikhlas, akan terasa nikmat kok. Salah satunya adalah aku, sebagai Pencerita ini saja. Walau masih berkomitmen untuk memberikan emas dari pkm, belum/ tak akan didapat tetapi kebanggaan dari diri sendiri mengikuti beberapa kompetisi, itu lebih tersyukuri sepanjang keberjalanan saya di ITB. Tentu, membawa planologi di beberapa ajang kompetisi telah membawa dampak positif pembelajaran pada diri saya Sendiri, bahwa belajar tidak seharusnya berada dalam wadah SATU saja tetapi dapat belajar dimana saja. Jika HMP butuh link relasi ke UB, UGM, UI, ITS, UNHAS, UDAYANA, bahkan UNCEN (Universitas Cenderawasih Papua) dengan sendirinya, saya akan membantu mencarikan melalui kenalan-kenalan saya disana. Alhamdulillah, juga ketika mas-mas kmnu tadi telah menjadi border bagiku untuk terus mengingat pentingnya belajar agama selama menjadi mahasiswa/i. Belajar di Himpunan, memang luas sekali untuk berprofesi atau bermasyarakat, tetapi nilai-nilai pembelajaran agama di himpunan nampaknya belum begitu terasa. Apabila kamu seorang aktivis dakwah di ITB, lanjutkanlah eksis di Gamais, apabila seorang nadhliyyin, muhammadiyah atau Hizbut Tahrir sekalipun, silakan pilihlah sendiri wadah –wadah itu, karena justru itulah yang akan menambah ilmu kalian.

Sekarang, betapa pentingnya HMP, unit, ekstra kampus(paguyuban Dll) ketika berada di tingkat 3 ini. Begitupun semua pembelajaran yang kulalui, baik dalam ITB atau luar ITB. Satu sama lain saling melengkapi. Ketidakhadiran aku di salah satunya mungkin tidak begitu berpengaruh dalam sistem dan kaderisasi yang terjadi pada wadah-wadah tersebut tetapi yang terpenting adalah teman di setiap wadah itu.

“Lebih dari sekadar itu, kekeluargaan bagiku lebih berarti daripada sebuah status satu angkatan, satu himpunan. Berkeluarga tidak harus memiliki ikatan lahir-batin tetapi mencakup kebutuhan afeksi (saling pengertian, peka dan menghargai) saja itu arti dari kata keluarga.”

Sumber : Kehidupan Penulis, dengan sedikit sentuhan.

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.