Di Sana

Temaram lampu menyinari jarak di antara kita
Di atas meja kayu, secangkir kopi diam menunggu
Sebuah buku merah terbuka ditemani sahabatnya, pena
Juga menunggu

Kamu mengukir alfabet membentuk sebuah kata
Lalu kalimat
Dan bait

Hening mengisi detik-detik yang terus berjalan
Menemani aku yang diam di sana
Sampai kamu menutup buku merahmu

“Sudah selesai?”, tanyaku
“Lupa.”, jawabmu

Kuambil buku merah itu, kubaca isinya
Lembar demi lembar
Sampai pada lembar terakhir

“Karena kamu sudah baca, kamu harus nulis.
Itu aturannya.”

Aku harus tulis apa?
“Bebas.”, katamu

Aku sudah menulis
Tapi kamu bilang aku curang
Beritahu aku
Bagaimana bisa?

Di sana
Ada yang tertinggal
Kenangan
Dan rahasiaku

Sampai berjumpa lagi.


Mulai kangen nulis dengan gaya begini setelah sekian lama. Mungkin bakal banyak nulis kaya ginian lagi ke depannya entah fiksi atau tidak. Terima kasih sudah membaca sampai selesai! :)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.