Orang-orang seringkali bertanya hal-hal tidak penting karena mereka sebenarnya memang tidak peduli.

Orang-orang sering bertanya mengapa aku tidak pernah menelponmu, untuk sekedar menanyakan kabar atau apapun itu. Mereka pikir, mungkin karena aku lebih suka menulis daripada berbicara. Yah, aku setuju sekaligus tidak setuju.

Orang-orang sering bertanya mengapa aku tidak pernah mengajakmu menonton film yang berbahasa Indonesia di bioskop padahal mereka tau aku dan kau sudah menamatkan versi novelnya berkali-kali. Mereka pikir, aku dan kau lebih suka membaca ceritanya saja, dan tidak mau menonton filmnya karena takut merusak tokoh-tokoh yang aku dan kau bangun dalam khayalan kita berdua. Dan aku kembali setuju sekaligus tidak setuju.

Orang-orang sering bertanya mengapa aku tidak pernah mengajakmu berkumpul bersama mereka untuk sekedar bercengkrama dan bermain gitar. Mereka pikir, aku dan kau tidak suka keramaian dan lebih suka bercakap-cakap berdua saja di sudut kafe yang lampunya remang-remang. Lagi-lagi aku setuju sekaligus tidak setuju.

Tapi mengapa orang-orang tidak pernah bertanya mengapa aku mempelajari bahasa isyarat?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.