“Protektif”
#2hariberceritamenuju1haribermakna
#menuju21 (2)
Saya dari dulu sering sekali mendengar kalimat
“Lebih baik mencegah daripada mengobati”.
Sedari kecil ayah dan ibu saya terbilang cukup protective pada saya. Saking protectivenya, hingga teman-teman saya selalu menjadikan saya pupuk bawang atau pemain pura-pura setiap permainan karena takut kena marah ayah saya yang galak pada teman-teman apabila terjadi sesuatu kepada saya atau kebun ayah. Jika teringat hal itu saya jadi ingin tertawa. Yang jelas mungkin saya ingin minta maaf kepada teman-teman masa kecil saya yang kena damprat ayah saya.
Waktu berlalu hingga kemudian saya beranjak tumbuh dan ketika saya SD kelas 5, saya sempat mendapat tawaran untuk menjadi tim voly kecamatan oleh guru saya. Saya pun bercerita kepada ayah. Dann akhirnya saya tidak jadi ikut tim tersebut karna ayah berpikir bahwa saya masih terlalu kecil. Beliau takut tangan saya patah karena cidera ☺.
Di sisi lain ibu saya pun sama protectivenya. Tapi kalo ibu lebih kepada makanan yang saya makan. Ibu adalah penganut faham mie rebus harus dimasak 2 kali, katanya agar tidak terkena kanker. Dan hal itu selalu ditekankan kepada saya dan kakak saya. Suatu ketika saya sedang mencari camilan di rumah, namun tidak ada, akhirnya saya ambil mie mentah, saya hancurkan dan saya beri sedikit bumbu tanpa saya masak. Hal ini saya lakukan atas inspirasi dari tetangga saya. Setelah ibu pulang, beliau melihat bumbu mie berserakan, dan tertangkaplah saya kena omel sejadi-jadinya ☺. Dimasak satu kali aja diomelin apalagi ngga dimasak Wkwk. Sejak saat itu budaya masak 2 kali berlangsung hingga sekarang.
Ternyata setelah bertahun-tahun saya hidup di muka bumi, hal ini tidak hanya berlaku untuk penyakit, tetapi juga perihal asmara. Bukan hanya orang tua namun juga kawan-kawan tercinta.
Masih teringat jelas ketika saya cukup dekat dengan ikhwan department sebelah, kata jangan pun selalu menahan diri saya hingga akhirnya saya benar-benar tidak berurusan lagi dengan ikhwan tersebut. Hingga saat beberapa waktu lalu saya sempat mempertemukan ayah saya dengan teman laki-laki saya ke rumah, tanggapan beliau cukup mengherankan. Belaiu mengatakan bahwa teman saya tampan, kemudian beliau cerita panjang lebar tentang kegagalan rumahtangga orang-orang terdekat dengan orang tampan ☺. Seprotective itu ayah saya ☺.
Tapi satu hal yang saya harus cukup syukuri dengan adanya orang-orang super protective di sekitar saya. Tandanya mereka mencintai saya. Menghawatirkan saya. Dan berusaha agar saya jauh dari bahaya. Sebagaimana kalimat awal yang saya tuliskan “mencegah lebih baik daripada mengobati”.
So, buat teman-teman dimanapun berada. Hargai sifat protective orang-orang di sekitar kalian. Jika kalian tidak setuju dengan apa yang mereka larang, maka pastikan kalian menjaga diri kalian baik-baik pula. Karna yang mereka inginkan utamanya adalah kebahagiaan dan kebaikan untuk kita.
Di sini sekalian saya ucapkan terimakasih kepada setiap insan yang sering protect saya, sering bilang “yummm”, sering mengomeli saya, dan apapun itu. I feel your love guys, mom and dad. And I love you…. Maafkan anak dan teman kalian yang kadang suka bandel ini.. hehe..
