#12 Tindakan sederhana yang seharusnya kulakukan sejak lama

Selama ini aku merasa terlalu banyak stimulus membuatku susah fokus dan jadi cape sendiri. Selain stimulus yang kecil, aku akan merasa nyaman dengan situasi yang terkendali. Chaos membuatku bingung dan tertekan.

Singkatnya aku berharap kafe atau bioskop yang aku datangi sepi pengunjung agar aku bisa menikmati suasana.

Good news, akhirnya aku menemukan penyelesaian atas permasalahanku akan chaos yang tak bisa aku terima.

Beberapa jam lalu, di kantor, kami melakukan training produk baru, dan dibagian tes akhir situasinya berisik banget. Semua rata-rata ngoceh ini itu membahas soal. Ga semua berisik karena membahas soal sih, ada juga yang main-main, teriak ga jelas.

Aku cukup cepat mengerjakan soal dan segera lanjut baca di-Medium. Aku membaca tulisan Blake Powell yang berjudul “Want to Produce Great Work? You Don’t Need More Tools, Motivation, or Discipline.” Tulisannya keren 😍🤘🏼. Aku takjub dan setuju dengan apa yang kubaca. Beberapa kalimat epik aku tandai. Ada juga yang aku post di Instagram Stories.

So fun, bahagia itu ternyata sederhana 😌😚.

Kemudian aku berhenti membaca, tertawa mendengar lelucon kasar teman-temanku. Saat aku ingin kembali lanjut ke Medium, aku bertanya dalam hati 🤔, kok bisa aku begitu fokus dan menikmati bacaan ditengah kebisingan ini? Konyol. Level kebisingan saat itu sangat besar dan normalnya dalam kondisi seperti itu, mood-ku bakal kacau dan menghajar mereka dengan Amaterasu (just kidding).

Sepanjang jalan pulang, aku memikirkannya dan aku dapat jawabannya. I don’t expect anything. Tidak berharap, ga ngarep. Kalimat berikutnya akan menggunakan ’ga ngarep’ karena (menurutku) kesan kata ‘ngarep’ itu negatif.

Aku ga ngarep saat tes akhir mereka harus diam seperti ujian nasional. Pada saat itu, aku ga ngarep situasi tenang penuh kendali. Ribut ya ribut aja. Aku berusaha menikmati tulisan tersebut tanpa berusaha menyalahkan keadaan sekitar.

Nice work, Jon. Tidak berharap membuat hidup jadi lebih damai. Saat aku ngarep pada sesuatu diluar kendaliku, dan ngarep itu tidak terwujud, aku jadi kesal, marah dan menyalahkan. Reaksi menyelahkan yang paling buruk. Sikap menyalahkan muncul karena emang ada yang bisa disalahkan.

Untungnya, karena diawal aku ga berharap apa-apa, otakku ga bakal mencari alesan untuk menyalahkan.

Thanks for reading, love, and share 😊
🍩 <- this is for you