Komedi Indonesia yang Sarat Testosteron

Saya (sempat) bermimpi menjadi penulis/komedian. Nggak jauh-jauh sampai SNL deh, seenggaknya saya bisa dikenal di dunia maya. Saya mengidolakan wanita-wanita hebat seperti Tina Fey, Mindy Kaling, dan Julia Louis-Dreyfus; kalo bisa, jadi Tina Fey KW-3 versi lokal.

Tapi setelah dipikir-pikir, kalau mau masuk dunia komedi Indonesia kayaknya harus jadi Youtuber atau stand up comedian. Jalan lainnya ya lewat jalur talent, masuk agency dan nunggu panggilan casting — opsi yang ini paling ditentang sama orang tua saya. Lagian, saya juga nggak punya darah campuran bule meskipun banyak yang mengira saya blasteran. Badan saya juga nggak langsing. Kalaupun saya lulus casting, maybe it’s for the sake of jadi objek becandaan di skrip. Ogah ah.

With all due respect to Youtubers Indonesia, stand up comedian, dan aktor-aktor Indonesia keturunan bule; saya tidak menyerang kalian. Tapi itulah realitanya dunia hiburan Indonesia saat ini. Sepertinya selain Raditya Dika, belum ada lagi komedian di Indonesia yang memulai karirnya sebagai penulis (pekerjaan saya sekarang).

Hal-hal yang saya tulis di bawah ini adalah contoh ketakutan saya kalau seandainya saya ini komedian perempuan yang menjunjung tinggi nilai-nilai feminisme dan gender equality. Eh, feminisme kan mendukung kesetaraan gender, tapi mungkin saya akan dikira sama dengan keekstriman faham feminazi.

Sekian sampai di sini curcolnya. Saya nulis curcol ini sebenarnya sebagai pelengkap dari tulisannya Bonni Rambatan. Tadi pagi sempat lihat ada salah satu komika (selanjutnya saya pakai istilah ini aja ya. Pegel nulisnya) yang komplain karena tulisannya dalam bahasa Inggris. Ini deh, tak beri yang bahasa Indonesianya.

Saya takut komedi Indonesia jadi ajang pamer kejantanan. There, I said it. Kesimpulan ini saya ambil nggak hanya berdasarkan kasus video prank-nanya-ukuran-beha-abege-nya Kemal Palevi, tapi ada juga beberapa contoh lain yang saya masih ingat.

Mari kita mulai dari Kemal Palevi. Saya tahu dia sudah minta maaf dan bakal belajar dari kasus ini biar nggak terulang lagi. Tapi di kultwit minta maafnya, ada beberapa argumen yang menurut saya dan ribuan netizen lainnya lemah:

Masalahnya yang mereka pikirin saat itu adalah mereka bisa ikutan nampang di channel lo, Mz :(
Nggak apa-apa kalau mau nanya ukuran bra asalkan nggak rasis.

Dan yang terakhir, ini paling konyol sih:

Lah itu Mz tau. Pun di budaya barat juga nggak ada tuh yang ngebolehin pelecehan seksual.

Your ABG (Anak Baru Gede) fans fucking played along with your sick joke, man! Teman-teman kedokteran juga protes karena bidangnya dijadikan landasan untuk becandaan nggak etis. Kalau misalnya saya yang ditanya, mungkin saya udah nampar Mas Kemal, nggak peduli Anda terkenal atau film titit Arab vs titit Jepangnya box office (ini beneran ada di trailernya lho), atau apapun itulah pencapaian karir Anda.

Selain itu, belum lagi headline jelek macam ini yang dimuat di Tempo.co:

KENAPA KECEWA WOI????

Bahkan media ikut menyayangkan video Anda dihapus :(

Begini lho, Mas Kemal. Saya concern lho dengan Anda. Waktu jamannya saya getol ngikutin stand up comedy Indonesia, saya kira anda adalah komika yang fresh, apalagi dulu mengandalkan keabsurdannya ya Mas?

Masalahnya, sekarang argumen Anda yang absurd.

Oke deh kalau begitu!

Kedua, Uus.

Maaf udah nggak ketemu tweetnya. Sumber: Kapanlagi.com

Wah, Mas Uus ini selain judgmental, seksis, homophobic lagi. Triple Threat. Saya yakin ibu Anda bangga!

Anyway, waktu SMA dulu saya ngikutin Kpop banget lho, Mas. Sampai sekarang masih ngefans sama Big Bang sih, sama lah kayak Mas Uus. Dulu saya naksir banget sama Jay Park, tahu dia nggak? Itu lho, leadernya 2PM yang kontraknya dibatalkan agensi JYP karena pernah nulis “Korea is gay”. Google sendiri aja ya tentang kasusnya.

Oke deh, Mas Uus bilang “nangis-nangis di konser Korea sambil nangis-nangis PFFFFFFT MENDINGAN LIAT CEWEK SEXY DI TEMPAT DUGEM PAMER TETEK!!!” Tapi gini deh, cewek-cewek hijabers yang nangisin oppa-oppa itu kebanyakan niat banget lho belajar bahasa Korea. Wawasan mereka tentang dunia luarpun bertambah. Lagian, setiap orang berhak milih mau nonton Super Junior atau GOT7 atau Sulis dan Haddad Alwi. Sesuai selera mereka lah.

Tapi, saya dan Anda juga tidak berhak ngejudge cewek-cewek sexy di tempat dugem yang pamer tetek itu. Siapa tahu mereka rajin belajar dan lulus universitas dengan predikat cum laude. Siapa tahu juga mereka rajin beramal. Siapa tahu juga mereka kerja keras untuk membantu meringankan beban orang tua, dan dugem hanyalah salah satu cara mereka menghilangkan penat.

Ketiga, ini udah lama sih, tapi saya masih ingat: Ge Pamungkas.

Tweet ini berasal dari masa-masanya cekcok Aaron Ashab (sekarang Aron, kenapa harus buang satu ‘A’nya sih?) vs Youtubers/komika dan teman-teman sekompleknya. Saya kurang tahu dan nggak mau tahu sebab-musababnya karena sejujurnya, saya baca tentang kasus ini ketika duduk menunggu mulas mendera di atas toilet.

For the record, saya juga bukan fans Aaron, eh Aron. Coba dibalik yuk situasinya. Misalkan situ hobi pake softlens biru, terus gaya berpakaiannya semi-semi gender-bending gitu, terkadang pake rok di atas celana denim — eh, itu jelek banget deng kalau dibayangin.

Mas Ge mau nggak di-subtweet komika/Youtuber lain kayak gitu?

“Ada ya komika, hobinya pake softlens biru, pake eyeliner, suka pake rok di atas celana jins
….. Oooooooookkaaaaayy”

Nah, situ mau nggak? Nggak kan? Ada lagi sih tweetnya Mas Ge tentang status jandanya Gamyla Barbie, kakaknya Aron, sayangnya saya nggak berhasil menemukan tweet yang dimaksud. Memangnya ada yang salah dengan janda? Ibu saya sempat menjanda dua tahun bahagia-bahagia aja tuh! Kalau memang hubungannya nggak beres, ya kenapa harus dipaksakan? Kenapa rempong amat sih sama status perkawinan orang lain?

Ya udah. Itu kan kejadian tiga tahun yang lalu, semoga Mas Ge nggak begini-begini amat lagi ya.

“Ya udah, intinya tulisan ini apa sih? Gue males baca panjang-panjang,” — pembaca tulisan ini, kalau ada

Apa persamaannya ketiga Mas-Mas Komika di atas? Semuanya menyalahkan cewek. Apapun yang berhubungan sama cewek, kayaknya lebih rendah daripada standar kejantanan mereka.

Saya takut fans-fans Mas-Mas Komika yang tersebar dari Bekasi sampai Samarinda, Tangerang sampai Salatiga itu menganggap kalau yang Anda lakukan itu sah-sah saja. Mas-mas sekalian ini sadar nggak sih kalau segala tindak-tanduk sampai perkataan Mas ini dijadikan pedoman bagi mereka?

Saya juga takut adik-adik kita ini menganggap pelecehan seksual di bawah umur adalah hal yang lucu, menjelekkan penampilan orang lain adalah hal yang lumrah, dan bersikap judgmental terhadap orang yang nggak seperti mereka adalah perilaku yang bisa diterima.

Senyelekit-nyelekitnya mendiang George Carlin, kayaknya beliau nggak pernah mengajarkan hal-hal barusan deh. Justru saya belajar banyak dari kata-kata beliau, cek aja di sini meskipun Mas-Mas ini kayaknya sudah hapal luar kepala: https://lambangmh.wordpress.com/2009/09/09/pesan-kehidupan-dari-george-carlin/

Sudah dulu ya, curcol dari saya. Lagian saya ini apa sih, belum ada karya yang konkrit tapi sudah berani kritik Mas-Mas Komika yang sudah malang-melintang di industri hiburan Indonesia.

Tabik.


PS: This article was also published on Rappler Indonesia with some changes. Head there for a more toned down version of my *angry* rants.

PSS: This is solely my opinion. Other than Kemal’s case, I later found out the true motives behind their ~controversial~ tweets. While those reasons were mainly acceptable, but still, the last two cases could somehow justify that if you’re having a beef with someone or a group you may brought it to public for everyone to see. That also not cool.

Like what you read? Give NV Hamid a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.