Selamat berulang tahun, Cinta Sejatiku.

22 tahun 2 bulan 14 hari yang lalu Umi melahirkan aku ke dunia ini. Umi selalu bilang, dari 3 anaknya, aku yang paling susah proses kelahirannya. 3 hari 3 malam umi kontraksi, tapi aku tak kunjung lahir. Ternyata aku kalung usus yang hanya bisa diatasi dengan operasi caesar. Karena waktu itu untuk makan saja masih susah, Umi memilih berjuang melahirkan aku dengan normal. Setiap umi bercerita bagaimana sakitnya, aku ngeri. Melahirkan normal saja sakit, apalagi ditambah dengan adanya kalung usus. Saking sakitnya, Umi sampai pasrah, sudah pamit pada saudara dan kerabat jikalau nanti nyawanya diambil ketika melahirkan aku. Tapi Umi tetap berjuang hingga akhirnya aku bisa melihat dunia. Umiku memang tangguh.

Saat itu Umi berusia 25 tahun, cukup muda untuk punya anak. Tapi, kata eyang dan saudara-saudara Umi, perjuangan Umi untuk anak-anaknya sangat luar biasa.

Tidak terasa ya, Mi, besok Umi sudah 47 tahun. Sebentar lagi setengah abad.

24 tahun lebih sudah Umi mendedikasikan hidup untuk keluarga, terutama untuk anak-anakmu.
Umiku yang rela mengalah agar anak-anaknya mendapat yang terbaik,
Umiku yang selalu mengajarkan bahwa keluarga di atas segalanya,
Umiku yang cerewet luar biasa demi kebaikan anak-anaknya,
Umiku yang selalu mengajarkan untuk berhemat berhemat dan berhemat,
Umiku yang (mungkin) tidak se-gaul ibu-ibu lain tapi selalu berusaha gaul biar bisa ngikutin anak-anaknya,
Umiku yang shopping-nya untuk bisnis, buat sekolah anak-anak, bukan untuk hura-hura diri sendiri,
Umiku yang meskipun tidak punya alis tidak pernah dandan tapi tetep cantik manis apa adanya,
Umiku yang mengajarkan bahwa kecantikan yang sesungguhnya itu dari hati, bukan dari fisik,
Umiku yang selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya di sepertiga malam terakhir,
Umiku yang saat aku kecil dulu setiap subuh kudengar sayup-sayup lantunan merdu ngajinya sambil mengelusku membangunkanku untuk subuh,
Umiku yang tidak pernah bosan mengingatkan anaknya untuk sholat tepat waktu kapanpun di manapun,
Umiku yang selalu mengajarkanku untuk menjadi wanita yang kuat tangguh dan mandiri,
Umiku yang kuat menahan semua bebannya sendiri bertahun-tahun lamanya, tetap tersenyum dan tidak pernah meneteskan air matanya setetes pun di depan anak-anaknya selama itu,

Umiku yang selalu mengajarkan untuk berbagi, semakin banyak yang kau punya semakin banyak yang harus kau bagi dengan orang yang membutuhkan,

Umiku yang mengajarkan anak-anaknya arti keteladanan yang sesungguhnya.

Aku memang tidak bisa memilih siapa Umiku, tapi aku bangga punya Umi sebagai ibuku.

Terima kasih untuk semua yang sudah kau berikan selama ini. Kasih sayang, perhatian, materi, pendidikan, nasehat, inspirasi, semoga semakin hari Umi semakin baik.
Semoga nanti aku bisa jadi Umi sebaik engkau. Semoga suatu saat nanti aku bisa membahagiakan engkau sebagaimana engkau membahagiakanku selama ini.
Maafkan anakmu yang masih sering durhaka ini.

Barakallahu fii Umrik, Umi. Ana uhibbuki fillah.

Surabaya, 15 Juli 2017
Anak yang selalu mendoakan dan mengusahakan kebahagiaanmu,
Nabilla F. Azhari.

.

.

.

Tulisan pertama ku ini aku dedikasikan untuk orang terbaik yang dihadirkan Allah dalam hidupku: Umi. Tulisan ini adalah remake dari tulisanku yang aku tulis 18 Juli 2016 tahun lalu. Semakin tahun, semakin merasuk ke hati. Semoga Umi selalu mendapat yang terbaik di dunia dan di akhirat kelak.

Like what you read? Give Nabilla Fadlina Azhari a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.