Kembali ke Ranah Perjuangan nya.

Akhir Semester 2 ITB, menjadi sebuah titik balik sekaligus penyemangat berkuliah di ITB. Dimana, di akhir semester ini, mungkin bagi sebagian orang akan merasa menjadi mahasiswa ‘asli’, karena tidak akan bertemu dengan matematika, fisika dan kimia. Akan tetapi, bagi sebagian orang lainnya, ini malah mungkin akan terulang kembali di tahun selanjutnya. Maka dari itu, dibutuhkan suatu daya dorong atau effort lebih pada seorang mahasiswa untuk menghadapi segala situasi tersebut.

Untuk mendapatkan suasana dan nuansa yang demikian, maka waktu saat liburan dianggap tepat untuk mengisi hal-hal tersebut. Libur akademik Semester dua ITB, dimulai sejak tanggal 21 Mei 2015. Sejak itu, penulis sudah berada di Kampung halaman tepatnya di daerah Timur bagian Tengah Kabupaten Brebes tepatnya di Dusun Jatibarang Lor.

Awalnya, penulis sempat ragu untuk pulang tanggal sedemikian. Akan tetapi, dikarenakan kondisi fisik dan psikologis penulis yang sedikit terganggu menyebabkan hal itu harus segera dipulihkan. Penulis memang sudah mendaftarkan diri untuk mengikuti kegiatan diklat terpusat OSKM ITB 2015. Akan tetapi, dengan kondisi nya itu, hal ini menjadi sebuah realita pahit yang harus diterima. Dia membatalkan kegiatan diklat tersebut dan memilih untuk berpulang kampung terlebih dahulu.

Kedatangan nya sangat dinanti oleh orang tua nya, bergitupun oleh warga sekitar tempat tinggal nya. Tiba dengan selamat , sekitar pukul 16.50 WIB menjadikan kesempatan nya untuk bebersih diri dan beristirahat.

Setelah beristirahat dengan cukup selama 13 jam ,kira-kira pada tanggal 22 Mei pagi dini hari. Penulis merasa terjaga dari bangun nya yang lelap itu. Hal itu, mendadak menjadi keterbalikan dalam masa depan kuliah nya. Dalam terjaga nya itu, penulis bermimpi bahwa dia belajar ilmu Sosial dan hal-hal yang bersifat kelingkungan nonfisik, masyarakat, politik dan sosial budaya. Dalam fikiran nya itu, penulis menduga kalau diri nya telah mendapatkan keilmuan yang sesuai harapan nya saat itu, yakni tidak belajar lagi mata pelajaran matematika atau kimia

Kabar nya, penulis masih harus memelajari nya pada semester selanjutnya. Maka dari itu, dengan adanya hal tersebut penulis memutuskan untuk mengikuti pelaksanaan SBMPTN 2015 untuk jurusan SOSIAL dan HUMANIORA. Dengan keteryakinan dan kepercayaan, penulis siap untuk membantingkan setir dari IPA ke IPS untuk saat itu.

Akan tetapi ini, menjadi sebuah ironi dimana saat itu, dia juga dikabarkan masih diberikan kesempatan untuk mengulang kembali mata pelajaran SMA tersebut sekaligus dia juga mendapatkan jurusan planologi. Dimana planologi, juga sejatinya adalah rumpun ilmu yang berada di tengah-tengah, diantara fisik atau nonfisik, lebih khususnya sosial atau eksak.

Dengan keadaan yang sedemikian, penulis pun bingung untuk memilih jalan. Akhirnya, dengan terlebih dahulu bermusyawarah dengan orang tua. Penulis tetap ingin meneruskan untuk membantingkan setir nya. Esok nya, sekitar tanggal 23 Mei 2015, Penulis berkelana mencari jalan keluar dari semua permasalahan jatidiri, akankah selama 4 tahun mengenalana di eksak, akan berakhir seperti apa jika mengambil sosial humaniora. Dengan kebingungan itu, penulis pun keluar dari rumah, dan mambawa sepeda mini milik mamak nya itu. Dia sempat emosi, dan bingung mengayuh sepeda tak tau arah. Dia hanya bertekad ingin menyelesaikan masalah nya itu. Hidup saat itu, menuntut nya untuk berpindah haluan. Akhirnya, dengan tekad yang bulat, dia terus mengayuh sepeda nya sampai ke Kota Tegal. Sebuah kota yang jarak nya tak terhitung dari rumah nya, mungkin kurang lebih 18 Km jauhnya. Itu pun sekali jalan dan ditempuh di jalan yang bepermukaan halus. Mungkin kalau dihitung bersih, rerata 20 Km jauhnya.

Siang terik itu, di Kota Tegal, dia memutuskan untuk membeli beberapa buku ilmu pengetahuan sosial, diantaranya Sosiologi, Geografi, Ekonomi dan Sejarah. Dari keempat jenis buku tersebut, berhasil dia dapatkan. Dengan perjuangan mengayuh sejauh total 40 Km, dia bertekad dan mengkhayal untuk mendapatkan jurusan sesuai dengan bakat alamiah nya, yakni Ilmu Sosial.

Sejak kecil, penulis memang seorang sosialis ulung. Dikatakan pandai di bidang sosial, tidak juga. Dikatakan mahir di hitung-hitungan, bisa dikatakan asal ikut malah. Oleh karena, kemampuan yang setengah-setengah itu, dia begitu tertarik mempelajari kedua nya.Dengan dasar tersebut, penulis yakin dapat masuk Universitas harapan nya kelak.

Belajar tak kurang lebih 14 Hari, tibalah saatnya tanggal 9 Juni 2015. Hari itu, dimana menjadi hari yang sangat penting bagi hidup nya. Dirinya mengikuti Program Ujian SBMPTN 2015 di Yogyakarta, tercatat nama nya di daftar peserta. Begitupun, hasil yang telah menulis nama nya di Universitas Diponegoro 2015. Akan tetapi, mungkin itu sedikit kisah perjalanan nya.

Perlu diketahui, akhirnya penulis kembali ke Bandung, Kota Perjuangan karena mengalami beberapa pengalaman hidup yang sangat mengguncangkan jiwa dan raga. Dengan harapan, mendapat hal indah, malahan mendapat hal yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketika di perantauan sana, dia sempat diopname sesaat sebelum H-5 menjelang tes Ujian Mandiri STKS Bandung. Pada tanggal 20 Juni 2015, penulis divonis mengidap penyakit radang usus/app, sehingga terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit, salah satunya ada Rumah sakit Bethesda.

Penulis masih ingat benar, kejadian-kejadian sebelum kesakitan itu, salah satunya adalah dia membuat restorika akademik bagi organisasi kepengurusan ekstrakurikuler PASKIBRA SMA Negeri 1 Slawi. Restorika tersebut, dia susun sedemikan rupa sesuai dengan harapan nya, bahwa ingin mereformasi nilai akademis adik-adik ekstra nya melalui program kerja yang real / nyata. Program tersebut, kini menjadi arah acuan program kerja PASKIBRA SMA Negeri 1 Slawi.

Siang itu, sekitar jam 08.30 tanggal,19 Juni 2015, dia jatuh tersungkur di atas perapian tidur nya. Dia kesakitan , ibarat orang yang mau sekarat mendadak. Umur dan mati memang sudah ditentukan, dia yang jatuh tersungkur pun mencoba berusaha bangun dan akhirnya dengan terpaksa, membatalkan puasa ramadhan nya. Dia minum seteguk air, tapi rasanya perut masih mual dan muntah. Itu pun sedikit-demi sedikit. Dengan perlahan, akhirnya penulis bertekad ke puskesmas untuk memeriksa kondisinya itu. Dia hidup sendirian di kota gudeg itu. Dia juga tak tau arah puskesmas nya. Dengan pengharapan cemas, tiba-tiba di jalan , dia bertemu dengan seseorang yang mengaku kalau dia adalah tukang ojek. Mungkin, dirinya berpikir perkiraan itu benar akan tetapi ternyata salah. Sebab, setelah sampai di puskesmas, beliau malah membayarkan biaya administrasi nya. Justru, saat itu lah menyadari bahwa dalam hidup kita tidak sendirian, kita punya teman walau bukan seumur atau seasal.

Sayangnya, ketika akan pulang, dia sudah ditinggalkan oleh orang tadi sehingga dia pun terpaksa meminta bantuan orang lain. Lagi-lagi, di puskesmas, dia ditolong oleh ibu-ibu puskesmas yang melihat nya begitu kesakitan. Sebenarnya dan seharusnya,dia harus sudah dioperasi saat itu. Hanya saja, dia tidak memiliki uang dan belum memberikan kabar ke orang tua nya itu di dusun nya.

Dengan berat hati, dia meminta kepada ibu dokter yang memeriksa nya di puskesmas untuk memberikan kabar yang sebenarnya, kepada orang tua nya di dusun. Mendengar dan melihat realita, ketika terkena app, dia jatuh perasaan dan batin nya. Dia tak tahu harus bagaimana. Perut dan badan nya kesakitan dan nyeri sepanjang usus besar hingga kaki. Rasa nya itu ibarat ditindas dan dihantam beberapa pukulan , di depan perut. Dia pasrah, dan akhirnya dibawa lagi di tempat tinggal kost nya di perantauan Yogyakarta.

Sore, sekitar pukul 18.49 WIB, bapak nya datang dari dusun. Beliau tidak percaya kalau putra nya sedang kronis dan diujung tanduk. Beliau hanya memikirkan, bahwa anak nya tidak mengalami app, kata nya ini adalah sakit demam dan masuk angin. Ingat benar, beliau menggosok/ mengerok punggung anak nya karena khawatir masuk angin biasa. Saat itu, memang dalam tempo 2 jam , perut sang penulis agak baik. Akan tetapi lebih dari itu, rasa nya perut menjadi kian beban dan sakit. Dia masih ingat benar bahwasanya kaki kanan nya sulit untuk diangkat.

Oleh karena itu, bapak penulis terpaksa membawa anak nya ke rumah sakit terdekat setempat, salah satu nya adalah Rumah Sakit Bethesda, Lempuyangan Yogyakarta. Pagi itu, sekitar pukul 06.00 , penulis diinfus. Terasa, momen 9 tahun itu datang kembali, dimana di saat itu pula, dia terakhir diinfus.

Sore jam 14.30, 20 Juni 2015, penulis dibawa ke sebuah ruangan besar dan canggih. Dia menyebutkan inilah ruang akhir zaman. Sebelum memasuki ruang tersebut, penulis dibius dengan kadar ketahanan bius sekitar 5 Jam dari operasi. Rasa pusing nya , terasa sungguh melayang. Dunia mendadak jadi indah saat itu. Terkadang dunia bius itu khayalan yang indah, tak jarang para pecandu narkoba sering memakai nya. Rasa nya beban dalam hidup lepas dan jauh disana. Kini yang ada , saat itu, adalah penulis dan Yogyakarta atau penulis dan Ilmu Soshum.

Satu hari pascaoperasi pembedahan perut, penulis benar benar merasakan nikmat nya sebuah kesehatan. Saat itu, penulis belum dibolehkan meminum air, seteguk pun belum boleh sebelum mengeluarkan kentut/ bunyi suara dari dubur. Akhirnya, penantian itu tiba. Dia senang sekali dapat meminum setetes sendok makan secara berkala. Pertama hanya dibolehkan tiap 2 jam sekali. Hingga berlanjut, dapat minum kembali seperti sediakala saat hari kedua pascaoperasi.

Bukan hanya minum saja yang susah, untuk bangun dari perapian tidur saja rasa nya susah sekali. Dengan demikian, dia hanya dapat mengeluarkan hajat dari tempat tidurnya. Dia masih ingat benar, ketika mengeluarkan urine yang harus dimasukkan ke suatu bejana kecil, berleher. Hanya untuk mengeluarkan itu saja, perlu ada bantuan orang lain untuk memasukkan penis nya. Oleh karena itu, sungguh besar nikmat sehat itu. Apa pun kejadian dan apa pun yang terjadi, sebenarnya hidup untuk sehat begitupun sehat untuk hidup. Kesehatan tetap lah nomer satu.

Singkat cerita, penulis pulang ke dusun tercinta, di Jatibarang Lor, Brebes pada 23 Juni 2015 malam hari pukul 20.00. Memang jodoh tidak kemana. Ketika dalam perjalanan pulang, penulis menemukan sosok gadis dimana usia lebih tua dari dirinya. Ternyata beliau adalah Ibu Guru, dari Klaten yang mengajar di Neutron Yogyakarta. Beliau kenal benar dengan rekan nya, Fikri Aulia Khoirunnisa. Rekan seperjuangan nya dulu ketika tahun pertama di ITB. Hingga diskusi itu berlanjut ke hal yang inti, “mau apa kamu di jogja”. Mendengar pertanyaan itu, hati dan fikiran nya terguncang. Apa yang harus dijawab? Hingga jawaban itu muncul, “saya hanya melakukan tugas jurusan, saya hanya ingin studi banding dengan pwk UGM”. Mengatakan hal seperti itu, membuat hati nya menangis, dan merenta saja. Jika apa yang telah dilakukan nya itu dosa dan kesalahan. Lalu , kenapa justru dia ditolong saat mau ke puskesmas. Ini bukan dosa. Fikir dalam batin saat itu, mengatakan bahwa dirinya merasa mampu dan cocok di ilmu sosial , padahal sudah mendapatkan pwk yang mungkin beririsan dengan rumpun ilmu sosial. Kemudian, kenapa dilakukan ?

Dengan berbagai masukan , berkali-kali penulis berpikir tentang dirinya, beristikharoh dan bermunajat kepada Yang Maha Hidup dan Mematikan. Hingga, jawaban itu pun datang ketika bersama anak-anak Al-Mukhlisin dan rekan SMA nya, bahwasanya mereka sebenarnya ingin menggapai cita-cita mereka. Mereka tetap berjuang, walau orang tua sudah tidak bersama mereka. Iya, kebersamaan itu tumbuh sesaat kegiatan Mercon, Meraih Rahmat dan Cinta On Ramadhan pada 10 Juli- 14 Juli 2015 di Kabupaten Tegal.

Disana, kami benar-benar merasakan hidup dari kejauhan seorang atau kedua orang tua kandung. Yang ada hanyalah pak ustadz. Hingga , disana dia dikenalkan dengan dua adik istimewa nya yakni Fathur dan Rizki yang sekarang duduk di bangku MTS al-fajar. Iya, saat mercon , kami mengadakan program mentor/ kaka asuh. Sedikit kisah dibalik mentor itu, adalah Penulis mencoba memberikan pandangan nya, sehingga penulis pun turut andil dalam keberhasilan dalam merancang roadmap, visi-misi, program mentor mercon 2015 itu. Alkhamdulillah, program itu kini menjadi arah gerakan para pejuang mercon tahun depan.

Selain acara mercon tadi, penulis juga memberikan sebuah pandangan atau ide, untuk kemajuan ekstrakurikuler nya yang lain, yaitu Paduan Suara. Ketika PASKIBRA, berhasil ia usulkan. Paduan Suara SMA Negeri 1 Slawi, juga diusulkan oleh nya untuk melakukan program sejenis seperti apa yang dilakukan ekskul yang lain. Pandangan itu, ia tuliskan dan ia titipkan bersamaan dengan surat ketidakhadirannya di acara buka puasa bersama Paduan Suara SMA Negeri 1 Slawi.

Penulis pun masih dalam keadaan yang bingung, dia belum menemukan titik jawaban dari itu semua. Penulis pun beberapa kali bercurhat kepada senior nya di paguyuban Brebes-Tegal ITB. Salah satu nya adalah Rakhmatullah Yoga, IF 2012. Beliau memberikan pandangan yang berbeda, yakni pandangan mengenai keberlanjutan dan pertanggungjawaban penulis mendapatkan program bidikmisi.

Seperti yang sudah terjadi, penulis masih diberikan kesempatan sekali lagi untuk mendapatkan bidikmisi. Hingga, akhirnya penulis mengetahui sanksi atau hukuman yang didapat bila mengundurkan dari bidikmisi.

Singkat cerita, penulis memutuskan untuk kembali ke Bandung. Dengan pengharapan, dirinya akan mendapatkan nasib yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Penulis pun tetap mencoba mengusahakan yang terbaik, melihat peluang bidikmisi yang susah didapatkan. Selain itu, keadaan orang tua juga masih dalam keadaan yang belum kondisional. Mereka masih perlu mencari penghasilan untuk menutup pengeluaran kemarin, ketika habis dioperasi oleh penulis.

Akan tetapi, sebelum keberangkatannya ke Bandung, penulis sempat memberikan surat melalui pos dengan tertera alamat jelas Jalan Prof Sudharto dan alamat Jelas Jalan Elang Raya. Perihal alamat jalan Prof Sudharto, adalah surat kemunduruan diri nya disana kemudian perihal lain, di alamat jalan Elang Raya adalah surat dan beberapa dokumen nya untuk ajang partisipasi dalam perlombaan makalah kebahasaan Duta Bahasa Jawa Tengah 2015. Harapan nya, kiriman tersebut dapat bermanfaat untuk mereka dan dapat membalas kekecawaan penulis.

Kini, penulis berada di Bandung. Kembali ke ranah perjuangannya.

��@��

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.