Omega Nacha
Sep 5, 2018 · 3 min read

Kondisi Perekonomian China pada Kuartal II 2018

Nama : Omega Prasetyaningrum

NIM : 15417127

Dalam tiga dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi China merupakan sebuah keajaiban besar dalam sejarah perekonomian modern dunia. Tidak hanya tingkat pertumbuhannya, tetapi juga skalanya yang mengejutkan banyak pihak, meningkatkan taraf hidup lebih dari 1.3 miliar penduduk China, atau sekitar 20% dari populasi dunia. Dalam seperempat abad terakhir ekonomi China telah tumbuh 30 kali lipat, bandingkan dengan perekonomian Indonesia dalam periode yang sama yang hanya tumbuh 8 kali lipat. Jadi memang tidak hanya secara kasat mata, secara data dan statistik China telah meninggalkan Indonesia jauh di belakang. Namun, saat ini pertumbuhan ekonomi China perlahan mengalami perlambatan seiring dengan semakin meningkatnya tekanan perang dagang dengan Amerika Serikat. Pada kuartal kedua 2018, Biro Stasistik Nasional China mencatat, perekonomian China secara tahunan (year-on-year/YoY) turun 0,01% menjadi 6,7%, atau sesuai dengan perkiraan ekonom. Sementara secara kuartalan, ekonomi China naik 0,28% menjadi 1,8% dibandingkan kuartal sebelumnya. Bahkan bisa dikatakan, angka pertumbuhan ekonomi China kali ini adalah yang terendah dalam dua tahun terakhir. Pemerintah China menyatakan, kondisi perekonomian China masih sesuai dengan target pemerintah tahun ini, yaitu berada pada kisaran 6,5 persen. Namun, mereka tidak menyangkal fakta bahwa kenaikan ketegangan anatara China dan AS dapat menimbulkan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang akan terus berlanjut tahun ini. Analis telah memrediksi, ketegangan perdagangan ini dapat memangkas pertumbuhan ekonomi China hingga 0,5 persen, tergantung pada besaran sanksi tarif yang diberikan.

Dikutip melalui CNNMoney, pada awal Juli 2018, AS dan China menerapkan tarif sebesar 25 persen untuk 34 miliar dollar AS untuk masing-masing komoditas ekspor mereka. AS juga akan segera menerapkan sanksi bea masuk untuk 16 miliar dollar AS komoditas ekspor China lainnya. Dampak dari sanksi tarif ini, nampaknya akan mulai memengaruhi perekonomian China pada kuartal kedua tahun ini. Ketegangan dalam perdaganganpun turut berpengaruh kepada pasar saham China, yang bisa dikatakan sebagai pasar saham dengan kinerja terburuk tahun ini. “Kemungkinan adanya sanksi tarif yang lebih besar telah meredam kepercayaan bisnis, dan menunda investasi,” ujar Head of Asia Economics Research Firm Oxford Economics Louis Kuijs. Selain perang dagang, tingkat utang pemerintah yang meningkat tajam setelah krisis keuangan global satu dekade yang lalu juga berkotribusi terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi ini. Presiden Xi Jinping bersama dengan pejabat pemerintah lain pun telah mendiskusikan, China perlu untuk mengurangi risiko keuangan mereka, salah satunya dengan metode deleveraging (megurangi tingkat utang dengan menjual aset). Selain itu, pemerintah China juga mencoba untuk menindak bank-bank besar China yang berusaha menutupi kredit-kredit macet mereka dari neraca keuangan bank. Senior ekonom dari Capital Economics Julian Evanns Pritchard mengatakan, hasil produksi dari pabrik-pabrik China, konsumsi ritel, serta infrasturktur China, seluruhnya mengecewakan untuk tahun ini. Sebagai informasi, performa perekonomian China tahun lalu begitu kuat, mencapai 6,9 % berdasarkan data pemerintah setempat.

Berikut adalah beberapa area yang memiliki potensi untuk mempengaruhi pertumbuhan ekonomi atau mendorong terjadinya pergolakan pasar:

· Risiko Finansial : Partai Komunis China baru-baru ini memperbarui komitmennya untuk mencegah dan mengendalikan risiko finansial, menyebutnya sebagai tantangan penting untuk tiga tahun ke depan. Saat sistem keuangan lebih terbuka bagi perusahaan asing, rasio utang terhadap PDB yang mengarah menuju lebih dari 320% pada tahun 2022 merupakan bahaya utama.

· Perlambatan Konstruksi : Pengetatan peraturan finansial dan lingkungan untuk membantu membatasi utang dapat menyebabkan getaran pada 2018 yang memperlambat pembangunan perumahan dan infrastruktur, menurut Frederic Neumann, co-head riset ekonomi Asia di HSBC Holdings Plc. di Hong Kong.

· Perseteruan Perdagangan : David Loevinger, mantan pakar urusan China di Departemen Keuangan AS mengatakan bahwa pidato strategi keamanan nasional Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini menjadi persiapan untuk beralih ke proteksionisme.

· The Fed dan Pajak : Jika bank sentral AS The Federal Reserve menaikkan suku bunga lebih dari yang diperkirakan pasar dan pemangkasan pajak diterapkan, dolar mungkin akan terangkat sekaligus menempatkan yuan dan arus keluar modal di bawah tekanan lagi, menurut George Magnus, seorang associate di Oxford University’s China Center.

Daftar Pustaka

Fauzia, Mutia. Perang Dagang, Pertumbuhan Ekonomi China Melambat. KOMPAS.com. 17 Juli 2018. 5 September 2018. <https://ekonomi.kompas.com/read/2018/07/17/110800126/perang-dagang-pertumbuhan-ekonomi-china-melambat>

Saeno. Ekonomi China Melambat Pada Kuartal II/2018. Bisnis.com. 16 Juli 2018. 5 September 2018. <http://kabar24.bisnis.com/read/20180716/19/817052/ekonomi-china-melambat-pada-kuartal-ii2018>

Dinisari, Mia Chitra. Ini Ancaman Terbesar untuk Ekonomi China Pada 2018. Bisnis.com. 3 Januari 2018. 5 September 2018. <http://finansial.bisnis.com/read/20180103/9/722868/ini-ancaman-terbesar-untuk-ekonomi-china-pada-2018>

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade