Sudah

‘Kamu membuat saya percaya pada waktu yang salah,’ ujar Napa pada Ama, yang balik menatapnya dengan mata nanar. ‘Tidak ada yang tahu kenapa kita harus bertemu di saat ini, instead of saat-saat lain. Tidak ada waktu yang lebih salah dari ini.’

Ini memang baru pertama kalinya Ama bertemu dengan Napa, di situasi yang aneh, di kantor yang dingin, orang sibuk lalu lalang: tapi rupanya tak mampu menghentikan keduanya untuk bisa saling merasakan hangat yang menggelitik ketika mata saling menemukan dan detak asing saling bertaut.

Ama menunduk. Ia hanya bisa menunduk saja. Hening. Gemerincing lonceng kecil yang dipasang di atas pintu berbunyi, menandakan ada tamu yang masuk ke dalam ruangan. Ama menyentuh wajahnya dengan rasa gamang yang terlalu ketara. Setengah dari dirinya berharap semua ini segera berlalu, meski setengahnya lagi berharap ia bisa saja melompat keluar dan pergi bersama Napa.

‘Tapi yang kulakukan ini normal, Nap. Aku pikir, aneh juga kalau di usiaku yang sekarang, aku tidak melakukan apa yang kamu bilang ‘salah’ ini,’ Ama marah, frustrasi, dan sedih sekaligus — terkejut sedikit melihat Napa yang langsung menggeleng dengan kuat. ‘Ini bukan keinginanmu sendiri, kan? Ini semua tuntutan orang lain. Semua orang mendukung kamu untuk melakukan ini. Tapi bukan ini yang kamu mau, kan?’

Hening lagi. Edan, batin Napa, keheningan yang memaksa karena tak bisa memberi jawaban rupanya lebih menyayat daripada diam karena sendirian.

“Sudah ya, Mas,” suara resepsionis di meja dokter hewan terlampau keras untuk keheningan Napa dan Ama, membuat mereka terhenyak, “Ini sudah bisa dibawa pulang. Memang agak lemas sedikit, tapi beberapa waktu lagi dia akan bisa beraktivitas seperti biasa.”

Ama melihat ke atas, menatap seorang laki-laki yang berdiri di depan resepsionis. “Terima kasih, Mbak,” kata laki-laki yang memilikinya itu, dengan suara dalam, “Ama sayang, ayo kita pulang?”

Pintu terbuka, Ama melangkah masuk ke dalam kerungkung besi milik laki-laki itu, dan tak mampu melihat ke belakang. Napa menutup mata dan merasakan ekornya lemah terkulai. Tak pahamlah ia, kenapa ia harus bertemu dengan Ama yang menawan dan menggetarkan di hari sterilisasi kucing cantik itu. Di hari di mana Ama tak lagi mampu menjadi kucing betina yang utuh. Hari di mana mereka terlalu terlambat untuk saling memiliki dan menyerahkan diri.

‘Ah, Am, bukankah semesta memang suka bercanda?’ tipis nadi Napa ketika menggumamnya.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.