1000 Guru Bandung; Asa Dalam Senyuman
Indonesia. Sebuah negara yang tempo hari merayakan hari jadinya yang ke 73 tahun merupakan sebuah rumah yang harus selalu kita jaga. Tidak peduli serapuh apa rumah tersebut selama masih ada titik titik sinar harapan di dalam penghuninya , maka percayalah rumah itu akan selalu kokoh. Yang perlu kita lakukan adalah memelihara sinar — sinar itu agar terus menyala dari satu generasi ke generasi lainnya.
Bersama 1000 Guru Bandung, kami mencoba menggali sinar — sinar harapan tersebut yang bersemayam di dalam adik adik siswa SDN Patuha, dan memelihara sinar yang mulai meredup di dalam jiwa warga Dusun Patuha, Kab. Bandung.
1000 Guru Bandung adalah komunitas sosial yang bergerak dalam usaha mencerdaskan anak bangsa, khususnya anak anak sekolah dasar yang berlokasi di pedalaman Indonesia. Tidak hanya menyasar ke anak anak sekolah dasar, warga sekitar pun mendapat manfaat dari kegiatan ini, diantaranya seperti cek kesehatan gratis dan pengenalan perilaku hidup sehat.
Kisah ini dimulai dari Terminal Leuwi Panjang. Kami diberi informasi untuk berkumpul jam 8 pagi untuk melakukan cek in dan melengkapi peralatan yang perlu dibawa ke lokasi mengajar. Tidak ada satupun yang saya kenal jadi tantangan pertama dalam kegiatan ini. Sambil menunggu truk tentara yang akan membawa kami ke lokasi datang, waktu — waktu ini diisi untuk perkenalan sesama relawan yang akan berangkat. Cukup banyak logistik yang akan dibawa, diantara barang — barang tersebut, yang terbanyak adalah barang — barang yang disiapkan memang untuk donasi kepada sekolah dan warga sekitar. Sehingga bukan hanya memberikan jasa untuk berbagi ilmu dan wawasan, tapi ada juga barang yang mungkin bermanfaat bagi kegiatan mereka.
Sekitar jam 9 pagi truk tentara datang, setelah melakukan briefing untuk homevisit dan pengobatan gratis, lalu memasukan logistik ke truk dan foto — foto sekitar sejam kemudian perjalanan menuju Patuha dimulai. Dibutuhkan waktu 4–5 jam untuk sampai ke lokasi, trek yang dilalui juga bermacam — macam. Dimulai dari macet dan panasnya jalanan Kota Bandung, datar dan beranginnya tol seroja, menanjaknya jalanan ciwidey, serta yang paling berkesan adalah jalur berbatu, bergelombang dan berpasirnya Patuha.
Butuh 2 jam lebih dari jalur utama Ciwidey untuk sampai ke Dusun Patuha. Sungguh keadaan yang jauh dari ideal. Meskipun Patuha ini termasuk di dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Bandung, akan tetapi jalur menuju Dusun Patuha ini seperti berada di realita lain. Tidak ada lampu penerangan jalan di jalur yang menghubungi Dusun Patuha dengan jalur utama Ciwidey. Dengan kondisi jalur yang terjal dengan bebatuan dan berpasir, ini tentu menyulitkan mobilitas warga untuk melakukan aktivitas di malam hari. Hal terburuknya adalah jika sewaktu — waktu ada kondisi darurat maka perlu usaha yang sangat keras untuk melalui jalur tersebut. Tentu perlu ada perhatian dari pemerintah setempat untuk perbaikan infrastruktur yang bertujuan untuk memudahkan mobilitas warga setempat agar produktifitas pun ikut terangkat.
Sekitar pukul 3 sore, kami sampai ke tujuan. Cukup ramai keadaan disana saat kami tiba, karena adanya panggung pementasan seni musik yang memang bertepatan dengan perayaan warga disana dalam menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Udara disana benar — benar menyegarkan, sebuah desa yang berada di ujung jalan dan mayoritas pekerjanya adalah petani kebun teh dan pegawai pabrik teh ini memiliki tingkat polusi udara yang sangat minimal. Sangat jarang kendaraan yang lalu lalang disini, hanya ada satu dua motor saja yang melintas untuk membawa hasil petikan daun teh yang nantinya akan dibawa ke pabrik untuk diolah lebih lanjut dan dipasarkan.
Hal yang menarik lainnya ketika kami sampai disini adalah warganya yang begitu ramah dan antusias dalam menyambut kami. Sebuah salam erat dan senyum hangat itu sangat berarti untuk meningkatkan semangat kami yang sebelumnya lumayan lelah dalam perjalanan menuju lokasi. Sambutan positif ini adalah pelecut motivasi kami untuk menjadi sama bersemangatnya dalam melakukan kegiatan — kegiatan selanjutnya.
Setelah menaruh barang — barang di perpustakaan sekolah yang nantinya jadi tempat untuk tidur, kami dikumpulkan di pekarangan depan perpustakaan untuk dibagikan pengenal seperti iket kepala, id card, pin, dan tas. Setelah dibagikan pengenal, kami melakukan briefing lagi. Untuk teman — teman yang memiliki latar belakang sebagai tenaga kesehatan akan melakukan pengobatan gratis yang dilakukan di ruang kelas SDN Patuha. Sementara untuk teman — teman lainnya akan melakukan homevisit, yaitu mendatangi rumah ke rumah yang ada di desa tersebut untuk berbagi wawasan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat sekaligus mengajarkan warga tentang tata cara cuci tangan yang baik dan benar. Jikapun ada warga yang membutuhkan pengobatan namun tidak bisa datang ke sekolah, tim 1000 Guru Bandung akan mendatanginya dan mengecek ke rumah warga tersebut. Kami dibagi 5–6 orang per kelompok dan dianjurkan untuk ada yang bisa berbahasa sunda di dalam kelompok tersebut.
Sungguh sebuah pengalaman yang sangat berkesan. Lagi — lagi keramahan warga disana membuat saya pribadi terkesan dan bertanya — tanya di dalam hati apa yang salah sebenarnya dengan kehidupan sosial di sekitar kita. Bukannya saya menggeneralisir, tapi coba lihatlah sekeliling, begitu mudahnya kita saling menjelekan satu sama lain, bahkan sesama dengan tetangga sekitar. Segala kemudahan yang tersedia bukannya menambah kerukunan malah memercikan keributan. Mungkin memang benar, koneksi terkuat antar manusia adalah ketika tak adanya sinyal gawai tersedia. Ya, disana sulit sekali sinyal untuk ber-media sosial, hanya ada 1 tower provider saja yang akhirnya kadang — kadang digunakan bersama — sama ketika dibutuhkan.
Hari semakin sore, udara semakin dingin. Ketika kegiatan pengobatan gratis dan homevisit selesai dilakukan, kami segera berlatih upacara yang akan dilakukan besok pagi hari bersama murid — murid SDN Patuha. Saya sendiri yang tidak kebagian tugas untuk jadi petugas upacara pada awalnya tidak ikut bergabung. Saya bermain bola bersama anak — anak disana dan ketika menjelang magrib diajak bergabung untuk menghangatkan diri di perapian oleh warga sekitar yang dibuat di lapangan secara manual menggunakan kayu bakar. Sambil menghangatkan diri di cuaca yang dinginnya mulai menusuk — menusuk, saya sekaligus mengakrabkan diri dengan warga disana dengan obrolan — obrolan hangat yang sarat makna.
Setelah magrib kami diistirahatkan, bagi yang mau mandi dipersilahkan mandi, bagi yang mau rebahan silahkan rebahan, bagi yang mau ngopi — ngopi silahkan ngopi. Karena banyaknya temann — teman yang mau mandi, saya ikut juga dengan niat yang setengah — setengah buat mandi. Kami mandi di jamban. Jamban disana hanya sebuah bak air yang memanjang dan setiap bilik memiliki saluran air masing — masing yang berbentuk seperti pipa. Ketika diputar maka air akan mengalir dari pipa tersebut. Karena tidak adanya kloset di jamban tersebut, maka yang bisa dilakukan disana hanya wudhu, kencing dan mandi dengan penerangan yang seadanya. Dan ternyata air yang mengalir rasanya dingin sekali malam itu. Tentu saja saya urung untuk mandi.
Malam hari setelah kami selesai istirahat bersih — bersih, kami dikumpulkan lagi di ruang guru, ruang yang nantinya dipakai oleh relawan perempuan untuk tempat istirahat. Kami makan malam bersama, dan setelah itu adalah sesi perkenalan setiap relawan yang hadir. Cukup mengagetkan saya juga sebetulnya, karena saya kira akan banyak teman — teman yang sebaya dengan saya sebagai mahasiswa, namun ternyata mayoritas relawan yang terlibat adalah teman — teman yang sudah bekerja, dan sudah lulus kuliah entah berapa tahun yang lalu. Sementara yang berstatus mahasiswa mungkin hanya ada 7–8 orang dari total yang terlibat adalah sekitar 50an orang.
Gempa bumi di malam hari menjadi tambahan peristiwa diluar rundown bagi kami. Ketika mayoritas sudah tertidur di dalam sleeping bag masing — masing, tiba — tiba entah siapa mulai berteriak ada gempa. Kami yang tertidur satu per satu bangun, entah karena teriakan atau goyangan tanah yang sangat terasa. Karena kami tidur di perpustakaan, maka sisi — sisi kami adalah lemari yang berisi buku — buku. Tentu fatal jika kami berdiam diri tertidur terus. Untungnya gempa mereda dan satu per satu dari kami mulai masuk sleeping bag lagi dan melanjutkan istirahatnya.
Esok harinya kami ditugaskan untuk siap jam 7 pagi untuk melaksanakan sarapan. Tentunya bagi siapapun yang berniat mandi diperbolehkan. Dan tentunya lagi saya belum tertarik untuk mandi di cuaca yang sangat dingin ini. Setelah sarapan bersama di ruang guru kami diarahkan untuk segera ke lapangan untuk mengambil posisi siap melaksanakan upacara bendera.
Murid SDN Patuha mulai berdatangan. Jadwal masuk mereka adalah jam 8 pagi karena untuk memberi rentang waktu bagi siswa yang rumahnya cukup jauh dari sekolah. Sebagai informasi, sekolah tersebut merupakan satu — satunya sekolah yang ada di dusun tersebut. Pagi hari sampai jam 12 sekolah tersebut berfungsi sebagai SD akan tetapi siang harinya berubah menjadi SMP. Hanya ada satu kelas di tiap tingkat kelasnya dengan jumlah murid total satu sekolah adalah sekitar 200 siswa. Fasilitas kelas hanya seadanya dan bahkan tiap kelasnya hanya dibatasi triplek tipis yang rapuh serta keramik yang sudah banyak pecah — pecah. Kondisi yang benar — benar sangat kurang memadai untuk menuntut ilmu.
Setelah melaksanakan upacara, murid — murid dipersilahkan masuk sesuai ke kelasnya masing — masing. Sementara teman — teman relawan mempersiapkan alat peraga yang membantu dalam pelaksanaan pengajaran nanti di kelas. Setiap kelasnya dibagi sekitar 10 relawan per kelas. Materi yang akan disampaikan pun berbeda — beda sesuai kelas yang akan diajar. Saya kebagian untuk mengajar kelas 4 dan mendapatkan materi tentang geografi, mengenalkan pulau — pulau besar yang ada di Indonesia.
Tidak hanya menyampaikan materi saja, kami juga bermain games tentang materi tersebut dan juga mempersiapkan pentas seni yang akan ditampilkan dan dilombakan siang harinya, juga setelah itu ada juga sesi obrolan hati ke hati dengan murid — murid di kelasnya, berbincang mengenai mimpi dan cita — cita mereka kedepannya dan berbagi wawasan agar mereka berani untuk bermimpi setinggi — tingginya. Tidak lupa ada reward yang berlaku untuk siapapun yang berani menjawab pertanyaan dari teman — teman relawan.
Diujung setelah bercerita tentang cita — cita dari adik — adik murid SDN Patuha, setiap cita — cita mereka akan ditempel pada pohon impian yang diletakan di tembok kelas. Sehingga seluruh adik — adik SDN Patuha akan ingat tentang cita — citanya dan selalu bersemangat dalam belajar hingga suatu saat nanti cita — cita itu akan tercapai.
Setelah adik — adik semuanya sudah menempelkan cita — citanya pada pohon impian, setiap murid dibagikan juga kenang — kenangan dari tim 1000 Guru Bandung yaitu snack, alat tulis, buku tulis, dan sebuah tas. Juga kami dengan sukarela mengecek golongan darah setiap murid di kelas. Dengan begitu, mungkin adik — adik SDN Patuha akan terbantu dalam kegiatan di hari — hari pasca kami pulang.
Sungguh sebuah perasaan bahagia yang sulit dideskripsikan ketika berbagi bersama mereka. Udara dingin menusuk di pagi hari seakan menjadi sehangat senyum tulus mereka dalam menerima kami. Senyuman itu pula yang membuat kami haru dalam melihat perjuangan mereka untuk menembus mimpi ditengah segala keterbatasan yang ada. Hari ini seluruh partikel patuha sedang berbahagia. Hari ini pula, mimpi — mimpi anak patuha diabadikan melalui doa — doa tulus dari setiap makhluk yang hadir di momen penuh keceriaan tersebut.
Setelah itu murid — murid dipersilahkan pulang untuk kembali lagi pada siang harinya dengan membawa orang tuanya untuk hadir di pentas seni, lomba — lomba, dan bagi — bagi doorprize. Sementara kami dipersilahkan untuk istirahat dan makan siang bersama, serta ganti setelan karena akan lomba.
Mulai pukul 1 siang murid — murid dan orang tua mulai berdatangan lagi ke sekolah. Dengan semangat yang sama seperti pagi hari, kami berlatih lagi untuk pentas seni yang akan ditampilkan. Setiap kelasnya mempersiapkan pentas seninya masing — masing yang akan dilombakan dan dinilai oleh tim relawan.
Setelah setiap kelas menampilkan pentas seninya masing — masing, kami mengadakan lomba — lomba yang diikuti oleh seluruh warga patuha maupun tim relawan juga. Bukan hanya adik — adik siswa SDN Patuha saja yang bersemangat dalam mengikuti lomba, bahkan ibu — ibu warga juga sangat antusias mengikuti lomba. Karena suasananya masih dalam rangka memperingati hari kemerdekaan, lomba yang diadakan yaitu makan kerupuk, balap karung, memasukan paku ke botol dan lain lain. Tidak lupa juga kami membagikan doorprize bagi warga yang beruntung nomornya dipanggil. Sebelumnya kami sudah membagikan kupon doorprize melalui adik — adik dari SDN Patuha.
Tidak ada yang membatasi kami untuk saling berbahagia hari ini. Bahwa kebagiaan yang sebenar — benarnya bahagia adalah ketika rasa bahagia itu disebarkan adalah benar adanya. Menyenangkan rasanya melihat rona mata yang berbinar binar bahagia. Sejenak kami melupakan kesemrawutan pada dunia masing — masing dan sepakat untuk memberikan segala jiwa dan raganya untuk hadir, hidup dan bahagia bersama pada momen yang nyata di hari yang cerah ini.
Seluruh kelas adalah juaranya. Masing — masing kelas mendapatkan hadiahnya untuk dibuka bersama setelah perlombaan selesai. Seluruh murid dibawa kembali masuk ke kelasnya masing — masing untuk pembagian jatah hadiah. Hadiahnya pun sederhana, hanya alat — alat tulis seperti pensil, pulpen, pengserut, buku tulis dan lain lain, namun mereka tetap antusias dalam menerimanya. Semangat mereka seakan tidak habis — habis, ketika kami melontarkan pertanyaan — pertanyaan untuk pembagian hadiah, mereka tetap berapi — api dalam menjawab, entah itu benar ataupun salah jawabannya.
Hari semakin sore. Mau tidak mau kami harus berpisah dengan adik adik SDN Patuha. Setelah pembagian hadiah lomba, kami semua pamit untuk melanjutkan hidup. Ada momen — momen yang seakan kami tidak ingin melepas adik — adik yang selalu bersemangat ini. Tapi bagaimanapun itu terjadi, doa kami akan selalu menyertai adik — adik di SDN Patuha dalam perjalanannya menuntut ilmu menuju mimpi agung yang bersemayam dalam adik — adik penuh keceriaan ini.
Malam harinya kami dikumpulkan lagi di ruang guru untuk melaksanakan makan malam. Sebelumnya relawan diperbolehkan istirahat dan bersih — bersih setelah melakukan aktivitas penuh seharian. Saya juga akhirnya ikut merasakan dinginnya air patuha setelah memutuskan untuk mandi. Dan tiba — tiba saya salut dengan warga disini yang tiap hari rajin mandi pagi dan sore dengan air dan cuaca yang sedingin ini.
Setelah makan malam, kami para relawan melanjutkan malam dengan menampilkan pertunjukan tiap kelompok relawan kelas. Bermacam — macam pertunjukan seperti bernyanyi, berjoget, drama, dan berbalas pantun ditampilkan bersamaan dengan udara patuha yang semakin larut semakin dingin. Untuk lebih menghangatkan suasana, acara di malam hari ini kami akhiri dengan bernyanyi bersama dengan iringan gitar dan sinar flashlight handphone.
Hari ketiga sekaligus hari terakhir kami disini diawali dengan senam pagi bersama. Setelahnya, kami melakukan jalan — jalan menuju pabrik teh yang ada di desa tersebut. Pabrik teh disini sudah ada sejak tahun 1870 ketika Belanda masih menjajah negara kita. Jauh sampai hari ini, bangunan pabrik tersebut masih kokoh untuk dijadikan pabrik dan mesin nya pun terlihat masih baik. Rata — rata warga Patuha bekerja di pabrik ini. Kami berangkat bersama pemandu, yaitu warga sini yang berprofesi sebagai guru olahraga. Bapak tersebut menceritakan kepada kami tentang bermacam — macam hal yang ada di Dusun Patuha selama perjalanan kami menuju pabrik teh. Letaknya memang tidak terlalu jauh, namun jalur menuju pabriknya cukup menanjak sekaligus matahari yang sinarnya cukup menyilaukan.
Sepulang kami dari jalan — jalan ke pabrik dan berfoto di sekitar Dusun Patuha, kami dianjurkan untuk bersih — bersih dan merapikan barang bawaan untuk persiapan pulang. Sambil menunggu truk tentara datang menjemput, kami melanjutkan hari dengan acara makan siang, tukar kado, pembagian sertifikat dan pengumuman relawan — relawan terbaik dinominasinya. Semuanya berjalan dengan lancar dan berbahagia.
Truk tentara pun tiba yang artinya cerita kami berada di dusun ini semakin menuju akhir. Sedikit demi sedikit kami mulai memindahkan barang — barang kami masuk ke truk. Warga juga mulai berdatangan menghampiri dan menyertai kami untuk melepas kepulangan kami. Murid — murid yang memang rumahnya daerah sekitar juga mulai memeluk kaka — kaka relawannya seakan meminta kami menunda kepulangan. Kami juga mulai menyalami siapapun warga yang kami temui untuk pamit pulang. Kami diperlakukan seperti warga yang sudah lama disana. Apapun yang terjadi pada momen ini adalah suatu hal yang baik. Kami datang membawa harapan dan pulang membawa pengalaman. Suatu peristiwa yang tak terhingga nilainya.
Di alinea penutup ini, saya pribadi ingin menyampaikan bahwa sinar — sinar harapan itu akan selalu ada. Mungkin ini salah satu cara saya untuk berkontribusi dalam penyalaan sinar — sinar harapan tersebut. Setiap orang memiliki caranya masing — masing memang. Keluar dari zona nyaman perkotaan bukan suatu hal yang ingin dilakukan semua orang. Masih banyak sekali adik — adik di luar sana yang kondisinya sama seperti adik — adik kami di SDN Patuha bahkan lebih buruk lagi. Meski sedikit yang bisa kami lakukan, tapi kami harap beberapa tahun lagi adik — adik disini akan sukses meraih mimpinya masing — masing yang telah diabadikan di pohon impian.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada teman — teman dan kaka — kaka relawan terutama tim 1000 Guru Bandung yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk bergabung dan ikut serta dalam upaya pencerdasan anak — anak pedalaman di Indonesia. Dan juga mohon maaf jika keikutsertaan saya belum memenuhi ekspektasi. Saya belajar banyak dari kegiatan ini, terutama pentingnya memelihara asa untuk meraih mimpi. Tidak ada satu detik pun yang sia — sia ketika ada bersama orang — orang hebat di sekililing saya. Ini akan menjadi tiga hari yang penuh pengalaman baik.
Terima kasih semuanya !
Selamat ulang tahun Indonesia dan Seribu Guru.
Salam 5 Jari — Berawal dari hati berbagi untuk anak negri.
Patuha, 17–19 Agustus 2018
Credit foto (tim pubdok 1000 Guru Bandung):
- Kak Nida / @namasayanida
- Kak Ima / @cimeima
- Kak Rangga / @ranggarila
- Kak Iyay / @_iyayy
Cek kegiatan kami di instagram @1000_ Guru / @1000_Guru_Bandung jika kalian tertarik dan ingin terlibat juga dalam upaya perubahan bagi anak — anak pedalaman di Indonesia.
Originally published at http://salonpaspandita.wordpress.com on September 2, 2018.
