Rebuke?

Hidup di luar negeri dan menjadi minoritas itu ga semudah dan seindah yang gue kira bakal kayak di film-film traveller dan sebagainya.
Selalu aja ada kejadian dimana gue harus bertindak tegas, maju dan turun tangan tentang suatu hal yang menjelek-jelekkan atau mengatasnamakan agama gue untuk sesuatu yang nggak sepatutnya.

Sama hal nya kayak hari ini, disaat gue lagi anteng-anteng nya menikmati free class dan belajar untuk ujian buat kelas selanjutnya, tiba-tiba gue denger sesuatu yang ga asing gue denger tapi seperti dipermainkan.
Pas gue nengok ke belakang dan gue amati, ternyata ada 3 cowo yang lagi nonton video di youtube yang mempermainkan atau ngebuat lucu agama gue.

What the heck?

Tbh gue gatau jelas itu video apa, tapi yang pasti itu semacem nge parodiin agama gue karna ada teriakan “Allahuakbar!” nya berulang-ulang, dicampur musik-musik dj yang super annoying dan bom-bom yang mungkin terjadi pas perang di Palestina or wherever I don’t really know it.
Ya jelas gue marah, ga suka. Saat itu gue geregetan banget, pengen gue tegur saat itu juga. Cuma karna gue gamau suudzon dulu, gue mau make sure dulu mereka nonton apa. Tapi ga mungkin dong gue ikutan nonton bareng mereka dulu biar tau jelasnya mereka nonton apa, gak sudi.

Gue masih berusaha sabar sambil istighfar. Gue berdoa biar mereka berenti nonton video gak jelas itu. Akhirnya, mereka pun berenti, sesaat.

Gue pun pindah dari meja belajar ke komputer samping cowo itu. Gue masukin buku gue karna udah ga konsen belajar buat ulangan. Boi, it isn’t more important than my religion, i’ll do everything for that if i could, srsly.

Gue nyalain komputer, pura-pura aja cek email atau apa kek. Padahal tujuan gue mau mastiin mereka nonton apa dan negur baik-baik.
Ya, negur baik-baik. Kenapa baik-baik? cause Rasulullah also never taught us to be like that. He’s so smooth, so I do.

Gue inget banget ada hadits Rasulullah SAW yang saat itu lagi pas banget sama kondisi gue, Rasulullah SAW bersabda, “Berubah dan perbaikilah kesalahan dan kemungkaran dengan tangan atau kuasa jika kita punya kemampuan. Jika tidak, maka dengan lidah dan jika tidak mampu dengan perkataan, maka dengan kebencian hati terhadap kemungkaran tersebut.”

Gue sadar, ditegur itu bukan suatu hal yang menyenangkan. Rasa malu, gengsi bahkan kadang sakit hati tuh bisa aja terjadi saat seseorang ditegur, tergantung seberapa besar kesalahan orang tersebut dimata orang lain atau yang orang yang menegur. Tapi jangan salah, ternyata menurut gue menegur itu lebih nggak enak dari pada orang yang ditegur, karena justru gue merasa ada beban tersendiri ketika harus mengingatkan dan mengungkapkan kesalahan orang lain. Bisa aja kan, dibilang sok bener lah, sok taat lah, inilah itulah.

But who the hell cares? Allah doesn’t judge you anyway, Allah doesn’t care to whoever judged if you were pretentious or sobriety, at least your in the right way.

Makanya nggak heran kalo niat mau menegur udah ada, tapi tiba-tiba muncul perasaan sungkan dan risih saat harus menegur orang yang salah. Dan harus gue akui, itu sering banget terjadi sama diri gue, karna gue such a ‘ga enakan’ person, dan ini termasuk salah satu sifat yang menurut gue ‘orang Indonesia banget’. Serius loh, orang Indonesia tuh sifatnya pasti pada ngga enakan deh, dan itu ga baik guys buat kesehatan mental kita sendiri karna apa-apa pasti jadi ngerasa gak bebas gitu, gak jujur, gak terbuka, memaksakan diri sendiri yang ujung-ujungya merugikan. betul ngga?

Soooo kayaknya gue kebanyakan teori, but seriously, based on my own story, gue cuma mau sharing dan kasih saran aja, semoga kalian bisa dapetin point yang gue maksud dari cerita gue, also may Allah always bless and protect islam from people that doesn’t.. (to be continued)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.