Bapak Penjual Jagung

Malam ini saya pulang lebih cepat. Seperti biasa, saya melintasi jalur lapangan Sipil untuk kembali. Saya membatin, semoga saya bisa membeli sesuatu untuk makan malam.

Di pojok dekat gerbang Sipil. Bapak penjual jagung masih disana menjajakan dagangannya. Mungkin teman-teman tahu, beliau lebih sering menetap di dekat pintu gerbang utama sampai Salman untuk berjualan. Terlihat setengah kantung-kantungnya masih terisi jagung.

Beliau menyapa dengan tawaran. “Dibeli Neng, masih anget…”

Awalnya saya hanya melempar senyum dan berlalu. Namun setelah dipikir-pikir, sepertinya nikmat menghabiskan jagung dikala hujan. Akhirnya saya memutuskan menemui sang Bapak untuk membeli dagangannya.

Saya duduk di samping sang Bapak, di atas batu, sejajar dengan mesin tiket masuk.

“Pak, harganya berapa?”

“10.000 dapet 5, neng.”

“Yaudah saya beli 5 aja.”

“Siap neng.”

Dengan cekatan, sang Bapak membungkus pesanan saya. Iseng saya ajak obrol, “Bapak rumahnya dimana?”

“Rumah saya di Ciparay, neng.”

“Wah saudara saya ada disana, itu kan jauh dari sini pak?”

“Iya, saya dua kali naik angkutan umum.”

“Bapak hari ini berangkat jam berapa?”

“Setengah empat, neng.”

“Jualan jagung aja disini Pak?”

“Iya.”

Saya terdiam sambil mengulurkan uang.
“Ini Pak uangnya. Kembaliannya untuk bapak aja.”
Sang bapak mengusapkan tangannya ke wajah, terlihat berbinar. Nada suaranya menggambarkan kelegaan.
“Hatur nuhun neng, jazakillah khairan katsir…”

Css.. Hati saya menghangat. Sudah lama sekali saya tidak mendengar kalimat itu langsung dari bibir pengucapnya. Bahkan di tengah dinginnya malam, rintiknya hujan, penatnya berjualan, sang Bapak masih menyelipkan doa dalam ucapan terima kasihnya.

Saya hanya tersenyum, sudah tidak bisa berkata-kata lagi, bergegas pergi, berharap beliau tidak melihat wajah saya yang menjadi aneh karena sudah-nggak-tau-mau-bilang-apa-lagi. Ya Rabb. Kesabaran saya dibandingkan beliau tidak ada apa-apanya. Semoga Bapak diberikan pahala sebanyak-banyaknya, kesabaran seluas-luasnya, dan derajat setinggi-tingginya. Karena di mata Allah, bukan derajat sosial yang menjadikan seseorang terlihat baik, namun keluasan hati dan kesyukuran menjalani hiduplah, yang kelak dapat menjadikan seseorang dikenal di kalangan langit dan bumi. Semoga Bapak pun diberi balasan yang sama…

Wa antum jazakumullah khairan katsir, Pak, telah memberikan pelajaran dan pengingat yang berharga di tengah kepenatan malam…

Sudah pernah dipost pada 22 Februari 2017.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.