Nov 6 · 1 min read
Memeluk Kecewa
Mengapa kita mudah menerima takdir baik dan begitu sulit menerima takdir buruk, bukankah keduanya adalah milik kita.
Apakah sebaik itu, apakah seburuk itu takdir yang menaungi kita?
Barangkali Sang Penulis takdir tidak pernah bermaksud buruk, hanya pikiran kita.
Barangkali standar kita terhadap sesuatu yang baik terlalu tinggi, atau mungkin standar kita terhadap sesuatu yang buruk terlalu dangkal.
Menelaah jauh pada suatu yang tak nampak. Mendadak buta pada apa yang didepan mata.
Dasar, anak manusia.
