Ia Memilih Pergi.

“Hai, aku yakin kamu mengerti seberapa besar aku menyayangi kamu. Berbagai macam hal sudah aku lakukan, berbagai macam perlakuan sudah aku relakan. Tapi masih saja kamu memintaku untuk bersembunyi dibalik layar, agar tidak ada yang mengetahui siapa aku bagimu. Memangnya kenapa jika mereka tau aku ini adalah milikmu? Tanyaku waktu dulu. Kamu hanya menggelengkan kepala dan berkata bahwa mereka tidak boleh tau. Demi kebaikan kita berdua.

Aku benci ketika aku harus terlihat baik-baik saja waktu kamu mengantarkan dia pulang kerumah. Rasanya inign aku menarikmu dan bilang bahwa aku benci. Tapi sayang, sebelum itu semua terjadi, bisikmu terlanjur sampai di telingaku. ‘Maaf, aku harus begini.’ Lagi-lagi, kebaikan kita berdua kamu jadikan alasan.

Aku mencoba mengerti ketika kamu tidak bisa menghubungiku namun memilih untuk aktif di berbagai grup sosialmu. Iya, mungkin aku bukan yang penting bagimu saat ini. Pengakuanmu malam itu membuatku paham, bukan aku yang menjadi fokus utamamu. Tapi kamu bilang, ‘ini hanya untuk sementara, setelah semuanya selesai, kamu kembali menjadi utama bagiku.’ Lantas kapan, ini selesai?

Sayang, aku pun butuh kamu disini. Aku membutuhkan kamu yang nyata. Aku butuh juga dunia.

Aku lelah dengan semuanya. Aku lelah bermain-main dengan kenyataan. Aku lelah bersembunyi terus-menerus. Jika memang bukan aku yang ingin kamu pamerkan pada mereka di luar sana, biarkan aku pergi. Silahkan cari dia, yang menurutmu pantas kamu pamerkan pada dunia.

Aku sungguh akan baik-baik saja. Biarkan aku pergi, jangan menahan seperti ini. Kamu paham bagaimana semua permintaamu akan aku penuhi, termasuk bersabar untuk menunggu waktu yang tepat.

Tapi aku sudah lelah, aku bosan. Menunggu tidak lagi menjadi kegiatan mengasyikkan, semenjak menungguku dibayangi oleh kenyataan kamu pergi dengan dia.

Jadi, kamu tau aku menyayangimu. Tapi rasanya seberapa besarpun perasaanku, tidak lagi menjadi penting. Jika bagimu kebaikan kita berdua adalah dengan menyembunyikan aku, maka bagiku kebaikan kita berdua adalah dengan saling melepaskan.

Selamat tinggal, sayang.

Aku terlalu menyayangimu, tapi pada akhirnya, akupun harus menyayangi diri sendiri, bukan?

Sekali lagi, selamat tinggal.”

Galang terpekur sendirian membaca surat dari Luna, satu-satunya gadis yang pernah ia impikan menjadi masa depannya. Ia tidak pernah sadar betapa ia membutuhkan Luna untuk ada di sisinya, sementara ia sibuk mengejar mimpi demi membahagiakan Luna kelak. Tapi kini ketika Luna sudah memilih pergi, ia tidak mengerti lagi apa yang harus ia lakukan. Galang kehilangan arah. Tujuannya adalah Luna, tapi kenapa Luna memilih pergi?

Galang pikir Luna bisa mengerti, karna selama ini Luna hanya tersenyum mengiyakan untuk semua permintaan Galang. Galang pikir Luna memahami, kenapa selama ini Galang belum siap memperlihatkan Luna pada dunianya. Tapi kenapa Luna memilih pergi?

Luna, Luna, Luna, nama itu terus saja bergaung di kepala Galang. Membuatnya pusing, riuh penyesalan di kepalanya. Ia ingin pergi mencari, tapi Luna seperti tidak bisa ditemukan dimanapun. Luna seperti hilang begitu saja, tidak ada yang mengetahui keberadaannya — atau tidak ada mau memberi tahu Galang keberadaan Luna.

Galang sudah hampir selesai dengan perjuangannya. Galang sudah hampir selesai dengan semua angannya. Galang sudah hampir selesai dengan permainannya. Galang sudah hampir siap memperkenalkan Luna pada dunianya. Tapi kenapa Luna memilih pergi?

Galang benar-benar tidak habis pikir kenapa Luna memilih pergi. Galang benar-benar tidak mengerti di bagian mana Luna tidak paham sampai ia memilih pergi seperti ini. Galang benar-benar menyesal kenapa ia tidak lebih menjelaskan pada Luna alasan ia menyembunyikan wanita impiannya itu dari dunianya. Ah, kenapa Luna memilih pergi?

Dibaliknya lembar kertas surat itu, dibacanya lagi perlahan,

“Aku memilih pergi karna aku tau, kamu tidak akan memilihku. Bersenang-senanglah dengan kesuksesanmu dan bergembiralah karna berhasil mewujudkan mimpi dan anganmu. Aku sudah cukup bahagia bisa menemanimu sampai di titik ini.

Aku bukannya tidak menyayangimu, justru karna itu, aku memilih untuk pergi.

Berbahagialah, Galang.”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.