Kemana Dirimu yang Dulu, Mario Götze?

Tidak terasa sudah hampir setahun yang lalu Mario Goetze menjadi super sub yang mengantarkan Jerman menjadi Weltmeister pada ajang Piala Dunia 2014. Ribuan penonton di Stadion Maracana dan jutaan pasang mata yang menyaksikan lewat siaran televisi (termasuk saya dan penduduk Indonesia lainnya yang nonton final ini sambil sahur).

Sepertinya tidak sampai semenit gol itu terjadi, foto-foto Mario Goetze yang ‘bahagia’ di atas dek kapal pesiar bersama pacarnya, Ann-Kathrin Broemmel, langsung tersebar di linimasa Twitter, if you know what I mean.

Masih segar di ingatan ketika kabar transfer Goetze — anak emas Borussia Dortmund, bagian dari bromance Goetzeus (bisa dicari fanfic-nya di Wattpad, archiveofourown.com hingga Tumblr sekalipun. Ada yang fluff, ada yang angsty, ada juga yang Rated R/NC-17 kalau ada yang berminat) — menghebohkan publik sepak bola dunia. Kabar yang tersiar di penghujung Champions League musim 2012/2013 seolah-olah sengaja disebarkan agar Dortmund patah arang sebelum menghadapi klub rival yang membeli bintangnya, the rich villain Bayern Munich. Nyatanya, Dortmund tetap kalah di final.

Saya sebagai fans Bayern rasanya ingin kipas-kipas pakai segepok uang 100-an Euro setiap kali mendengar fans Dortmund berseloroh kalau klub kesayangan saya ini adalah perusak Bundesliga. Bukannya sombong ya, namun mereka seolah mengakui bahwa Bayern adalah klub yang dianggap sangat powerful sehingga bisa merusak faktor kompetitif liga — hanya karena membeli pemain rival.

Ironisnya, Goetze yang lahir di Memmingen, Bavaria malah dijuluki Judas karena “pulang” ke tempat asalnya. Ia bahkan menuntut trio rap Kopfnussmusik yang berbasis di Dortmund karena merilis lagu berjudul “Hast Du Jetzt Was Du Willst” (Apakah Kamu Sudah Mendapatkan yang Kamu Mau?” yang berisi hinaan vulgar kepadanya. Adik Goetze bahkan harus pindah sekolah karena diteror oleh teman-teman sekolahnya yang mayoritas merupakan penggemar Die Schwarzgelben yang kecewa ditinggal bintangnya pergi.

Apakah 37 Juta Euro yang dibayarkan Bayern kepada Dortmund benar-benar sepadan dengan performa si “Messi Jerman”? Ataukah sebutan ini membuatnya menjadi “keberatan nama”?

Mari kita review perjalanan karirnya sejak di Dortmund. Der Kaiser Franz Beckenbauer pernah berkata begini:

“Di Barcelona, Lionel Messi-Andres Iniesta-Xavi membangun segitiga, namun sebagai duo klasik tidak ada yang lebih baik daripada Reus dan Goetze. Bagaimana mereka bisa memecah-belah Ajax di Champions League sangat mengesankan saya. Saya harap mereka tidak akan sukses di Munich.” — Franz Beckenbauer mengenai duet Reus-Goetze, bulan Desember 2012.

Mari kita lihat apa yang beliau katakan pada bulan Mei 2015:

“Ia bertingkah dan bergerak di lapangan layaknya seorang pemain muda. Dia berhenti bergerak setiap kali kalah dalam duel merebutkan bola. Ini adalah sikap seorang anak-anak. Sikap seperti ini tidak dapat diterima di Bayern. Sudah saatnya ia tumbuh dewasa. Ia telah menunjukkan kapabilitasnya di Dortmund dan kita semua tahu kalau ia sangat berbakat. Tapi kini tetap saja ada yang hilang.”
— Franz Beckenbauer mengenai bentuk permainan Goetze yang tidak stabil, Mei 2015.

Pada musim pertamanya di Bayern, Goetze dengan cepat beradaptasi dan mampu menembus tim utama di tengah ketatnya persaingan antar pemain di Sabenerstrasse. Pada paruh awal musim 2014/2015 dari bulan Juni hingga Desember, ia cukup produktif dalam mencetak gol dan assist — bahkan mengambil posisi Franck Ribery di lineup. Goetze juga mampu mengisi celah Robert Lewandowski (selanjutnya bisa kita sebut dengan Judas no. 2) dengan agak lambat.

Mari kita percepat ke paruh akhir musim 2014/2015. Goetze memang sempat bermain bagus dalam beberapa pertandingan, baik Bundesliga maupun Champions League. Ia bahkan membuat operan yang krusial kepada Juan Bernat yang menghasilkan gol dari Thiago Alcantara pada pertandingan leg kedua Bayern-Porto yang berakhir dengan skor 6:1. Namun, Goetze tidak mencetak gol maupun assist sejak 3 Maret 2015. Ia seolah-olah hilang dari lapangan, bahkan dalam beberapa pertandingan saya sendiri terkejut melihatnya: “Lho, Goetze main?Kirain di bench!”

Saking invisible-nya, Pep tidak menyertakannya di starting lineup Der Klassiker leg kedua Bundesliga di Signal Iduna Park dan semifinal DFB-Pokal yang berakhir dengan babak penalti yang mengiris hati kami, fans Bayern. Untungnya, Goetze tidak terpeleset seperti Xabi Alonso dan Philipp Lahm sih meskipun sama-sama tidak gol. Ia juga hanya menjadi pemain pengganti dalam laga Bayern kontra Barcelona pada semifinal Champions League.

Jurgen Kohler, bagian dari skuad Jerman yang memenangkan Piala Dunia 1990 menulis dalam kolomnya di majalah Kicker kalau ia sama sekali tidak menyukai permainan Goetze di Bayern. Kohler, yang sama-sama pernah membela Bayern dan Dortmund dalam karir sepak bolanya merasa kalau ia harus kembali ke bentuk permainannya kala di Dortmund dulu karena kini ia tidak terlihat menikmati permainannya di lapangan. Agen Goetze, Volker Struth merasa kalau kliennya tidak mendapat dukungan penuh dari Bayern. Struth bahkan mengklaim kalau Pep merusak Goetze dan hanya memainkannya di laga-laga “mudah”.

Jadi, siapa yang patut disalahkan? Pep Guardiola yang selalu bongkar pasang lineup dan tidak kapok mengulang strateginya yang itu-itu saja atau Mario Goetze sendiri yang harus lebih dewasa?


One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.