Bagaimana Menjadi Seorang Penulis
Beberapa minggu yang lalu, seorang perempuan memintaku untuk saran tentang putri remajanya. "Dia ingin menjadi penulis," kata sang ibu. "Apa yang harus kita lakukan?"
Jujur, aku agak bingung. (Pada bagian, aku pikir itu adalah cara dia bertanya - "Apa yang harus KITA lakukan" Aku tidak benar-benar tahu apa yang harus dilakukan dengan "kita.") (Juga itu masih terlalu pagi dan aku belum memiliki kopi yang cukup untuk memberikan nasihat kepada siapa pun.) Aku menyarankan beberapa kelas menulis kreatif yang akan datang, tapi ibu itu tidak puas. Harus ada lebih - lalu apa lagi yang bisa mereka lakukan?
"Yah," kataku, "kau tahu. Penulis banyak membaca ... dan banyak menulis. "
Dia menatapku dengan pandangan hampa.
"Anda benar-benar harus banyak menulis," kataku. "Maksudku, sebagian besar. Anda banyak menulis. "
Sang ibu menggeleng. "Apa lagi? Apakah ada buku-buku yang bisa dia baca? Acara yang dia bisa hadiri? Kemah menulis misalnya? "
"Um," kataku. "Kadang-kadang penulis punya teman menulis... mereka bertemu di kedai kopi dan menulis bersama-sama?"
Sang ibu menyukai saran ini. "Kamu bisa melakukannya!" Kata ibu kepada putrinya. Gadis itu tersipu malu.
Saya menawarkan beberapa judul buku untuk dibaca. Writing Down the Bones, Wild Mind, Bird by Bird. If You Want to Be a Writer. Letters to a Young Poet. The Metamorphoses (Aku tahu Ovid tidak memiliki banyak nasihat untuk seorang penulis, aku hanya ingin mendorong orang-orang untuk membaca Metamorphoses, kebalikan dari opera sabun!).
Sang ibu menulis nasehatku. Aku pikir dia akan membeli semua buku-buku yang aku sarankan untuk anaknya sebelum sore menjelang, tapi dia terlihat seperti masih menunggu sesuatu. Aku merasa jika aku belum memberi apa yang dia inginkan, dan itu sangat nampak di raut mukanya, aku merasa buruk karena tak dapat memberikan apa yang dia mau.
Perasaan itu menggangguku sepanjang hari- aku memikirkan kembali pertanyaannya dan berpikir apakah ada yang aku lupakan, beberapa hal penting lain bisa saja aku berikan juga kepadanya. Tapi semakin aku memikirkannya, semakin bingung aku dibuatnya. Kenapa hal-hal utama yang aku sampaikan malah tidak cukup. Fakta bahwa seorang penulis harus menulis! Faktanya lagi untuk menjadi seorang penulis kamu harus menulis yang banyak. YANG BANYAK. Faktanya lagi tak ada jalan pintas selain itu.
(Aku mau bilang kalau apa yang sang ibu itu lakukan benar-benar hebat- atau ibu-ibu lainnya juga- untuk memberi support kepada anak-anak mereka untuk menulis. Aku juga membayangkan akan sangat menantang jika punya anak yang ingin menjadi seorang penulis- Karena itu tak seperti keluar mengikuti ajang pencarian bakat untuk anggota band dan mendukung kegemaran anak Anda dengan mengumpulkan banyak uang untuk membelikannya gitar baru atau apapun. Tidak ada semacam ‘pencari bakat puisi’ untuk orang tua.
Sekarang sudah beberapa minggu berlalu dan aku masih bingung memikirkannya. Tapi aku sekarang punya kopi, dan aku siap untuk berbagi jalan keluar yang lebih baik.
Apa yang harus Anda lakukan untuk mendorong impian anak Anda untuk menjadi seorang penulis?
Pertama, biarkan dia bosan. Biarkan dia punya siang yang panjang tanpa melakukan apapun. Batasi waktu nonton TV dan berinternet ria- juga ambil ponselnya. Berikan dia liburan yang hanya leyeh-leyeh saja. tapi pastikan dia punya kartu perpustakaan dan ruangan pribadi yang nyaman untuk berpetualang dengan bukunya. Berikan dia buku bagus dan uang untuk membli pena yang dia sukai. Alih-alih menghabiskan pekan dengan keluarga, Lebih baik biarkan dia berpetualang di tempat lain, kabin di hutan, pondok di danau, jauh dari teman-temannya dan yang seumuran dengannnya. Berikan dia beberapa pekerjaan rumah yang membosankan seperti menyiangi rumput halaman, cuci baju sendiri, atau ngecat pagar.
Biarkan dia sendiri. Biarkan dia merasa bahwa tak ada yang memahami dirinya di dunia ini. Biarkan dia kebebasan untuk jatuh hati pada orang yang salah, untuk kehilangan hatinya, merasa terpukul dan jatuh. Kadang-kadang Anda sebagai orang tua, jadilah orang yang terlalu sibuk untuk mendengarkannya, merasa terganggu dengannya, atau sibukkan dirimu sendiri dengan buku keren, atau keluarlah dengan temanmu.
Biarkan dia punya rahasia. Biarkan dia punya folder pribadi di komputer. Jauhi keinginan untuk membaca buku catatannya. Menulis harus menjadi bagian yang cukup aman untuk dimiliki, tempatnya untuk bereksperimen, tempatnya untuk mengakui dosa, berbagi rasa, dan berpikir. Jika dia tak berbagi tulisannya dengan Anda, berlaku adillah dengan kerja kerasnya dan petualangan yang dia lakukan. Tanyakan padanya soal karyanya dan prosesnya. Tanyakan apa yang paling susah dan apa yang paling membuatnya bangga. Jangan minta untuk menerbitkannya kecuali dia minta duluan. Ingatlah bahwa karya tulisannya sendirilah sebuah pencapaian itu.
Biarkan dia punya pekerjaan. Biarkan dia bekerja lama dengan bayaran mengerikan dengan orang-orang biasa dan pelanggan yang buruk. Jika dia ingin menjadi penulis, dia harus nyaman dengan kerja keras dan bayaran ringan. Biarkan dia menghabiskan uang untuk buku dan kopi- akan terlihat manis jika dia mulai bekerja keras untuk memperolehnya.
Biarkan dia gagal. Biarkan dia menulis kertas demi kertas dengan puisi yang menyakitkan dan ber-rima buruk. biarkan dia menulis fiksi yang mengerikan. Jangan mudah terkejut saat dia menunjukkannya. Jangan kaget saat dia menulis soal Malin Kundang yang jalan bareng dengan Dayang Sumbi. Jangan mengasumsikan bahwa apa yang dia tulis ada hubungannya dengan Anda, sekalipun dia menulis soal ibu yang mati dan anak yatim piatu.
Biarkan dia berkelana dengan tulisan apapun yang dia mau. jangan menggerutu soal menulis, sekalipun dia terlihat ceria saat menulis dan sangat tidak bisa menahan diri saat melihatnya tidak menulis. Biarkan dia berhenti menulis sama seperti saat dia memulainya.
Biarkan dia bersalah.
Biarkan dia menghabiskan setelah sekolah untuk bekerja di koran, tapi jika dia benar-benar mau. Biarkan dia menerbitkan tulisan pribadi yang memalukan di majalah sekolah. Biarkan dia bermain dengan rahasia keluarga. Biarkan dia katakan yang sejujurnya sekalipun Anda mungkin tak mau mendengarnya.
Biarkan dia keluar di bawah bintang. Berikan dia senter untuk membantu menulis.
Biarkan dia menemukan suaranya sendiri, sekalipun jika dia juga menyuarakan sesuatu yang sudah orang lain lakukan. Biarkan dia menemukan kebenaran versi dirinya, sekalipun dia harus berada dalam pusaran kebohongan dalam pencariannya. Ingat bahwa kebenaran yang dia yakini tak sama dengan kebenaran yang orang lain yakini, dan inilah saat Anda harus bersama dia saat itu terjadi, ingatan Anda tentang sebuah peristiwa mungkin akan jauh berbeda darinya. Biarkan dia menulis sesuatu yang samar-samar soal masa lalu kalian sebagai sebuah fiksi. Tak masalah jika dia membuat cerita masa lalu dengan cerita yang malah lebih bagus. Biarkan seluruh hidupnya berserakan di lantai ruangannya. Tak masalah jika dia menulis tentang karakter yang tak ada hubungannya dengan dirinya, pengalamannya, atau bahkan dunianya, karena itulah yang disebut dengan fiksi.
Biarkan dai menulis puisi di celana jeans dan sepatu dan tasnya, sekalipun Anda baru membelikannya.
Biarkan dia aman namun tak terlalu aman, nyaman namun tak terlalu nyaman, bahagia namun tak terlalu bahagia.
Diatas semua ini, cintai dia dan dukung dia. Cintai dia dan percayalah padanya. Ciantai dia dan biarkan dai pergi. Akhirnya, cinta Andalah yang paling berarti, dan itu saja sudah cukup. Selanjutnya akan hadir sendiri darinya.
***

Edit: In the time since I started writing this, I had dinner with a good friend from high school. We were talking about the old days, and I dragged out a journal from junior year to prove a point. “How many of those do you have now?” he asked.
“Forty-two,” I said. “I have a whole bookshelf of them.”
“You should show them to people. A visual aid, to help them see how much writing practice you did.”
I thought about another friend of mine from the old days, a talented artist who used to get mad when people told him he was a talented artist. “I just draw every day,” he’d always say. “I’ve drawn every day since I was a little kid. If you drew every day for fifteen years, you would be good at it too. Anyone would.”
Mick Jagger is reported as saying, “You have to sing every day so you can build up to being, you know, Amazingly Brilliant.”
I don’t write every day. I never have. But I do write most days, and I’ve filled thousands of pages of notebook paper with writing. I swear there’s no magic trick, no simple solution, no get-writerly-quick scheme. You have to write a lot of words. You have to write your heart out. And in the end, you discover that the writing’s what matters. Writing is its own reward. I promise.
M. Molly Backes is the author of the young adult novel The Princesses of Iowa (Candlewick Press, 2012). An accomplished teacher, she runs creative writing workshops for adults and teens in Chicago and across the Midwest. Follow her on Twitter at @mollybackes.