Manusia

Tujuh huruf yang sempurna kemustahilannya. Fenomena terumit, teka-teki abadi, dan kompleksitas yang tak akan pernah kuat dipelajari bumi dan seisinya — barangkali hingga akhir semesta hancur dan dijadikan lagi, sebelum kemudian dilenyapkan lagi dan diciptakan lagi dari kenihilan, berkali-kali.

Tidak, tidak — tidak ada pengetahuan yang benar-benar benar tentang manusia.

Yah, memahami diri sendiri saja sudah tak mungkin, karena meskipun sudah dijalani setiap hari tanpa ada jeda selama berbelas, berpuluh (barangkali beratus) tahun pun, tetap saja ekspektasi dan logika lurus tak akan pernah dekat dengan manusia dan kehidupannya. Itu saja mustahil — apalagi memahami jiwa, pikiran, hati, kebiasaan, perasaan, masa lalu, masa depan, dan kehidupan delapan milyar manusia lainnya?

Itu baru tentang manusia lain. Belum lagi tentang segala hal yang menyertai — uang, pekerjaan, keinginan, hasrat, harta, kekayaan, sistem, politik, seni, kenegaraan, makanan, musik, amarah, sastra, pelajaran, sains, dan cinta — di mana yang terakhir tak akan pernah bisa masuk kategori masuk-akal mana pun.

Apa yang sebenarnya tersedia bagi kita di hidup ini? Apa yang kita cari, dan apa yang akan kita dapatkan? Apa yang kita rasa kita dapatkan? Apakah tak ada?

“As for me, things have started to feel a little episodic. The farther out we go, the more I find myself wondering what it is we are trying to accomplish. But if the universe is truly endless, then we are not striving for something forever out of reach.” — Captain James T. Kirk, Star Trek Beyond
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.