Aku benci di bandara,

Riuh suara pesawat, gurih lenggoknya Pramugari. Hanyalah penghias semata, perabot “wah” yang menybunyikan kegelisahan2 penumpang.

Aku ingat suatu ketika, seorang Wanita yang hendak lepas, meninggalkan keluarganya untuk pulang yang tak jelas.

Tangisnya pecah lantaran tas berisi baju itu bercerita untuk rumahnya yang tak pernah baru. Temboknya yang masih saja lembab, serta meja makan yang kayunya sudah mulai lapuk.

Pelukan mesra, ciuman romantis, hanya pelengkap, perias semata yang tak punya arti apa2.

Alasan pergi untuk alasan yang tal pasti, kerap kali menjadi acuan untuk tak kembali, yang juga tak pasti.

Beberapa orang hanya bertemu, meski tak berjumpa. Beberapa orang berpisah, meski akhirnya tak pulang.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.