Bukan Membela Pelakor

Beberapa hari terakhir, media sosial ramai dengan video singkat seorang anak perempuan yang melabrak selingkuhan ayahnya di mall. Karena sang selingkuhan adalah public figure, video ini langsung jadi viral dalam waktu singkat. Semua (terutama perempuan) mengapresiasi si anak yang berani mempermalukan selingkuhan ayahnya di depan umum. “Itu adalah ganjaran yang tepat bagi perebut suami orang”

Pelakor alias Perebut Laki-laki Orang adalah kosakata yang sepertinya belum lama ini populer. Dari artikel Vice Indonesia, saya jadi tahu kalau dulu julukan untuk perempuan yang merebut laki-laki orang adalah WIL (Wanita Idaman Lain) dan PIL (Pria Idaman Lain) untuk laki-laki. Sedangkan istilah pelakor ini sepertinya tidak ada padanannya untuk pria.

Saya nggak mau membicarakan soal kenapa ada pelakor tapi tidak ada kata yang sama untuk laki-laki. Saya mau membahas mengenai konsep ‘selingkuh’ dan ‘pergi’ yang sepertinya cukup kompleks bila ditelisik.

Kasus ini membuka mata saya bahwa hampir dalam setiap kasus perselingkuhan, yang disalahkan pasti hanya satu pihak. Bila yang selingkuh adalah suami, maka yang bersalah adalah si perempuan yang jadi selingkuhannya. “Dia merebut suami saya” “Laki gue diambil sama tuh perempuan nggak bener”. Bukan sekali dua kali saya melihat persekusi terhadap perempuan yang dkatakan merebut suami/pacar orang. Fotonya disebar, akun sosial medianya dicaci maki. Dikatai ‘perempuan nakal’. Sementara si lelaki bisa seolah-olah menjadi sosok yang diperebutkan dua perempuan, tak tersentuh.

Padahal, perselingkuhan adalah hasil kerja dua orang, bukan hanya satu pihak saja.

“Seorang laki-laki tidak akan berselingkuh kalau tidak ada yang menggoda”. Iya dan tidak. Bila dia memang masih berkomitmen, tentu godaan apapun bukan jadi halangan. Dia akan tetap setia, bagaimanapun angin mencoba mengalihkan kemana kakinya melangkah. Bisakah kita menerima bahwa ketika pasangan selingkuh, itu karena…memang hatinya sudah tidak di sana?

Saya belum menikah, jadi saya mungkin nggak tahu apa-apa soal kehidupan pernikahan. Saya hanya mencoba melihat, mungkin nggak sih, hati seorang istri lebih bisa menerima kalau “suaminya diambil orang lain” daripada “dia sudah tidak cinta saya lagi” saat perselingkuhan terjadi? Hati kita memang lebih bisa menerima kalau sesuatu itu ‘diambil orang’ bukan ‘pergi’.

Saya belum pernah selingkuh, juga belum (mudah-mudahan tidak akan pernah) diselingkuhi. Saya berulang kali berandai-andai, kalau saya diselingkuhi, lalu mau apa? Apa saya juga akan menyalahkan perempuan lain? Ah, enggak. Saya pasti akan meninggalkan pasangan saya dengan tegar! Non-sense. We never know until we crossed that bridge.

Tapi mari ingat sekali lagi: perselingkuhan bukan pekerjaan satu pihak; it takes two to tango.