Tentang kekecewaan saya waktu itu..

Menjadi orang dewasa berarti berani menghadapi perasaan sendiri dan menjalani resikonya.

Saya ingat ibu saya pernah seketika berkata kalau laki-laki yang baik adalah laki-laki yang tidak membiarkan seorang perempuan tidur dalam keadaan sedih, terlebih lagi menangis. Waktu itu saya juga kurang mengerti apa yang sedang kami perbincangkan, namun saya setuju dengan kalimat yang ia lontarkan tersebut. Tapi pada akhirnya, i find the truth kalau zaman sekarang susah ya menemukan laki-laki yang dikatakan ibu saya tadi.

I’m not going to fully spill atau menyek-menyek menceritakan sejarah kisah cinta saya. Aduh, bahkan untuk bilang “cinta” aja sudah terlalu overstatement, ya. Intinya, saya sudah pernah merasakan rasanya jatuh cinta (overstatement sih) dan memiliki seorang begitu berarti, namun pada akhirnya the “nothing really lasts forever” thing muncul dan akhirnya hilang sudah peradaban kisah cinta saya. Dari pacaran yang ditentang karena waktu itu masih 13 tahun, mencicipi pahitnya diselingkuhi, menyukai (kalau ini mencintai kali ya?) laki-laki beda agama, hingga akhirnya this one. This one, actually not that special (obv) — tapi cukup membekas.


I never fully understand what’s going on between us two, until suddenly out of nowhere dia ruined it all. Saya dan dia adalah teman kuliah, meskipun tidak begitu mengenal dekat karena dia bukan dalam lingkup pertemanan saya dan begitupun dengan saya yang juga bukan dalam lingkup pertemanan dia. I mean, i’m not that close to him and his friends meskipun ya kenal lah karena seangkatan dan sebagainya.

Dia orangnya… i don’t have any single clue sebenarnya karena tidak pernah berusaha untuk kenal juga. Bukannya saya menutup diri dan sombong, tapi memang tidak terpikirkan untuk mengenal dia, dan saya yakin dia juga menganggapnya begitu. Paling saling menyapa kalau berpapasan, tapi tindakan seperti itu juga saya lakukan kepada 229 teman seangkatan saya (dan begitu pula dengan dia). What i know is he’s nice, has lots of friends dan dia ngeband. Sisanya? Gatau.

I never also fully understand why i put so much interest on him on the first place. Maybe there are some reasons.. ya let me tell you guys the story of how it started first ya. Bermula dari saya yang ngepost lagi makan soto betawi bersama teman-teman saya di Snapgram (Snap-Instagram); ituloh story yang ada di Instagram. Nah, setelah itu entah darimana dia tiba-tiba membalas posting soto betawi saya itu. Ya.. saya tau sih dia siapa dan karena memang saya biasa saja, ya saya balas dan tanggapi. Nah, semenjak itu seketika perbincangannya jadi panjang dan banyak. Singkatnya, saya menyimpulkan bahwa dia adalah individu yang asik untuk diajak berbincang. Well, it’s not that deep, isn’t it?

Berikut-berikutnya adalah hal yang sama. Karena perbincangannya semakin seru, saya pun semakin terkesima. He’s actually sangat berbeda dari yang saya ekspektasikan. Satu kata yang menggambarkan dia? Kompleks. Dia itu tidak bisa langsung dimengerti dalam satu kali encounter. Tipikal orang yang berfikir keras untuk menemukan sebuah hasil dari pemikiran. Tipikal orang yang suka dan senang membicarakan mengenai hal-hal fundamental, layaknya kehidupan, perilaku, keteraturan, agama, politik, dan semacamnya. Apa yang dia utarakan selalu (well.. kebanyakan sih) berbobot. I don’t know, he surely impressed me on so many different levels — berbeda dari laki-laki kebanyakan. Mungkin bagian yang paling membuat saya terkesima adalah bahwa kami berdua sangat berbeda.

I do not really like talking about fundamental things, he does. I do not really like to be serious, he does. I do not like thinking that hard about something unless it’s necessary, he does. I do zero care about politics nor economy, he does. I shot some funny things about someone, he doesn’t. I am pratical, he’s complex. Cara kita berpikir dan menikmati hidup sih yang menurut saya sangat berbeda. Truth to be told, kita sudah bukan lagi berbeda tapi kita berkebalikan.

Ditambah lagi, saya waktu itu lagi dalam proses getting over dari yang sebelumnya. No, no don’t get me wrong. I’m not putting him as my second choice atau bahkan pelarian dari yang sebelumnya. He isn’t, okay? Nah karena perasaan saya yang mulai bergejolak itulah saya jadi bertingkah cukup aneh. I wanted to show the world, him especially, how i’m feeling and how happy i am. I do stupid things just to make him notice. Hal-hal bodoh yang seharusnya tidak saya lakukan, dan kemudian saya putuskan untuk tidak lakukan karena saya sadar itu konyol, namun pada akhirnya tetap saya lakukan hanya untuk mendapatkan poin dinotice seorang laki-laki. Stupid, isn’t it?


Days passed by. Singkat cerita, i did think he knew about my feelings toward him. Sahabat saya adalah sahabat dia juga, ternyata. Apalagi ya? Everything went pretty fast. Saya tahu dia menyukai perempuan lain. But on the other side, he said kalau saya juga menarik. Yang saya tahu perempuan itu — tentunya — bukan saya. Dengar-dengar yang dia suka levelnya tinggi, by that i mean super pretty dan ya.. begitulah, well.. Look at me. I’m not going to tell the details about how i feel super duper insecure when i hear that. I cried so hard that night until i feel like my tears were suffocating and i had to arrange my breath. I couldn’t sleep even when my tears were already stop falling. Saya juga bingung kenapa saya sesedih itu, ya? Padahal juga tidak ada hal yang signifikan yang terjadi antara saya dan dia.

Kalau ditanya apa yang saya rasakan setelah itu, saya merasa saya seperti dijadikan pilihan kedua. He doesn’t like me nor does he want me. Bahkan, saya merasa kata-kata dia, yang dia berkata bahwa saya menarik, saya rasa itu hanya kebohongan belaka. Dia mungkin tidak enak dengan perasaan saya, dan dengan sahabat saya, yang notabenenya adalah sahabat dia juga. Namun, kebodohan saya adalah saya tetap memutuskan untuk mengikuti saja alur ceritanya seperti apa. Toh, kami juga tidak ada apa-apa kan?


Pada akhirnya, semua cerita punya penutupnya tersendiri. Suatu malam, everything went so bad. It was awful. I swear it did. I got hurt so bad. Sakit sekali malam itu. Malam itu, sehari sebelum ibu saya dioperasi untuk mengambil tumor di payudaranya. It was late, around 12; our conversation, dan saya harus ada di rumah sakit sekitar jam 7 pagi. Malam itu adalah malam dimana dia akhirnya meluruskan banyak hal, terutama mengenai perasaan saya. Duh, bukannya saya tidak mau cerita panjang lebar dan menuangkan detilnya seperti apa, tapi untuk mengingatnya lagi saya sebenarnya masih terbawa emosi.

Singkat cerita, dia menanggapi bahwa dia setuju dengan saya yang menganggap dia hanya membuat saya menjadi pilihan kedua. The most hurtful thing adalah ketika dia berkata bahwa keberadaan saya hanya ia jadikan sebagai hal yang meninggikan tingkat kegeerannya. Setelah membaca kalimat tersebut, I feel deeply hurt. Saya merasa saya direndahkan. Saya merasa saya dihina. Banyak hal berkecambuk di pikiran saya. Sakit rasanya. I couldn’t sleep. Boro-boro tidur, i was in a shock. My eyes were so wet because i was crying so hard. I screamed so loud that my lung felt empty. Sumpah do you know that kind of crying kan? Saya sampai bergetar karena saya sesedih dan sesakit itu.

Tidak perlu waktu yang lama hingga akhirnya mata saya sembab dan bengkak. I fell down to the ground, blaming my self mengenai semua yang terjadi. I didn’t sleep at all that night. Saya berpikir mati-matian, mencari sebuah alasan mengenai mengapa saya pantas diperlakukan sedemikian rupa? What went wrong? Saya kenapa? Am i that ugly? Apa dengan alasan tersebut dia bisa seenaknya menyakiti hati saya? I thought and thought and thought. Dan i didn’t find the answers. For the record, saya paginya merasa hampa dan kemudian pergi ke rumah sakit dengan mata sembab. Untungnya, ibu saya tidak engeh tentang hal itu. Saya juga tidak mau kalau sampai dia harus tau mengenai hal yang membuat saya menangis. Not that important.


Namun, pada akhirnya, saya ikhlas. I feel empty afterwards. I don’t think i’ll be able to open my heart anymore karena hal ini. I lost all those feelings untuk merasa disayangi dan menyayangi. I feel like i don’t believe in love anymore now. Love is overrated. I don’t feel the need anymore. Saya mengecam diri saya atas kejadian malam itu. Tapi, yasudahlah. Let it be. I’m gonna find another way to be happy. Even if it gets lonely i got myself, yakan?

Lagipula, bukan salah dia juga, kan? Toh semua orang memiliki hak masing-masing untuk berpendapat dan mungkin ini adalah cara dia untuk mengemukakan pendapatnya. Mungkin dia menganggap caranya benar, tapi mungkin bagi saya caranya terlalu menyakiti. Ya.. beda-beda lah ya manusia. Maybe he just wanted to spill the truth and stopping me from wanting us to work even badly.


Afterall, i should forgive him, right? Bukan karena saya merasa saya berdosa jika saya tidak memaafkan dia, tapi like hatred, kalau terus ditumpuk akan menjadi hal yang merugikan.

Memaafkan dan melepaskan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.