23 Februari 2016

Dua minggu yang lalu, aku terima kabar yang kurang enak dari asisten profesorku. Ditulisnya di email, bahwa proposal final project-ku ditolak. Aku tak akan ceritakan apa sebabnya, karena itu murni urusanku :).

Spontan aku merenung dan berucap dalam hati, “Allahu Tanzah. Tuhan Maha bercanda. Di saat sedang liburan, ditakdirkan menerima kabar ini”.

Ini kali kedua proposal final project-ku ditolaknya. Sesaat kemudian aku masih menatap layar outlook di iPhone 6 sembari duduk di ruang makan, di rumah kakak kawanku, tempat aku menginap selama di Hollanda. Aku merasa liburan hari kedua ini tak lagi menyenangkan. Setak menyenangkan cuaca hari itu di Den Helder, dalam kondisi 2 derajat celcius, berkabut dan berangin.

Semalam, 22 Februari 2016, aku mencoba mengumpulkan sisa-sia semangat untuk mengerjakan revisi proposal final project-ku. Masih buntu dan belum menemukan setitik jalan cerah. Ditambah kondisi ku yang kurang sehat dilanda flu sepulang dari Amsterdam. Sepertinya aku tertular penumpang sebelah dalam perjalanan pulang Istanbul – Jakarta.

Malam ini, 23 Februari 2016, 15 hari sebelum batas akhir pengajuan ulang proposal, aku mencoba lagi untuk mengerjakan revisi proposal final project-ku. Satu jam sudah aku di depan laptop tanpa mengetik apapun, hanya membaca-baca jurnal tentang Retail Managament dan dipilah kemudian untuk dibuang atau dipake sebagai referensi. Dan selama satu jam itu, kebuntuan masih betah menunggu di sana.

Sesaat aku merenung, kemudian berucap dalam hati, “sepertinya aku butuh penyegaran”. Iya, penyegaran!! Penyegaran yang dulu pernah efektif menghadapi kondisi macam begini awal tahun yang lalu. Yaitu, mencoba menulis hal lain yang sama sekali berbeda dengan apa yang sedang ditulis saat ini. Tapi, mau tulis apa?? Hmm..rasanya tulis yang ringan-ringan saja yang berasal dari dalam diri sendiri semacam catatan harian. Oke, aku akan menuliskan aktifitas hari ini sejak pagi sampai saat ini.

03.00 am — dini hari

Aku terbangun sekitar pukul 03.00 am. Terbangun karena bermimpi. Aku tak perlu ceritakan mimpi apa, karena bersifat pribadi. Dan aku tak bisa tertidur lagi sampai subuh datang. Hal apa yang bisa lakukan dini hari? Aku hanya rebahan dengan mata terpejam tapi terjaga sembari mendengar aluanan syi’iran Almarhum Gus Dur yang terdengar mengalun dari TOA mushola dekat rumah. Begitu sejuk di hati.

05. 45 am — pagi hari

Aku sudah siap2 berangkat kerja, anak lakiku dan — kebetulan — ART turut serta.Hari ini aku harus sudah tiba di kantor pukul 07.00 am, karena ada rapat. Di sepanjang perjalanan dari rumah ke sekolah, anak lakiku bercerita bahwa dia sudah hapal surat-surat pendek atau juz ‘amma. Dia sudah hapal surat An-Nash, An-Nasr, Al-Ikhlas dan Al-Alaq. Cukup menyenangkan anak umur 5,5 tahun sudah hapal beberapa surat pendek.

Obrolan berlanjut ke tebak-tebakkan. Ini biasa kami lakukan untuk membunuh waktu yang sepi. Aku kasih clue seperti, “aku berkaki dua, bertangan dua, berkumis tipis, dan rambutku jarang-jarang, ayo siapa?”. “Pak dhe Naim!!, hahahaha”, Teriaknya sembari tertawa. “Cerdas kamu, Boi!” Ujarku sembari terseyum.

07.00 am — 18.00 pm — beraksi sibuk

Sesampai kantor, aku sudah disambut dengan jadwal rapat yang menjadi menu hari ini. Hari ini aku harus menghadiri 8 rapat, dimana durasi tiap rapat rerata tiga puluh menit. Struktur rapatnya adalah 10 menit untuk saya bicara, 10 menit untuk lawan saya bicara dan 10 menit terakhir untuk diskusi terbuka dan jika itu diperlukan.

Rapat model seperti ini dikenal dengan nama 1:1 meeting. Rapat ini lebih bersifat follow up kerjaan harian, dimana bila tidak diperlukan karena semua dalam kendali yang baik, maka rapat bisa dibatalkan saat itu juga.

Karena aku dan Tim sadar betul bahwa salah satu pembunuh produktivitas – selain drama (baca:politik) – adalah bernama rapat. Maka seringnya kita melewatkan kurang dari tiga puluh menit.

Di luar jadwal rapat, pekerjaan dilalui seperti hari-hari sebelumnya. Monoton. Dan bikin bosan.

19:00 — Waktunya bermain (menggambar)

Sesampai rumah, mandi, makan dan sholat Isyak. Tak ada yang spesial selain menghabiskan waktu bersama anak-anak. Sekedar informasi, saat ini aku punya anak dua. Laki-laki dan Perempuan. Laki-Laki berumur 5,5 tahun dan Perempuan berumu 2 tahun.

Anak lakiku sedang semangat-semangatnya menggambar. Dan aku sadar bahwa ini mesti difasilitasi, karena pada dasarnya semua anak itu memiliki jiwa seni (menggambar) yang kemudian hilang setelah tidak lagi kanak-kanak oleh karena pendidikan dasar kita menganggap menggambar bukanlah suatu keahilan yang perlu dibanding Matematika. Padahal menggambar adalah suatu proses memindahkan sebuah gagasan menjadi gambaran kongkrit yang paling primordial dari seorang manusia.

Baymax — AIG

22:00 — Mencari Penyegaran

Lepas menemani anak laki-ku bermain, di sinilah aku, sedang duduk bersila, menghadap laptop Lenovo Thinkpad T450, yang awalnya sedang ingin melanjutkan revisi proposal final project, kemudian faktanya hanya membaca-baca jurnal, malah pada akhirnya sedang menulis tulisan yang sedang kalian baca.

Hoaaam…dan sepertinya aku harus segera tidur, gegara ngantuk.

Ditulis di Surabaya, 23 Februari 2017 — dalam keadaan ngantuk.