Gloomy Sunday

Siti Ayu Mariyam
Sep 2, 2018 · 2 min read

Pagi tadi langit cerah. Begitu pula hati ku yang tak henti melonjak menanti pukul 10 untuk bertemu lagi. Aku tahu Timur akan telat, selalu. Tapi aku tak bisa menahan diriku untuk siap-siap bahkan jarum pendek jam di dinding itu masih berada di angka 7.

Setiap ada janji bertemu, aku selalu menjadi seperti anak TK yang tidak bisa terlelap karna menunggu karyawisata di keesokan hari nya. Begitu senang hanya dengan membayangkan perjalanan nya.

Aku sudah siap sebelum jam bertemu datang. Tak bisa diam menunggu kabar darinya yang akhirnya datang. Kalimat yang aku tunggu lebih dari apapun.

“Aku otw.”

Atau

“Dimana? Aku di depan.”

Rasanya balon-balon kekhawatiran ku menunggu pecah seketika.

Namun aku benci menjadi seperti itu. Aku ingin bersikap biasa saja.

Dan lagi. Hari ini datang lagi.

Bersama langit yang tiba-tiba menjadi mendung, tiba sebuah pesan yang sudah ku khawatirkan sebelum nya. Dan ternyata firasat buruk ku benar terjadi.

Sudah banyak sekali pembatalan janji bertemu. Banyak sekali. Banyak. Banyak. Banyak.

Disatu sisi aku selalu mengerti atas ketidak bisaan nya untuk bersama ku dan membatalkan janji bertemu. Aku bisa menerimanya.

Namun itu ternyata hanya logika ku.

Tidak dengan batinku. Yang berteriak. Yang akhirnya mempompa air mata. Aku benci menjadi lemah. Aku ingin logika ku selalu menang. Aku tidak ingin kecewa dengan masalah kecil seperti ini.

Tapi kenyataan nya aku tak bisa tak bersedih. Aku tak bisa tak kecewa. Aku lelah dengan pembatalan janji. Aku lelah.

    Siti Ayu Mariyam

    Written by

    「ハクナ•マタタ」

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade