Tak Pernah Alpa

“Ra, apa mereka semua juga disebut makhluk?” Tanya Jhanvi sembari memandang langit.
 Sejenak aku terdiam, kemudian tersenyum.

“Semua ciptaan Allah adalah makhluk.” jawabku.
“Apa mereka semua juga menyembah Allah seperti kita?” Tanya nya lagi.
“Tentu saja.”
“Bagaimana caranya? Sedangkan mereka tak punya jiwa..”

“Pernahkah kamu mendengar kalau langit alpa dalam menjalankan tugasnya? Pernahkah langit lupa menyajikan taburan bintang satu malam saja?”
 Aku tersenyum,
“Tidak jhan, mereka tidak pernah lupa. Mereka patuh akan semua perintah sang pencipta. Jika Allah menghendaki mereka untuk beredar, beredarlah mereka sesuai dengan orbit, sesuai dengan perhitungan. Tidak melenceng 1 derajat pun.” jelasku.

“Bahkan, komet Halley pun secara tetap muncul 76 tahun sekali. Tidak pernah muncul secara acak ataupun lupa.” lanjutku.

Jhanvi mengangguk, tersenyum memandang ke arah langit.

“Itulah langit. Mereka tak pernah lupa kalau mereka adalah langit, tidak seperti manusia yang seringkali melupakan kodratnya sebagai ciptaan Allah dan ingkar dari segala aturan yang sudah ditetapkan oleh Nya. Padahal, Allah menciptakan semua aturan itu pasti ada hikmahnya. Karna Allah tidak pernah menzalimi hambaNya.” Ucapku lembut namun tegas.

Like what you read? Give Nadiah Wiharnis a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.