#44 Dua tipe benda yang kita beli

Aku sedang merencanakan traveling akhir tahun dan untuk itu aku harus berhemat. So far so good, rayuan untuk ngunyah McD yang berasal dari bagian tertentu dalam otakku sendiri 😏 berhasil aku tangkal sejauh ini. Yes, we don’t fight versus the world, tapi berantem melawan diri sendiri.

Tiba-tiba aku teringat kisah 🐺 serigala baik dan serigala jahat dalam diri manusia.

Hasil menung-ku di kamar mandi (kebiasaan ini membuatku mulai serius mempertimbakan menggunakan ponsel waterproof) menghasilkan gagasan bahwa ada dua jenis benda yang kita beli.

Pertama, benda yang dikonsumsi. Starbucks Americano, fancy sushi, sate, mie tektek, contoh yang aku sampaikan berupa makanan karena saat menulis ini aku sedang lapar.

Kamu membeli benda itu untuk dihabiskan dan agar memuaskan hasratmu. Ketika benda itu habis kamu konsumsi, untuk beberapa saat, sensasi saat kamu menikmatinya akan tersimpan dalam memori otak.

Setelah beberapa lama, otak lupa bagaimana rasa es selendang mayang yang kamu coba di Kota Tua Jakarta 3 tahun lalu. Namun kamu ingat pernah mencobanya dan menceritakannya pada temanmu. Hasilnya kamu mendapat pengalaman.

Kedua, benda yang dipakai. iPhone, AirPod, samurai untuk jaga ronda. Kamu membeli benda untuk membantumu mencapai tujuan. Kamu menggunakan berkali-kali sampai benda itu rusak atau benda itu ga membantumu atau kamunya yang udah bosen.

Beli barang karena bosen sih biasanya bikin kamu jadi konsumtif parah 😀.

Setelah 2 bulan punya hape, akhirnya kamu mahir chatting sambil bawa motor. Foto-fotomu di Instagram jauh lebih keren setelah kamu sadar aplikasi editing foto ga cuman Camera360 aja. Semakin sering kamu gunakan, skill mu semakin bertambah.

Kira-kira gitu deh 😆

Konsep awal (di kamar mandi) aku ga kepikiran kalau benda yang kita konsumsi akan menghasilkan pengalaman dan benda yang kita gunakan akan menambah skill.

Unik ya pikiran manusia, berawal dari mencoba memulai hal kecil, kemudian berlanjut ke hal yang lebih besar.