Komunitas Wayang Peraga Bandung

LATAR BELAKANG

Berawal dari hobi, untuk berinteraksi kepada masyarakat dari mulai anak kecil, remaja hingga lansia akhirnya membawa kebahagiaan dan cinta untuk membuat senyum pada mereka. Sebelumnya, kami tinggal di kontrakan itu sejak agustus 2015 dimana tempat tinggal kontrakan itu dihuni 3 orang, termasuk saya (Eko Fajar Setiawan) , Suryo Eko dan Gilang Pamungkas. Saya dan Mas Suryo Eko berasal dari satu SMA dari Kabupaten Tegal sementara Gilang Pamungkas berasal dari SMA di Brebes. Selain memiliki hobi berinteraksi dengan masyarakat, saya pun memiliki kesukaan dengan memainkan seni wayang cepak / golek dari Tegal maupun sunda. Ketertarikan saya pada seni wayang golek itu, dan pembawaan bapak Enthus yang begitu merakyat dan dekat, membawa inspirasi lebih untuk saya. Tidak hanya belajar dari Pak enthus, saya pun belajar pada dhalang santri cilik Adiwerna, bapak dairin dan bapak Sukarno, dhalang dari Bandung. Selain belajar dari mereka tentang seni wayang, saya pun memasarkan produk seni mereka buat.

Apabila stigma mahasiswa ITB, cenderung sering sibuk atau terlalu ambisius dalam mata kuliah, membuat kontrakan kami setiap hari bahkan berminggu-minggu, terlalu sepi dan tidak berwarna. Kami (Suryo Eko, Gilang Pamungkas dan Eko Fajar) bertempat tinggal di area Siliwangi dan seringkali tempat tinggal kami menjadi tempat perkumpulan paguyuban Tegal/Brebes mahasiswa ITB. Kedua teman saya itu, Mas Suryo dan Gilang Pamungkas memang seorang mahasiswa ITB yang cenderung lebih mengembangkan kapasitas diri mereka masing-masing secara otodidak. Berbeda dengan saya, yang memang lebih senang belajar dan mengambil manfaat dalam bergaul dengan orang lain. Kebiasaan kami pun di kontrakan berbeda, apabila saya setiap minggu menyempatkan untuk lebih terbuka kepada tetangga sekitar, kedua teman saya terlihat sibuk dalam keorganisasian dan aktivitas akademik mereka masing-masing di ITB. Apa anggapan masyarakat sekitar lain, yang sering bergaul dengan saya. Tentunya, semua kembali ke stigma awal bahwa mahasiswa ITB sama saja. Dengan bermodal keberanian dan memulai lebih dulu, untuk berinteraksi akhirnya perlahan tapi pasti, mereka pun membaur sedemikian rupa dengan saya dan anak-anak komunitas kami. Alhamdulillah, sampai saat ini kegiatan masih berlangsung.

TUJUAN DAN KEDUDUKAN KOMUNITAS

Mengutip kata bijak bapak Anis Baswedan, bahwa pola dan cara belajar yang terbaik untuk anak-anak usia dini dan dasar, yakni ketika mereka merasa pembelajaran itu dilalui dengan bermain dan tidak merasa seperti di bangku sekolah pada umumnya. Lanjut nya, hal itu akan lebih efektif membantu pengembangan kecerdasan dan kepekaan anak di lingkungan sekitar. Maka langkah kami pun diperkuat dalam mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat sebagai karya mahasiswa melalui tridharma perguruan tinggi.

Sebagian orang dari paguyuban kami, termasuk saya untuk memutuskan kegiatan pengmas berupa belajar mengajar Bahasa inggris di Sekretariat Paguyuban kami. Dengan dibantu oleh pak Dadang, DKM masjid dekat sekre, akhirnya komunitas wayang peraga “Golek ITB” pun didirikan pada November 2015 menjadi solusi atas kegelisahan kami melihat kebiasaan anak-anak kecil yang lebih sering memainkan gadget dan kurang tumbuh minat belajar berbahasa asing.

Pada umumnya, jika di bimbel-bimbel sering disebut dengan pembelajaran English for kids. Komunitas Wayang Peraga “Golek ITB” bertempat di daerah Siliwangi Dalam III, Cipaganti, Coblong Kota Bandung tepatnya di RT 04/01, 97/144B menggunakan peraga berupa wayang golek untuk menceritakan ulang kembali isi dari naskah / narasi cerita berbahasa inggris. Kegiatan Belajar Bahasa Inggris yang dilakukan oleh Paguyuban Mahasiswa ITB Tegal dan Brebes. Kegiatan komunitas kami dilakukan pada hari minggu (tiap akhir pekan), pada jam 08.30 s.d. 11.00 WIB.

KEANGGOTAAN

Adik-adik Komunitas Wayang Peraga, selanjutnya disebut anggota muda komunitas, yang mana memiliki hak untuk menerima dan mengembangkan kemampuan untuk belajar terutama Bahasa inggris dan bermain wayang golek. Adik-adik itu, sebagian besar berada pada rentan usia 7–12 tahun. Sementara untuk para tutor dalam kegiatan ini, kami sebut sebagai anggota biasa komunitas.

Jumlah anggota dari komunitas ini baru 8 orang, mereka mengikuti latian dan pembelajaran di Sekretariat Paguyuban. Sementara itu, para pengurus komunitas berjumlah sebanyak 3 orang yang terdiri dari Pengurus paguyuban, pengarah kegiatan, pengarah naskah peraga/ sumber daya manusia. Selain itu, terdapat mitra komunitas wayang peraga, salah satunya DKM Masjid Al-Amanah. Beliau adalah Pak Dadang, seorang guru/ustadz dari kegiatan mengaji rutin setelah maghrib. Beliau sering mengajak anak-anak didiknya untuk berlatih wayang dengan kami. Oleh karenanya, secara keseluruhan jumlah dari keanggotaan dan pengurus komuitas ini sebanyak 11 orang sehingga perlu dilakukan pemberdayaan yang intesif dan berkeluarga. Anak-anak bukanlah objek untuk dieksploitasi, melainkan anak-anak sebagai subjek penanaman nilai dan norma masyarakat dan kebahagiaan bagi para dewasa.

KEGIATAN DAN PENGALAMAN

Dalam Komunitas Wayang Peraga, anak-anak diajarkan tentang nilai dan norma yang ada dalam masyarakat tanpa sedikit mengurangi kebahagian mereka di masa kecil. Boleh mendidik, asal tidak untuk mengeksploitasi masa kecil mereka. Masa bermain adalah masa yang bahagia jika dikenang, sehingga mereka harus menemukan kebahagiaan mereka tanpa paksaan orang dewasa maupun orang tua.

Kisah inspiratif yang kami miliki, salah satunya dalam pentas Grand Final Ajang Kompetisi Godrej Loud (Live Out Your Dream) Indonesia di Jakarta, yakni di Komplek Mega Kuningan. Kisah ini bermula, ketika Eko Fajar Setiawan mengirimkan film dari kumpulan dokumentasi beberapa kegiatan dari belajar mengajar Bahasa inggris saat bermain wayang. Ajang tersebut diadakan oleh Godrej Indonesia, dengan mimpi sosial, yakni ingin menampilkan wayang golek dengan komunitas wayang peraga saat resepsi 71 tahun NKRI merdeka itu, alhamdulillah, kami pun lolos 10 besar tingkat nasional. Hasil dalam ajang final tersebut, komunitas kami belum mendapat hadiah utama sebanyak dua puluh juta rupiah.

Walau mimpi belum tercapai, usaha dan harapan terus dari komunitas kami terus dibangun. Hingga akhirnya, kami pun berhasil meraih kategori Top 3 pada ajang kompetisi Unilever –Purpose Driven Leaders. Ajang kompetisi nasional ini merupakan ajang pencarian seorang pemimpin pembaharu era millenium, dengan bukti dan kontribusi dirinya dalam masyarakat sekitar. Kami sebagai komunitas tentu sangat bersyukur bahwa sepanjang keberjalanan nya ini kami begitu produktif mewakili dan atau menjuarai kompetisi. Dukungan dan doa pun terus mengalir kepada saya, apalagi saya sebagai pendiri komunitas dituntut untuk segera mengembangkan komunitas ini di ranah luar kampus ITB.

HARAPAN

Kami memiliki kesempatan untuk mengembangkan sayap pergerakan komunitas melalui bantuan dana yang diberikan lewat rekan atau dari donatur di paguyuban maupun sesama mahasiswa lain. Kurang lebihnya tentang komunitas ini, bagi saya terutama sebagai pengusung kegiatan ini adalah manis-getir kehidupan yang harus dilalui. Saat ini, baru ada 2 orang tetap yang sering mengurus masalah pengajaran, sementara salah satu tutor telah pindah dari kontrakan. Semoga adanya komunitas ini dapat membawa inspirasi untuk mahasiswa tegal, brebes di luar bandung agar meningkatkan kepekaan mereka terhadap lingkungan sekitar dan juga menjaga intensitas kekelurgaan dari ranah asal mereka (daerah masing-masing). Tidak serta merta berkeluarga secara alumni, namun alangkah indahnya jika mampu merasakan keluarga baru di daerah rantau sana.

LAMAN TERKAIT

Channnel Youtube : bit.ly/golekTV

Fanpage : Golek ITB

Ditulis untuk diajukan dalam Info Tegal.com (sedikit perubahan)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.