Bonus Demografi: Betapa Bahagianya Industri Musik Indonesia

Foto: Dzabi

Industri musik di Indonesia kini semakin menarik. Garis pembatas antara musik arus utama dengan musik arus pinggir semakin buram. Tidak ada lagi dominasi musik arus utama jebolan akademi major label. Kini, keduanya mendapatkan kesempatan yang sama dan bisa berbagi panggung. Mungkin belum semua stasiun televisi membuka diri untuk realita ini. Namun, dapat dipastikan untuk off air, nama-nama besar di scene independen mempunyai pasar yang menjanjikan.

Dalam sebuah wawancara Felix Dass (penulis dan pekerja musik independen) dengan Majalah Hai. Ia membeberkan 10 raksasa di scene independen seperti Seringai, White Shoes and The Couples Company, Sore, Burgerkill, Superman Is Dead, Payung Teduh, dan Mocca bisa menghasilkan income kurang lebih sebesar Rp 3 miliar per tahunnya. Sebuah angka yang fantastis.

Keberadaan internet dalam mendistribusikan musik independen ini sangatlah penting. Payung Teduh meraih atensi luar biasa lewat video klip single terbarunya, Akad yang terpampang di YouTube. Lewat internet juga dengan kanal-kanal online yang tersedia seperti Spotify, Soundcloud, dan Bandcamp. Dalam skala yang lebih kecil, label-label independen seperti Kolibri Rekords, Orange Cliff Records memperkenalkan musik mereka di sana. Spotify Indonesia pun memiliki playlist khusus untuk para musisi independen ini yang bernama IndieNesia.

Dari situlah orang-orang semakin mengenal istilah musik indie; menafisrkan indie sebagai genre musik baru; mengidentifikasikan diri mereka sebagai anak indie. Fenomena yang lucu memang. Lebih jauh lagi, fenomena tersebut dapat kita jadikan sebagai parameter untuk mengetahui sudah sejauh mana perkembangan scene musik independen ini berjalan. Mengukur seberapa banyak poser yang bertebaran dan mencoba melihat seberapa sukses musik ini berhasil dipasarkan.

Kabar buruknya adalah ketika musik independen ini sudah menjadi komoditas. Penyelenggara yang bermain aman — kembali lagi — akan mengambil band-band yang itu saja dan cenderung monoton.

Saya paham akan soal ini. Jika saya berada di posisi penyelenggara, kurang lebih saya juga akan melakukan strategi yang hampir sama demi meraup untung yang besar. Wajar saja, perusahaan-perusahaan rokok itu pastinya telah menggelontorkan dana besar-besaran demi membuat acara gratisan di setiap kotanya. Akan sangat disayangkan jika hal ini terus terjadi. Tidak ada variasi: tiga kata yang bisa mendeskripsikan kegelisahan saya tentang ini. Ini juga bisa-bisa menghambat regenerasi dalam scene itu sendiri. Padahal, sadar atau tidak, komunitas-komunitas musik yang tersebar di berbagai daerah inilah ladang potensial untuk melahirkan band-band baru.

Sebagai alternatif, komunitas-komunitas musik tersebut dengan mengusung konsep DIY, juga menjadi penyelenggara acaranya masing-masing. Mereka mengadakan gig dan mengelolanya secara kolektif. Venue mahal tidak menjadi masalah karena format house gig juga tak kalah menarik.

Foto: Salwa Nadira A

Dari Jakarta kita akan menemukan gig rutin bernama Superbad yang diinisiasi The Secret Agents. Ada juga Thursday Noise yang diprakarsai oleh Jimi Multhazam dan Humming Mad oleh We.Hum.Collective yang tak kalah menarik. Jakarta juga punya Studiorama yang selalu serius dalam mengkurasi artis luar negeri dan lokal untuk diboyong ke Jakarta.

Pindah ke Tanggerang, kita akan melihat keseruan house gig yang diadakan Swingger Collective. Jatinangor punya Wacana Kolektif yang dimulai pada tahun 2016 juga turut serta dalam mengadakan gig rutin. Belakangan ini, Teras Kolektif juga menyusul dengan pemanfaatan amphiteather Fikom Unpad sebagai venue.

Geser ke Bandung. Di sana kita akan melihat scene yang menggeliat dari berbagai komunitas musik, salah satunya adalah, An Intimacy yang merupakan hasil kerjasama Komunitas Musik Fikom, Monsterstress Record, dan FFWD Records. Terbang ke Jogja, kita juga akan merasakan keseruan dan keintiman house gig yang diadakan oleh teman-teman Terror Weekend.

Ini merupakan berita segar bagi siapapun yang mendambakan regenerasi. Termasuk saya atau pun teman-teman yang sudah jenuh dengan line up acara yang itu-itu saja. Memang, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Namun, saya menyimpan keyakinan ini dalam-dalam: apabila komunitas-komunitas yang ada dapat dikelola dengan baik maka masa depan industri musik Indonesia akan hidup dengan bahagia. Terlebih lagi, kita akan mengalami fenomena yang lebih dikenal dengan bonus demografi.

Bonus demografi adalah suatu fenomena dimana struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sedang proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak. Plh Deputi Bidang Pelatihan dan Pengembangan BKKBN Indonesia dalam suatu wawancara menyebutkan, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yaitu jumlah usia angkatan kerja (15–64 tahun) mencapai sekitar 70 persen, sedangkan 30 persen untuk penduduk tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun) yang akan terjadi pada tahun 2020–2030.

Jadi, pada tahun 2020–2030 nanti, Indonesia akan mempunyai sekitar 180 juta orang berusia produktif yang berarti adalah sebuah kondisi yang dimana sangat memungkinkan untuk adanya industri musik yang jauh lebih sehat secara finansial maupun kualitas. Kita bisa melihat 180 juta orang ini adalah angka yang potensial untuk dijadikan pelaku atau pasar.

Foto: Salwa Nadira A

Jika kita kembali lagi membicarakan komunitas-komunitas musik yang ada hari ini. Seharusnya, dengan pengelolaan yang baik dan konsisten, 5–10 tahun lagi, band-band baru ini akan menjadi aset negara dengan segala benefit ekonomi dan histori-kulturalnya. Dan, seterusnya akan seperti itu sehingga regenerasi terus terjadi dan tak pernah berhenti.

Ini merupakan tugas yang berat dan bersifat multidimensional. Saya rasa, semua stakeholder harus bersinergi karena untuk menciptakan industri musik yang baik, berarti kita harus juga mencetak sumber daya manusia yang kompeten untuk menciptakan iklim yang mendukung. Bukan hanya dari pelaku industrinya sendiri, melainkan dari jajaran kepemerintahan dan juga bidang pendidikan.

Sayangnya, pemerintah masih cuek bebek untuk hal ini. Walau harus diakui, kehadiran Bekraf adalah pertanda yang baik tapi masalah keberangkatan hingga pembatasan maksimum anggota yang terjadi pada SXSW tahun 2017 kemarin menunjukkan ketidakseriusannya dalam mendukung kemajuan industri musik.

Hal-hal seperti ini kiranya yang harus kita perbaiki terlebih dahulu sebelum kita mengeksplorasi sektor lainnya; sebelum kita melangkah lebih jauh lagi membicarakan kota musik, pariwisata musik, dan sebagainya. Sektor pendidikan juga jangan sampai terlewat. Menurut saya pribadi, pendidikan adalah alat utama untuk menciptakan suatu sistem yang kita inginkan.

Selama ini kita mengenal pendidikan musik hanya sebatas bermain musik saja dan tak sekedar untuk mencetak pemain musik yang jago dalam memainkan peralatannya. Padahal tidak. Ini lebih jauh dari persoalan skill semata.

Pendidikan musik harusnya juga bisa mengajarkan apa yang melatarbelakangi seorang musisi membuat lagu itu, bagaimana prosesnya, dan apa saja dampaknya. Sehingga proses kreatif dan imajinatif terjadi pada saat itu. Anak-anak juga dipacu untuk kritis. Ide ini mungkin bisa dikolaborasikan dengan pendidikan Bahasa Indonesia.

Jadi, kita lebih berbicara mengenai isi dibanding tampak luarnya. Kita membedah suatu lagu dan mempelajari wacana-wacana yang dilempar oleh seniman tersebut. Kemudian, ini juga bisa lebih menarik jika output yang dihasilkan adalah lagu juga. Anak-anak ini mengikuti proses pembuatan lagu dari A sampai Z hingga tanpa disadari proses pengapresiasian karya dapat terawat dengan baik.

Ada satu hal yang ingin saya tekankan: semua wacana ini akan sia-sia kalau tidak ada realisasi yang jelas dan terciptanya sebuah sistem yang mendukung — pemerintah dan musisi serta stakeholder lainnya berjibaku membangun industri musik yang sehat — sehingga nantinya akan meguntungkan banyak pihak. Dan tentu, bonus demografi ini tidak lewat begitu saja.