Meluap-luap Hingga Jauh: Tentang Kemerdekaan
Tentu saja saya ingat hari itu, ruangan itu, air mata itu.
Pertengahan bulan delapan, sepuluh tahun lalu, di sebuah aula kecil yang dingin. Pagi di luar masih berembun. Saya, lima belas tahun saat itu, sendirian duduk bersila di lantai sambil bersandar di pojok ruangan, mendengarkan keheningan pagi-pagi buta seusai upacara bendera 17 Agustus. Suasana ruangan begitu diam, membuat saya merasa tertarik ke beberapa dekade silam, saat Bapak Ibu pendahulu kita juga sedang menghabiskan hening dalam lelah, harap-harap cemas menunggu beberapa jam sebelum acara di Pegangsaan Timur dimulai pukul sepuluh tanggal 17 Agustus 1945.
Tak banyak waktu yang waktu itu mereka miliki, hanya sekian jam saja setelah sidang persiapan selesai waktu Jakarta dini hari. Naskah pidato dan Proklamasi pun dibuat, ditandatangani kilat dengan mesin tik dan kertas seadanya. Barangkali mereka merasa diburu oleh musuh yang sebenarnya tak tau siapa — karena Jepang sudah menyerah pada Sekutu; dan mungkin juga ada perasaan dikejar ketidakpastian — mau mendeklarasikan merdeka tapi belum tentu ada yang percaya, namun di satu sisi, nyawa bisa saja hilang karenanya. Juga — barangkali — ada rasa gamang, tegang karena akhirnya hari itu datang juga. Hari yang dinanti dari dua puluh, lima puluh, ratusan tahun sebelumnya. Hari yang harusnya dirayakan dan disiapkan dengan kambing guling, pesta, dan kembang api — tapi tak dapat, karena terlalu besar resiko dan kemungkinan gagalnya.
Semua serba hening, serba menegangkan.
Dingin dan hening yang sama kemudian menyadarkan saya, saat itu, bahwa semua yang dialami oleh Bapak Ibu pendahulu kita tak ada bayaran setimpalnya jika dibandingkan dengan apa yang kita (saya, lebih tepatnya) miliki saat ini. Sudah terlalu banyak harga yang dibayar di masa lalu untuk seorang anak seperti saya mendapatkan apa yang saya miliki. Tak banyak saat ini yang peduli, barangkali sudah tak relevan lagi untuk berpikir dan berkaca pada masa lalu — dan masalah-masalah saat ini mungkin lebih cocok untuk dibahas di sosial media. Sianida, pergantian menteri, yah, semacam itulah.
Namun tak demikian halnya dengan saya — setidaknya sepuluh tahun lalu. Saat itu saya tersirap habis dengan pemikiran tersebut: rasa empati yang begitu besar pada kejadian Bapak Ibu pendahulu; rasa haru, bangga, gemetar, bingung tak tahu harus bagaimana sepantasnya menjalani hidup agar dapat mengisi kemerdekaan secara layak. Saya ingat kebingungan, kegalauan, dan perasaan yang overwhelming itu membuat saya begitu emosional, berjalan tergopoh-gopoh ke arah bendera Merah Putih, mencium ujungnya yang berdebu, dan tersedu-sedan tanpa ada alasan yang memuaskan bagi rekan lain yang menatap kebingungan.
Tak jelas mengapa, dan tak bangga pula saya dengan pengalaman tersebut.
Baiknya, memang — sejak hari itu, saya tak lagi merasa gamang. Tak lagi bingung mengapa saya memiliki kesukaan yang berbeda dengan teman-teman sebaya. Tak lagi malu untuk terang-terangan bangga, malu, jujur pada bangsa ini. Tak lagi enggan membaca buku-buku sejarah. Sejak hari itu, hingga saat ini. Hingga hari ini — di mana cinta saya masih sama dengan sepuluh, bahkan belasan tahun lalu.
Tulisan ini, yang dibuat satu minggu sebelum perayaan Kemerdekaan 17 Agustus 2016, adalah salah satu ungkapannya.
Lima belas, sepuluh, lima, empat, satu tahun lalu pun, saat peringatan Hari Kemerdekaan, yang di hati tetap ucapan selamat dan syukur yang sama: selamat hari jadi, Indonesia, nama yang menggetarkan api dalam dada ketika didengar. Terima kasih sudah ada. Terima kasih sudah bertahan meski mungkin agak terseok-seok berjalan dalam putaran lari keberadaan mata internasional. Terima kasih sudah menjadi rumah yang begitu indah, alami, mentah, cantik, sederhana, tertebak, kekanak-kanakkan, dan utuh. Terima kasih sudah tak runtuh dibantai angin. Terima kasih masih memberikan tugas berat di depan pada kami yang peduli.
Untukmu, akan selalu ada seorang anak lima belas tahun yang tersedu-sedan mengucapkan syukur pada pahlawannya di bawah bendera Merah Putih yang berdebu di sudut ruangan. Menghaturkan hormat, bertekad akan membawa wangi namamu ke segala arah selama ia masih hidup. Berjanji selalu punya rasa sayang padamu yang meluap-luap hingga jauh.
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4–5 ribu nyawa — Chairil Anwar
