Bagaimana Seharusnya Proses Belajar Mengajar ?

Beberapa waktu yang lalu saya meminta nasehat kepada Bapak Dr.rer.nat. M. F. Rosyid, seorang Dosen Fisika UGM, Doktor dibidang Fisika dari Technische Universitaet Clausthal Jerman. Bapak ini juga sering diundang sebagai narasumber dan pembicara dalam seminar-seminar nasional penelitian fisika diberbagai kampus di Indonesia.

Didalam pesan via facebook tersebut, saya bertanya kepada beliau “tentang apa tips-tips dan movitasi untuk para mahasiswa”.

Alhamdulillah Beliau pun membalas pesan saya, dan kemudian memberikan saya nasehat sebagai berikut :

Nilai (terkait suatu pembelajaran) muncul sebagai hasil penilaian. Mengingat esensinya, penilaian lebih tepat jika dipandang sebagai pengukuran. Sementara pengukuran dilakukan untuk mengetahui kuantitas tertentu dari sutau sistem. Kuantintas ini diharapkan dapat mencerminkan banyak hal. Jika penilaian adalah pengukuran, maka nilai sesungguhnya adalah hasil pengukuran. Jadi, ujian, misalnya, adalah pengukuran dan nilai ujian adalah hasil ukur. Hasil ukur ini BUKAN pencapaian pembelajaran, melainkan sesuatu yang diharapkan menjadi cerminan hasil pembelajaran, yakni menggambarkan seberapa dalam pemahaman dan seberapa mapan penguasaan seseorang akan pokok-pokok pembelajaran. Tetapi, dalam prakteknya, dewasa ini sangat sulit untuk memperoleh hasil ukur yang benar-benar mencerminkan hasil pembelajaran seseorang. Banyak faktor yang memengaruhinya: mulai dari soal sebagai alat ukurnya, pandangan guru atau dosen tentang ujian, pandangan siswa atau mahasiswa tentang ujian, dan masih banyak lagi. Saking rumitnya permasalahan ini, muncullah bidang kajian yang kita kenal sebagai psikometrik.

Dengan cara pandang di atas, hasil penilaian (baik maupun buruk) seharusnya bermanfaat bagi para pembelajar terutama untuk penyempurnaan kualitas hasil-hasil pembelajaaran. Nilai yang didapat seorang pembelajar memberikan banyak informasi tentang seberapa jauh dia masih harus berupaya untuk lebih memahami dan menguasai suatu topik pembelajaran.

Tetapi, dewasa ini terkesan bahwa nilai adalah pencapaian dan ujian adalah sesuatu momen yang sangat menentukan jalan kehidupan seseorang.

Jika nilai dapat dipandang sebagai indikator, maka pembelajaran adalah proses. Jalannya proses dapat dilihat dari indikatornya. Jangan salah, nyala indikator sesungguhnya bukanlah pencapaian pembelajaran, bukan pula tujuan pembelajaran. Tetapi, sudah sepantasnya nyala indikator terkorelasi dengan proses: jika indikator menyala maka proses telah berlangsung dengan benar sehingga pencapaian-pencapaian dalam proses mengakibatkan indikator-indikator menyala. Jadi, kesempurnaan proseslah yang seharusnya menyalakan indikator. Oleh karena itu, kesempurnaan proseslah yang harus diupayakan dengan kesungguhan.

Tetapi sepanjang hayat saya hingga hari ini, saya melihat masyarakat kita cenderung menjadi lebih terfokus pada nyala indikator. Mengapa? Ternyata nyala indikator lebih memberikan optimisme bagi kehidupan individual daripada pencapaian-pencapaian nyata dalam proses pembelajaran. Seringkali ada UPAYA KHUSUS yang dilakukan oleh masyarakat kita guna menyalakan indikator tanpa peduli dengan kesempurnaan proses. Mereka lebih fokus dalam upaya khusus ini daripada BERSABAR dalam berproses. Mereka lebih percaya pada upaya khusus ini sebab mereka lebih percaya pada konsekuensi nyala indikator. Tetapi secara kolektif, upaya-upaya khusus ini akhirnya hanya membawa kita pada fatamorgana. Seperti yang Anda lihat hari ini, banyak sarjana yang tidak berdaya dengan atribut yang mereka miliki sebab kesarjanaan mereka adalah kesarjanaan yang kosong.

Tetapi ketahuilah, bahwa pencapaian-pencapaian dalam proses pembelajaran akan lebih nyata dan memberi manfaat nyata dalam kehidupan. Bersabar dalam proses itu (mungkin harus melalui jalan berliku dan mendaki) akan membawa Anda pada kualitas diri yang mampu menapaki kehidupan dengan penuh keyakinan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Lazimnya, perpustakaan universitas di tanah air menjadi ramai menjelang ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Menurut sepengamatan saya, hanya beberapa mahasiswa saja yang bersabar sepanjang semester untuk ‘tenggelam’ dalam buku-buku teks serius dan jatuh bangun dalam berlatih menerapkan konsep dan teori dalam permasalahan-permasalahan. Yang lainnya berharap dapat “menunggu di tikungan”. Biasanya mereka (‘penunggu tikungan’ itu) telah memiliki koleksi soal-soal UTS dan UAS yang akan menjadi bekal menghadapi ujian-ujian itu. Bekal ini akan menjadi fokus mereka menjelang UTS maupun UAS. Mereka akan berkumpul membahas soal-soal itu sambil berharap beberapa di antaranya keluar dalam ujian atau mereka mendatangi beberapa mahasiswa “sakti” (yang selalu ada di setiap angkatan) atau kakak-kakak angkatan yang menonjol untuk menanyakan jawaban soal-soal yang ada dalam koleksi mereka. Parahnya, beberapa dosen tidak pernah membuat soal baru untuk setiap tahunnya. Para dosen itu hanya ‘merotasi’ atau menggilir soal-soal itu. Klop sudah antara harapan ‘penunggu tikungan’ dan dosen yang sibuk itu. Itulah salah satu yang dalam status saya sebelumnya saya sebut sebagai “UPAYA KHUSUS untuk menyalakan indikator”.

Berbahagialah Anda yang telah mampu menekan diri Anda sehingga bisa bersabar sepanjang semester untuk ‘tenggelam’ dalam buku-buku teks dan berupaya keras untuk kesempurnaan proses pembelajaran. Mengerjakan atau (lebih tepatnya) memecahkan soal-soal secara mandiri merupakan sesuatu yang sangat penting bagi Anda. Tetapi ingat, upaya Anda dalam memecahkan soal-soal bukan dimaksudkan sebagai latihan untuk mempersiapkan diri dalam ujian-ujian, melainkan untuk mengontrol kesempuranaan proses yang Anda lakukan. Mampu memecahkan soal-soal merupakan indikator penguasaan Anda atas pokok-pokok pembelajaran.

Jika Anda sudah mampu menikmati hal ini, maka Anda tidak perlu khawatir dengan hal-hal kecil seperti UAS dan UTS karena Anda memiliki target-target yang jauh lebih hakiki dan tentu tidak sesederhana itu.

Pencapaian-pencapaian pembelajaran yang hakiki itu akan lebih membahagiakan dan memerdekakan meskipun harus dilalui dengan kerja keras. Tetapi pepatah Jerman mengatakan “Arbeit mach frei” (bekerja membuat kita merdeka).

Perhatikan bahwa di setiap jenjang pendidikan di tanah air ini terutama di perguruan tinggi, penyelenggaraan kegiatan pembelajaran selalu disisipi dan ditutup dengan ujian. Anda harus sukses di kedua ujian itu atau Anda harus mengulang matakuliah itu tahun depan. Keadaan atau tuntutan semacam inilah yang menyebabkan terjadinya PERGESERAN kesadaran, dari kesadaran bahwa penyelenggaraan sebuah matakuliah adalah upaya untuk memupuk atau membangun pemahamanan dan kompetensi suatupokok pembelajaran menjadi sekedar upaya persiapan menghadapi ujian tengah semester dan akhir semester. Pergeseran kesadaran semacam itu ternyata bukan saja terjadi pada diri mahasiswa, tetapi ternyata juga bisa terjadi pada para dosen dan peneyelenggara program studi. Akibatnya, sikap dan perilaku para mahasiswa ataupun dosen selama perkuliahan tidak mencerminkan upaya sungguh-sungguh dalam memupuk kompetensi.

Gagal di ujian tengah semester dan ujian akhir semester berarti keharusan mengulang kuliah tahun depan. Kegagalan itu seolah menghapus proses pembelajaran yang telah dilakukan selama satu semester. Itulah alasan para mahasiswa lebih memilih fokus pada upaya untuk menghadapi ujian-ujian, yakni lebih fokus pada “upaya khusus” dalam menghadapi setiap ujian.
Padahal gagal di ujian bukan berarti gagal dalam pencapaian hakiki proses pembelajaran. Banyak faktor yang menentukan kelulusan dalam ujian. Dalam hal ini, para dosen harus benar-benar mampu memperbaiki instrumen penilaian sehingga penilaian benar-benar objektif dan mampu melihat pencapaian haikiki proses pemebelajaran.

Ada sistem yang menarik untuk dikemukakan di sini yang kemungkinan dapat mengatasi persoalan di atas. Sistem semacam ini diterapkan di Jerman. Kuliah-kuliah tidak diakhiri dengan ujian. Ujian dilaksanakan terpisah dari kuliah. Jika Anda mengambil sebuah mata kuliah pada suatu semester, maka Anda boleh mengambil ujian matakuliah tersebut kapanpun setelah semester itu, yakni sewaktu-waktu ketika Anda merasa sudah siap. Ujian yang diselenggarakan merupakan ujian lesan. Dengan ujian semacam ini, dosen benar-benar bisa melihat kedalaman pemahaman dan kompetensi Anda. Dengan cara seperti ini, kuliah benar-benar dimaksudkan sebagai sarana untuk memupuk kompetensi dan memperdalam pemahaman. Jika dalam suatu ujian gagal, maka Anda dapat segera mengajukan usulan ujian lagi, tanpa harus ikut kuliah lagi.

Tulisan Bapak Rosyid ini sungguh sangat bermanfaat dan memberikan gambaran kepada saya, tentang bagaimana seharusnya mahasiswa itu.

Kepada Bapak Rosyid saya haturkan terima kasih dan semoga Bapak selalau dalam lindungan Allah SWT. Dan tulisan ini saya muat ulang diblog dengan harapan semoga dapat memberikan motivasi dan semangat belajar kepada teman-teman.